Potret Buram Pendidikan Siswa Difabel di Tengah Pandemi

Irvana Nesti, 31, duduk di kursi roda sambil memangku anaknya Muhammad Falhan Wijanarko, 6, di kediaman mereka di Rusunawa Projotamansari III, Banguntapan, Bantul, akhir Agustus lalu-Harian Jogja - Bhekti Suryani.
07 September 2020 12:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Pelajar difabel di DIY menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak pandemi Covid-19 karena berubahnya sistem pembelajaran. Belum ada solusi konkret yang membantu anak-anak difabel mengakses pendidikan dengan memadai. Ketimpangan kualitas pendidikan para anak istimewa ini semakin nyata. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Bhekti Suryani.

Irvana Nesti harus lebih bersabar selama enam bulan terakhir.  Perempuan difabel penyandang cerebral palsy atau gangguan pada gerakan otot dan postur itu harus rela berjam-jam menemani anaknya Muhammad Falhan Wijanarko belajar, kalau emosi sang buah hati sedang tak stabil.

Bocah enam tahun penyandang autis itu kadang tak bisa diajak berkompromi untuk belajar saat emosinya naik turun. “Sampai empat jam baru selesai belajar. Autis kan temperamen naik turun. Kalau dia [Falhan] enggak mau ngerjain [tugas sekolah] ya enggak mau,” tutur perempuan 31 tahun itu, ditemui akhir Agustus lalu.

Kadang Falhan tiba-tiba menangis atau berlarian ke sana kemari. Nesti yang hanya bisa berjalan merangkak kesulitan menjangkau tubuh Falhan, apalagi menenangkannya untuk belajar mengerjakan tugas sekolah. Selama ini mobilitas perempuan asal Pati, Jawa Tengah itu banyak dibantu kursi roda.

Kini pandemi Covid-19 menambah berat beban dan tanggung jawab Nesti sebagai orang tua. Sejak sekolah di DIY diumumkan ditutup karena pandemi dan mengalihkan pembelajaran tatap muka ke model belajar jarak jauh, Nesti yang harus menggantikan peran guru sekolah menemani Falhan belajar. Mulai dari mengajari menggambar, menempel gambar, melatih gerak motorik dan sebagainya. Ia pun kesulitan bila ada tugas sekolah yang harus di-print di luar karena keterbatasannya bergerak keluar rumah.

“Falhan dapat tugas dari sekolah via WA [WhatsApp] lalu tugas divideokan. Guru juga melihat lewat video call bagaimana perkembangan anak, cara mengerjakan tugas dan emosional anak,” tutur dia ditemui di tempat tinggalnya di Rusunawa Projotamansari III, Banguntapan, Bantul.

Menenangkan anak autis, mengajaknya mengerjakan tugas dan memberi wawasan pembelajaran bukan perkara mudah bagi Nesti. Selain karena kondisi fisiknya, ia mengaku hanya lulusan SD. Pekerjaan mengajari Falhan belajar menurutnya lebih gampang bila dilakukan guru tempatnya sekolah karena lebih kompeten mendidik anak dengan gangguan autis. Saat ini Falhan duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) di salah satu SLB di Giwangan, Kota Jogja. “Kami belum bisa melatih diri supaya tidak emosi. Contoh memakaikan baju, dia lebih mau dengan guru dibanding sama saya. Seperti suruh lompat, dia mau sama gurunya bukan sama saya,” tuturnya.

Belum lagi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk membeli pulsa. Sebulan Nesti dan suaminya Untung Supriadi yang juga difabel daksa harus merogoh biaya senilai Rp150.000 untuk membeli kuota Internet. Ia merasa berat dengan kondisi ekonomi keluarganya saat ini.

Selama ini, menurut Nesti tak pernah ada kebijakan atau strategi konkret dari sekolah atau pemerintah membantu anak-anak difabel belajar di masa-masa sulit seperti sekarang. Program guru berkunjung ke rumah yang digaungkan pemerintah DIY belum pernah keluarganya rasakan.

Selama ini Pemda DIY mewacanakan program guru berkunjung untuk membantu siswa yang kesulitan belajar daring. Di DIY, Kota Jogja merupakan salah satu wilayah yang menyatakan telah memulai program guru berkunjung pada awal Agustus lalu. Melalui program ini setiap sekolah akan memetakan mana saja siswa yang kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh. Apabila dalam satu wilayah ditemukan banyak siswa kesulitan belajar daring, mereka bisa dikumpulkan di balai RW. Sedangkan apabila jumlahnya sedikit guru bisa mendatangi langsung ke rumah siswa. Kendati demikian hingga saat ini belum pernah ada evaluasi terkait impelementasi dan efektivitas program tersebut.

BACA JUGA: Jokowi Ingatkan Warga Waspada Klaster Keluarga, Kantor Hingga Pilkada

Sementara itu, kesulitan belajar di saat pandemi juga dirasakan Muhammad Raihan Ukaasyah, 19. Difabel tunawicara yang kini duduk di bangku kelas II SMA di salah satu LSB di Sleman itu hanya mampu mengerjakan satu tugas sekolah dalam sehari karena keterbatasan mengakses pembelajaran daring, dari tiga tugas yang harusnya diselesaikan.

“Sekarang kan tugas lewat WA atau video, tapi enggak ada penerjemahnya untuk siswa tunawicara, hanya teks saja.  Seringkali Raihan itu enggak mengerti perintah dari gurunya, dia baru tahu kalau saya beri penjelasan,” ungkap Efi Roslianti, ibu dari Muhammad Raihan Ukaasyah.

Efi tak sepanjang waktu bersama Raihan di rumah karena bekerja di luar dari pagi hingga sore. Selama ini menurutnya tak ada aplikasi atau model pembelajaran daring yang khusus diperuntukkan bagi siswa tunawicara. Alhasil penugasan dari sekolah diberikan secara umum untuk semua siswa dengan beragam difabel. “Satu guru yang mengajar siswa difabel itu dia mengajar untuk difabel tunanetra, tunarungu macam-macam. Sehingga tugasnya juga disamakan. Padahal Raihan ini kan beda belum tentu bisa mengakses,” tutur perempuan 49 tahun itu.

Raihan menuturkan ia kesulitan memahami tugas yang diberikan gurunya. “Sulit kalau bicaranya terlalu cepat. Apalagi tidak ada penerjemah, maunya pelan-pelan saja kalau menyampaikan pelajaran. Paling sulit kalau belajar Bahasa Inggris dan IPA,” kata remaja yang pandai membuat donat batik itu kepada media ini, seperti diterjemahkan ibunya Efi Roslianti. Raut wajah Raihan terlihat bersemangat menyampaikan keluh kesahnya.

Efi sendiri berharap ada strategi khusus yang dilakukan pemerintah untuk membantu anak-anak difabel melewati masa-masa sulit seperti sekarang. Ia sangat berharap program guru berkunjung ke rumah benar-benar dilaksanakan dan memprioritaskan siswa yang paling kesulitan mengakses pembelajaran daring.

Hasil Survei

Sulitnya siswa difabel mengakses pembelajaran daring selama pandmei Covid-19 juga terungkap dalam Laporan Asesmen Cepat Dampak Covid-19 Penyandang Disabilitas yang diterbitkan Juni lalu oleh Jaringan Organisasi Difabel/Penyandang Disabilitas Respon Covid-19.

Organisasi Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel Indonesia (Sigab) merupakan salah satu lembaga yang bergabung dalam jaringan tersebut. Direktur Sigab, Soeharto menyatakan hasil asesmen itu memotret bagaimana kesulitan yang dialami siswa difabel selama pandemi.

BACA JUGA: Ahli Sebut Infeksi Virus Covid-19 Makin Lemah

Merujuk hasil survei dalam laporan itu sebagian besar peserta didik dengan disabilitas (67.97%) menyatakan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran menggunakan aplikasi maupun metode belajar online. Begitu pula jika dikaitkan dengan jenis disabilitas, sebagian besar responden dalam beragam kategori disabilitas menyatakan kesulitan dalam mengakses dan mengikuti pembelajaran melalui aplikasi maupun metode belajar online.

Hanya 20,31% yang berpendapat bahwa sistem belajar online mudah diakses dan diikuti. Beberapa alasan yang menyebabkan sistem belajar online sulit adalah: belum terbiasa sehingga butuh adaptasi, situasi di rumah yang kurang mendukung, kesulitan signal, kesulitan biaya untuk mengusahakan paket data, sistem belajar yang tidak aksesibel, serta tidak ada pendamping di rumah karena orang tua bekerja.

Pola BelajarFisikNetraTuliMentalIntelektualGandaJumlah
f%f%f%f%f%f%f%
Mudah1350415,38726,920013,8513,8526100
Sulit1517,241618,393337,9311,151921,8433,4587100
Tidak Menjawab320213,33213,3300640,00213,3315100
Sumber: Laporan Asesmen Cepat Dampak Covid-19 Penyandang Disabilitas

Dikatakannya, kesulitan pembelajaran siswa difabel  bertambah berat dan menjadi beban ganda apabila orang tua siswa juga difabel. “Kalau orang tua punya kapasitas [tidak begitu masalah], tapi kalau orang tua yang difabel ini jadi masalah ganda. Contoh ketika difabel netra kemudian orang tua juga netra, nah ini menyulitkan dalam pembelajaran membutuhkan visual gambar atau hitung-hitungan,” jelas Soeharto.

Bila kondisi ini terus berlangsung tanpa ada intervensi nyata dari pemerintah atau otoritas pendidikan, maka ketimpangan hak pendidikan anak-anak difabel akan semakin lebar. Selama ini saja, akses pendidikan anak-anak difabel acap kali jauh tertinggal dibandingkan anak-anak non-disabilitas.

“Kalau berlanjut cukup kita kehilangan kesempatan untuk pengetahuan yang memadai kepada anak-anak difabel. Untuk non-difabel sebenarnya juga ada kerugian [akibat pandemi]. Misal materi yangg seharusnya bisa 100 persen hanya bisa terserap 50 persen, untuk siswa difabel persentase [serapan pembelajaran] jauh lebih kecil,” tutur dia.

 Tak Ada Strategi Khusus

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Didik Wardaya memastikan tak ada strategi khusus untuk merepons kondisi siswa difabel di masa pandemi. Selama ini kata dia, kebijakan pendidikan disamaratakan untuk siswa disabilitas maupun tidak.

Ia mencontohkan program guru berkunjung ke rumah. Program yang sebenarnya diawali dari usulan guru-guru SLB itu ditujukan untuk semua siswa. Di sisi lain, tak adanya strategi khusus untuk difabel karena pihaknya yakin, guru-guru di DIY bisa menyesuaikan model pembelajaran dengan kondisi di lapangan. “Bagaimana guru mencari alternatif sendiri [soal model pembelajaran]. Kalau memungkinkan online ya online. Tidak semua difabel ada hambatan akademik untuk online. Seperti tunarungu banyak yang memungkinkan online dengan aplikasi,” jelas Didik Wardaya.

Ditambahkannya saat ini, selain progam guru berkunjung, pada 4 September lalu lembaganya mengeluarkan surat edaran berisi imbauan gerakan guru mengajar di lingkungan tempat tinggalnya. Imbauan itu meminta guru mengajar anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya, meski bukan murid asli guru tersebut. Namun bagaimana efektivitas kebijakan itu dan apakah bisa dipatuhi oleh semua guru, Didik belum bisa memastikan karena bukan kewajiban. “Ini imbauan bukan kewajiban tapi kami dorong ke sana. Kewajiban utama guru itu tetap memberi pelajaran siswanya di sekolah,” kata dia.

Didik menyebutkan saat ini terdapat sekitar 5.600 siswa difabel yang belajar di SLB di DIY, serta sebanyak 2.400-an siswa disabilitas yang belajar di sekolah reguler inklusi di DIY. Di luar itu masih ada sekitar 1.100-an siswa disabilitas di DIY yang belum mengakses pendidikan meski sudah masuk usia sekolah. Saat ini kebanyakan SLB diketahui berada di Sleman.

Pembelajaran Komunitas

Direktur Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel Indonesia (Sigab), Soeharto mendorong pihak terkait untuk bergerak cepat dan memberi solusi konkret untuk menangani ketimpanggan pendidikan yang dihadapi anak-anak difabel di masa pandemi. Salah satu model pembelajaran yang dianggap potensial dalam situasi saat ini menurutnya adalah model pembelajaran berbasis komunitas.

BACA JUGA: Ini Proyeksi Harga Emas Pekan Depan

Yakni pembelajaran siswa difabel dengan kelompok kecil, mengingat tak boleh ada kerumunan saat pandemi. Pesertanya kata dia, bisa terdiri dari dua atau tiga siswa difabel sehingga tak perlu menimbulkan kerumunan. Kegiatan pembelajaran bisa dilakukan di rumah salah satu siswa atau di tempat-tempat yang telah ditentukan. Hal penting lainnya memastikan kegiatan belajar komunitas mematuhi protokol  kesehatan, seperti tetap menjaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan. Selain itu menurutnya lingkungan komunitas ini juga perlu dipastikan aman dari Covid-19 atau berisiko rendah penularan. Pembelajaran berkelompok tersebut diyakini akan mudah dipahami sesama siswa difabel.

“Ini bisa jadi solusi ke depan. Saya dapat inspirasi proses belajar waktu saya masih kecil. Saya sebagai difabel waktu itu bisa mengikuti dengan baik. Ini bisa diterapkan di masa Covid-19. Memang perlu ada yang mengorganisir. Bisa ajak satu dua temannya belajar bersama saat mengakses pembelajaran online,” kata Soeharto yang juga penyandang difabel low vision itu.