Aisyiyah Hamemayu Peradaban Islam Berkemajuan melalui ICAS 2020

Suasana kegiatan ICAS (International Conference on 'Aisyiyah Studies) 2020. - Ist
04 Oktober 2020 09:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kesejarahan suatu bangsa secara umum, atau organisasi secara khusus, dikenal melalui artefak dan tulisan yang dibuat dan dapat dikenali oleh generasi sesudahnya. Telah berabad sejarah umat Islam dan kebangsaan Indonesia tidak menempatkan karya-karya dan capaian kaum perempuan pada aras yang sejajar dengan kiprah kaum lelaki.

‘Aisyiyah, sebagai salah satu organisasi perempuan Muslim tertua dan terbesar di Indonesia, melalui program ICAS (International Conference on ‘Aisyiyah Studies) hendak menempatkan kontribusi perempuan dalam arus utama penulisan fakta gerakan melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para akademisi, pemerhati dan pelaku perempuan Islam, utamanya ‘Aisyiyah,serta karya tertulis yang mereka publikasikan.

Dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (3/10/2020), dijelaskan bahwa ICAS ini digagas guna menjadi media dan arena berbagi ilmu, pengalaman, dan model-model penulisan fakta-fakta Gerakan ‘Aisyiyah dan interpretasi signifikansinya. Dengan ICAS ini historiografi umat Islam dan bangsa Indonesia mengenali, menghargai dan menempatkan karya dan capaian kaum perempuan, utamanya warga ‘Aisyiyah yang sudah berkhidmat lebih dari seabad di bumi Nusantara, setara dengan yang lain.

Pada tahun 2020 ini ICAS diselenggarakan secara bersama oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA), ‘Aisyiyah Center di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) dan Asosiasi Lembaga Al-Islam dan Kemuhammadiyahan/Asiyiyah (ALAIK), dalam bentuk konferensi digital yang berseri, pada tanggal 3, 10, 17 dan 24 Oktober 2020, yang dapat diikuti oleh masyarakat yang berminat besar terhadap kiprah dan studi tentang ‘Aisyiyah (https://sites.google.com/view/icas-2020/halaman-muka).

Sejarah gerakan perempuan dan sejarah Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran dan kontribusi ‘Aisyiyah. ‘Aisyiyah yang didirikan pada tahun 1917, telah terlibat aktif dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Jogja, dengan dua orang wakilnya memberikan pidato, yaitu Ibu Siti Hajinah dan Ibu Moendijah, serta mengirimkan peserta dan kelompok choir dalam acara tersebut.

Seabad kemudian, ‘Aisyiyah tidak hanya tetap ada, tetapi semakin berkembang di seluruh pelosok Tanah Air, dengan berbagai programnya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, lingkungan dan lain-lainnya yang semakin beragam. Kini ‘Aisyiyah juga sudah memiliki beberapa cabang istimewa di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapore, Taiwan, Hong Kong, Pakistan, Mesir, Australia, United Kingdom; pada saat organisasi-organisasi lain penyelenggara Kongres di tahun 1928 sudah punah.

Daya kembang dan ketangguhan ‘Aisyiyah menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman dan persoalan patut untuk diteliti. Pada saat kita berbicara tentang ‘Aisyiyah sejatinya kita berbicara banyak:dari soal pendidikan karakter dan kepribadian para perempuan yang berkiprah di ‘Aisyiyah, pada semua level kepemimpinan maupun sebaran majelis dan program aktivitasnya, hingga model dan struktur organisasi dengan segala sistem yang dibuatnya. Dengan demikian studi tentang ‘Aisyiyah memiliki cakupan yang sangat luas dengan dimensi yang beragam.

ICAS ini didesain untuk menyediakan wahana tercapainya upaya mengindahkan (hamemayu) peradaban dengan mengarusutamakan kontribusi kaum perempuan dalam pembuatan sejarah kebangsaan dan keumatan. Pada saat yang sama, dalam jangka dekat ICAS juga diselenggarakan untuk memperingati hari Kongres Perempuan Indonesia, atau dikenal dengan Hari Ibu 22 Desember, dan memberi input pada penyelenggaraan Muktamar ‘Aisyiyahke 48, pada bulanJuli 2022.*