Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia Muncul di Jogja

Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Ruang Utama Gedung PDHI, samping alun-alun utara, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja, Jumat (4/9/2020)-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo.
04 September 2020 19:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Ratusan orang mendeklarasikan diri sebagai Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di gedung PDHI, samping alun-alun utara, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja, Jumat (4/9/2020). Deklarasi KAMI Jogja digelar di tengah pandemi Covid-19.

Deklarasi KAMI Jogja sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh. Di antaranya, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin, Mantan Wakil Wali Kota Jogja Syukri Fadholi, Rochmat Wahab, Shoimah Kastolini dan eks Mantan Menteri Kehutanan pemerintahan SBY yakni MS Kaban.

Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin menyampaikan jika deklarasi KAMI Jogja dilatarbelakangi oleh cita-cita nasional yang telah diletakan oleh para pendiri bangsa. Jogja juga dinilainya menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

"Jogja menjadi saksi sejarah bagi penegakan kedaulatan bangsa dan negara yang telah dan tengah disimpangkan, diselewengkan oleh kelompok-kelompok tertentu," ujar Din Syamsuddin, Jumat (4/9/2020).

Deklarasi KAMI Jogja juga menilai jika bahwa telah dan tengah terjadi deviasi, distorsi dan disorientasi kehidupan nasional bangsa Indonesia dari cita-cita dasar yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa.

"Pancasila yang merupakan kesepakatan, ingin disimpangkan dan diselewengkan. Begitu pula, nilai, semangat dan jiwa yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang tadi dibacakan, telah mengalami penyimpangan dan penyelewengan," jelasnya.

Penyimpangan dan penyelewengan, lanjut Din, semakin menjadi-jadi sekarang ini. Terutama, karena ada sistem politik yang tidak mengamalkan sila ke-4 Pancasila. Ia mengklaim, ada pemilihan umum dan pemilihan presiden yang tidak secara sejati bertumpu pada nilai-nilai kejujuran dan keadilan.

"Saya berpendapat, jika nilai-nilai kejujuran dan keadilan tidak diperhatikan, maka yang terlahirkan dari proses pemilu itu hanyalah pemimpin yang juga tidak jujur dan tidak adil," sambung Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin juga menyinggung soal anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19. Menurutnya, anggaran pemerintah dalam penanganan Covid-19 melalui APBN 2020 di bidang kesehatan terlalu sedikit.

"Ini bukti nyata pemerintah tidak serius dan tidak bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan rakyatnya dari pandemi Covid-19. Ini melanggar pembukaan dasar UUD 1945 bahwa negara, pemerintah, berkewajiban, bertanggungjawab untuk melindungi segenap rakyat dan seluruh tumpah darah indonesia," jelasnya.

Pemerintah, lanjut Din, juga diminta untuk membuat kebijakan yang pro rakyat, daripada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

"Akhirnya rakyat membayar sendiri biaya rapid test, swab test, dan segera akan ada vaksin, rakyat juga harus membeli dengan harga mahal. Ini yang KAMI kritik, pemerintah tidak bersungguh-sungguh. Seharusnya selamatkan rakyat duluan, stimulus ekonomi kemudian," terangnya.

Din mengklaim jika KAMI adalah gerakan moral, bukan gerakan-gerakan yang lain. Tapi, katanya, gerakan moral bukan berarti jauh dari politik. "Kami adalah gerakan moral berdimensi politik dan berimplikasi politik dan bisa berpolitik, tetap berpolitik, harus berpolitik, tapi berpolitik secara moral," terangnya.

Berpolitik secara moral, lanjut Din, berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan untuk pemerataan dan untuk kesejahtetaan bersama.

"Ini yang namanya nilai-nilai moral. Kita harus melawan imoralitas. Ketika segelintir orang menguasai mayoritas aset nasional, ini adalah sebuah perbuatan imoral," tegas Din.

Deklarasi Tumbuhkan Harapan

Presidium KAMI DIY, Azman Latif mengatakan, jika bahwa warga Jogja terkenal nrimo atau menerima kondisi yang dialaminya. Hal itu seperti yang dia alami beberapa hari sebelumnya.

"Kemarin saya ketemu bapak-bapak tentang kondisi masyarakat saat ini. Jawabannya 'yo wong cilik iso ngopo' (rakyat kecil bisa apa)," ungkap Azman saat deklarasi KAMI di Ruang Utama Gedung PDHI, samping alun-alun utara, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Jogja, Jumat (4/9/2020).

Lebih lanjut, Azman menyebutkan jika kehadiran masyarakat yang hadir pada deklarasi kali ini insyaallah dapat menyirami hati masyarakat Yogyakarta. Bahkan, dia mengumpamakan masyarakat Jogja ketika disiram hujan kemarin masih tetap terasa kering.

"Ini akan menumbuhkan harapan perubahan ke depan, ketika kekuasaan di bawah bayang-bayang oligarki partai yang sudah tidak memperhatikan lagi suara masyarakat, suara pemilih. Ini merupakan harapan baru, Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia," sambung Azman.

Azman berharap deklarasi ini dapat menumbuhkan harapan baru untuk masyarakat Yogyakarta. Mengingat situasi nasional saat ini kurang kondusif.

"Semoga deklarasi ini akan menumbuhkan harapan akan membawa perubahan ke depan yang lebih baik untuk menyelamatkan Indonesia," terang Azman.