15 Siswa Sekolah Kesatuan Bangsa Lolos ke Kompetisi Sains Nasional

Sebanyak 15 siswa Sekolah Kesatuan Bangsa yang bakal berlaga di ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) 2020. - Istimewa/Dokumen Sekolah Kesatuan Bangsa
22 September 2020 21:12 WIB Yudhi Kusdiyanto Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Memiliki siswa berbakat yang lolos ke kompetisi tingkat nasional menjadi kebanggan tersendiri bagi Sekolah Kesatuan Bangsa. Tahun ini, sekolah swasta ini mampu meloloskan 15 siswanya ke Kompetisi Sains Nasional (KSN) 2020.

KSN sebelumnya bernama Olimpiade Sains Nasional (OSN), dan di 2020 penyelenggaraannya dilakukan Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud. Untuk bisa lolos ke level nasional di KSN, siswa harus mengikuti seleksi berjenjang di DIY.

Sekolah Kesatuan Bangsa mampu meloloskan dua siswa SMP dan 13 siswa SMA dalam seleksi KSN tingkat DIY yang digelar secara online pada Agustus 2020. Selanjutnya, 15 pelajar ini akan mewakili DIY berlaga di KSN nasional pada Oktober 2020.

"Ini membuktikan bahwa kami tetap konsisten memberikan kontribusi terbaiknya dalam mencetak generasi berprestasi, meskipun pandemi Covid-19 dan pembelajaran harus dilakukan secara online," kata Humas Sekolah Kesatuan Bangsa, Ahmad Ihsanudin, dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Selasa (22/9/2020).

Menurutnya, 15 siswa tersebut mengikuti sembilan mata pelajaran, antara lain Kimia diwakili oleh Reyhan Adhiguna; Matematika oleh M. Alan Maulana Ishaq dan Charisma Pramudya Rudiyanto; Althaaf Syaikha Nuhaad mewakili bidang Fisika, dan Biologi diwakili Hanum Rahmawati dan Yasmina Ashfa Zahida.

Untuk Astronomi diwakili M. Hazel Variansyah dan Farhan Adyansyah; Ekonomi diwakili Putri Dwi Lestari; Geografi diwakili M. Alsamtu Tita; Geoscience diwakili Glady Sajidah; dan Komputer diwakili oleh Ngata Parama Aptana dan Muhammad Kautsar Aryana.

Pembinaan dimulai sejak awal tahun dari siswa kelas VII dan X serta siswa Kelas VIII dan Kelas IX dengan memilih siswa berbakat dan punya minat mengembangkan diri untuk bergabung dengan tim olimpiade. "Untuk pembinaan siswa olimpiade dilakukan secara bertahap, anggota baru masuk ke kelas pembinaan level pemula, dan senior masuk ke kelas lanjutan," katanya.

Ahmad Ihsanudin menyatakan masa pandemi menjadi tantangan tersendiri karena banyak siswa kurang maksimal dalam belajar, karena biasanya mereka mendampatkan pendampingan secara tatap muka dari pembimbing. Selain itu, ada kendala komunikasi untuk mengevaluasi dan memotivasi siswa. Meski motivasi melalui webinar selalu diberikan, tetapi berbeda dengan penyampaian secara tatap muka. "Meski demikian, anak-anak tetap termotivasi dan fokus persiapan meski di tengah pandemi dan pelatihan daring yang tak seoptimal biasanya," ujarnya.