Sejumlah Kasus Covid-19 Jogja Terjadi di Tempat Usaha, Komisi B Minta Pedagang Kecil Diberi Simulasi

Suasana los pedagang pakaian batik melayani pembeli di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (16/06/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
16 September 2020 06:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Penyebaran kasus di sejumlah tempat usaha mulai dari pedagang Lamongan, toko kelontong, PKL Malioboro, hingga terakhir pedagang gori di Pasar Beringharjo Timur menjadi catatan anggota legislatif. Dewan menilai orang lain pelaku usaha kecil juga perlu mendapatkan simulasi protokol kesehatan layaknya hotel dan restoran.

Ketua Komisi B DPRD Kota Jogja, Susanto Dwi Antoro menargetkan untuk melakukan simulasi di usaha kecil seperti pedagang pasar dan kaki lima. Menurutnya dimulai tidak hanya diadakan hotel yang dilakukan oleh PHRI.

Baca juga: Pedagang Beringharjo yang Positif Corona Dikabarkan Sempat Mengeluh Banyak Hajatan

"Saya mengapresiasi PHRI itu sudah berinisiatif untuk melakukan itu, tetapi yang terlupakan yang tidak tergabung dalam suatu kelompok," terangnya dihubungi pada Selasa (15/9/2020).

Menurut penilaian Antoro upaya Pemkot Jogja melalui dinas-dinas terkait belum tersampaikan. "Harapan kami tetap nanti tidak muncul klaster lagi di usaha kuliner yang bentuknya warung restoran kaki lima yang menjadi pintu celahnya," tegasnya. Menurutnya para pedagang kecil hati melakukan simulasi dan nanti dibentuk protokol tetapnya.

Tidak hanya itu, Antoro juga berpendapat jika upaya yang dilakukan Disperindag saat ini masih sifatnya masih umum atau universal. "Belum secara per blok atau kawasan yang saya kira perlu dilakukan pengetatan juga," ujarnya.

Baca juga: Hasil Survei BPS Sebut Dunia Usaha Beradaptasi saat Pandemi

Selain itu Antoro menyoroti proses tracking untuk orang-orang yang datang ke tempat usaha yang masih banyak diabaikan. "Pedagang ini paling wajib sebenarnya, karena datang lebih awal, harusnya ada khamtib diperankan untuk mendeteksi suhu badan dan sebagainya," tandasnya.

"Ke depannya kita dorong untuk adanya simulasi, paling tidak bisa membawa edukasi bagi pedagang baik di pasar kaki lima maupun di restoran yang hari ini masih menganggap remeh terhadap Covid-19," tambah Antoro.

Dia menilai salah satu protokol kesehatan saat ini keberadaannya dipertanyakan. "Cuci tangan keberadaannya antara ya ya dan tidak," imbuhnya. Antoro juga mencatat jika ada pasar, restoran dan kaki lima kadang mengabaikan penggunaan masker.

Meski terjadi penularan di sejumlah tempat usaha, seperti PKL Malioboro dan pedagang Pasar Beringharjo Timur dia belum menyarankan untuk penutupan. Dia sekali lagi akan mendorong untuk melakukan simulasi agar pengetatan juga menjadi penting. "Kami meyakini keterbukaan kelonggarannya ini, hari ini kami keriwuhan pasar tradisional kan sangat hebat, cuma deteksi mulai dari pagi ini penting," tandasnya.

Selain itu Antoro menyebut kehadiran kamtib di pasar akan didiskusikan dengan Disperindag. "Satpam pasar, petugas Jogoboro menjadi garda terdepan, kita harus apresiasi mereka, mereka harus difasilitasi terhadap multivitamin, rapid dan swab itu nanti kita akan diskusikan dengan Tim Gugus Tugas Kota Jogja," tukasnya.

Beberapa kasus memang telah terjadi di tempat usaha. Pada Agustus, mencuat klaster soto Lamongan, disusul toko kelontong, tak lama berselang dan September terdapat kasus PKL Malioboro. Terakhir Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi pada Senin (14/9/2020) menyampaikan satu kasus pedagang gori di Pasar Beringharjo Timur. Heroe mengatakan bahwa 18 orang kontak erat telah dicatat dalam tracing dan akan segera menjalani swab.