Kolaborasi Donati-SoulCha di GPFE 2026 Jogja, Pameran Jadi Lebih Hidup
Kolaborasi Donati Furniture dan SoulCha di GPFE 2026 Jogja hadirkan pengalaman unik: coba furnitur sambil menikmati matcha dalam satu ruang interaktif.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.cm, SLEMAN- Kenaikan harga tanah di sekitar rencana pembangunan jalan tol mulai terjadi. Meskipun begitu, warga menilai jika kenaikan yang terjadi tidak signifikan.
Warga Tegalrejo Tamanmartani, Kalasan, Sumarno mengatakan kenaikan harga tanah sudah terjadi sejak muncul rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo akan di bangun di lokasi tersebut. Meskipun begitu, katanya, kenaikan yang terjadi masih belum terlalu signifikan.
"Kalau ada kenaikan harga tanah itu sudah terjadi, tapi belum signifikan. Artinya (kenaikan harga) masih wajar. Misalnya dari Rp2 juta per meter menjadi Rp2,5 juta per meter hanya naik Rp500.000 per meter," katanya kepada Harianjogja.com, Jumat (11/9/2020).
BACA JUGA: Sejumlah Kantor BNI di Jogja Ditutup Sementara karena Corona, Begini Penjelasan Kepala OJK
Dikarenakan sudah terjadi kenaikan harga tanah, katanya, maka menjadi hal yang wajar juga jika warga terdampak juga mengharapkan ganti untung akibat proyek jalan tol tersebut. "Makanya kami minta ganti untung itu sebagai pertimbangan adalah lonjakan harga setelah pembayaran tol itu," ujar dia.
Meskipun begitu, katanya, ia belum mendengar atau menemui adanya makelar tanah sejak rencana pembangunan jalan tol akan melewati dusun tersebut. Apalagi, katanya, sertifikat tanah di lokasi setelah konsultasi publik dilakukan dibekukan agar tidak ada proses jual beli tanah.
"Jadi makelar tanah pasti akan mikir dua kali kalau mau beli tanah di sini. Apalagi warga juga sudah tidak mau (jual)," katanya.
Warga lainnya, Suprapti juga mengakui jika harga tanah di sekitar lokasi mengalami kenaikan. Besaran kenaikan harga tanah, katanya, tergantung dari lokasi tanah yang dijual. "Kalau yang di pinggir jalan tentunya lebih mahal dibandingkan yang jauh dari akses jalan. Saat ini harga per meter sekitar Rp3 jutaan," katanya.
Terpisah, Gunawan, warga Kadirojo, Purwomartani, mengatakan jika harga jual tanah di pasaran saat ini antara Rp2 juta per meter hingga Rp3 juta permeter. Harga jual tanah tersebut, katanya, juga tergantung lokasi tanah. Semakin ke dalam atau jauh dari akses jalan harganya semakin turun.
"Jadi harga tanah di sini masih wajar meskipun kalau mengacu pada ZNT (zona nilai tanah) harga jual tanah antara Rp2 juta hingga Rp5 juta per meter," ujar Wawan.
Dukuh Temanggal 2 Purwomartani, Kalasan Ngadiyo mengatakan jika masalah harga tanah diserahkan kepada masing-masing warga. Sebagai perangkat desa, ia tidak ingin terlalu ikut campur soal harga tanah. Warga juga sudah memiliki group WA untuk konsolidasi sebagai media komunikasi dan informasi terbaru mengenai proyek tersebut.
Di wilayahnya ada sekitar 338 bidang tanah yang terdampak pembangunan jalan tol. Warga tetap berharap agar proses ganti untung tetap diberikan agar warga bisa membeli tanah dan membangun rumah kembali. "Bahkan untuk menghindari adanya makelar tanah atau perantara, warga juga sudah terus kami edukasi. Apalagi nanti pembayaran ganti untung akan ditransfer melalui nomor rekening. Jadi lebih aman," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kolaborasi Donati Furniture dan SoulCha di GPFE 2026 Jogja hadirkan pengalaman unik: coba furnitur sambil menikmati matcha dalam satu ruang interaktif.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Danantara DSI menargetkan platform tata kelola ekspor SDA mulai beroperasi 1 September 2026 dengan tiga komoditas senilai hampir US$70 miliar.
BMKG memprakirakan cuaca kota besar Indonesia pada Selasa didominasi berawan. Sejumlah wilayah berpotensi hujan ringan dan udara kabur.
Sebanyak 237 penyintas gempa Flores mulai pulang dari GOR Samador. Pemerintah menyiapkan bantuan rumah rusak hingga Rp30 juta.
Saham BMRI turun 0,47% ke Rp4.200 pada perdagangan 24 Agustus 2026 di tengah polemik rekening Supriyono alias Mas Botok.