Bandara Kulonprogo Digadang-gadang Jadi Tempat Evakuasi Bila Terjadi Tsunami

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulonprogo. - Ist/ Dok PT Angkasa Pura I (Persero)
07 Oktober 2020 19:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon, Kulonprogo, bisa menjadi tempat evakuasi bagi warga sekitar jika sewaktu-waktu terjadi gempa tektonik yang berpotensi menimbulkan bencana tsunami.

Hal itu disampaikan PTS General Manager YIA, Agus Pandu Purnama di sela-sela simulasi bencana dalam kegiatan IOWave20 yang digelar BMKG, di YIA, Selasa (6/10/2020). "Jika nanti ada gempa yang berpotensi tsunami, seluruh gedung di kawasan YIA akan kami fungsikan sebagai tempat evakuasi tak hanya untuk petugas bandara maupun penumpang tapi juga warga sekitar," kata Pandu.

Pandu menjelaskan kawasan bandara dapat dijadikan tempat evakuasi karena lahan yang didiami lebih tinggi dari permukiman sekitar. Di samping itu bangunan yang ada di bandara ini juga dirancang untuk mampu menahan gempa berkekuatan maksimal 8,8 magnitudo.

Dijelaskan, jika nanti terjadi bencana tsunami, petugas bandara yang sudah dilatih soal mitigasi bencana akan mengevakuasi penumpang yang berada di lantai dasar terminal kedatangan ke lantai tiga yang merupakan terminal keberangkatan. Lantai itu dipilih karena memiliki ketinggian hingga 15 meter sehingga dianggap aman dari terjangan tsunami.

BACA JUGA: UU Cipta Kerja Hapus Cuti Panjang 2 Tahunan dan Libur 2 Hari dalam Sepekan

Pada waktu bersamaan, pintu di sisi barat dan timur YIA bakal dibuka sebagai akses warga sekitar masuk ke kawasan bandara. Warga kemudian dievakuasi di dua gedung yaitu Gedung Crisis center yang terletak di sisi barat YIA dan Gedung Administrasi YIA di sisi timur.

"Terkait kapasitas, untuk terminal bisa menampung sampai 6.000 orang sementara untuk Gedung Crisis Center dan Gedung Administrasi, masing-masing dapat menampung sekitar 600 orang," jelas Pandu.

YIA sendiri sudah dilengkapi dengan Sistem Penerima Peringatan atau Warning Receiver System (WRS) New Generation. Alat yang dipasang oleh BMKG ini berfungsi mendeteksi adanya gempa yang jika berpotensi tsunami akan secara otomatis membunyikan sirine peringatan.

"Alat ini bekerja secara real time, begitu ada gempa maka alat tersebut akan menunjukkan di mana letak gempa itu, dan menunjukkan apakah berpotensi tsunami atau tidak. Jika berpotensi tsunami, alat ini akan membunyikan sirine, sebagai tanda bagi petugas untuk melakukan evakuasi," ucap Pandu.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan YIA adalah bandara pertama di Indonesia yang dipasang WRS Tsunami. Alat ini dipantau langsung oleh BMKG Pusat. Adapun sistem kerja alat ini menggunakan jaringan internet yang menghubungkan YIA dengan kantor BMKG di Kemayoran, Jakarta.

"Saat terjadi gempa, alat ini akan menginformasikan kejadian itu kepada BMKG pusat termasuk menunjukkan lokasi gempa, kekuatan dan kedalamannya. Setelah itu dilakukan perhitungan untuk mengetahui apakah gempa berpotensi tsunami atau tidak. Seluruh proses ini memakan waktu maksimal 4 menit, untuk kemudian diinformasikan ke bandara agar segera melakukan evakuasi," jelasnya.

Disinggung mengenai kabar soal gempa megathrust yang berpotensi menimbulkan tsunami setinggi 20 meter di pantai selatan Jawa, Dwikora menjelaskan bahwa itu merupakan hasil riset dari sejumlah peneliti.

"Beberapa peneliti menghitung skenario terburuk potensi megathrust itu sekitar 9,1 magnitudo. Dan berdasarkan hasil pemodelan tinggi gelombang dari gempa itu bisa mencapai sekitar 20 meter, dengan kedatangan tsunami sekitar 20 meneit pasca gempa bumi," ucapnya.

Adapun berdasarkan penelitian terakhir BMKG dan ITB, rata-rata ketinggian gelombang di Selatan jawa jika terjadi gempa bumi berpotensi tsunami adalah berkisar 4,5 meter. Untuk kawasan Jawa bagian timur 12 meter dan Jawa bagian barat khususnya Banten, 12 meter.

"Namun ada penelitian lain yang khusus di Kulonprogo, bahwa skenario terburuk adalah gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,8 dengan tinggi gelombang 15 serta genangan airnya 10 meter, nah untuk bandara YIA sudah dirancang untuk mampu menahan bencana itu," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, YIA mampu menahan terjangan tsunami karena tingkat elevasi di landasan pacu sekitar 7 meter dan apron 9 meter. Dengan ketinggian itu, jika genangan yang ditimbulkan tsunami setinggi 15 meter, maka masih ada sisa genangan 6 meter. Adapun bangunan di YIA lanjutnya sudah disiapkan untuk menghadapi genangan setinggi 10 meter. "Artinya lokasi ini dapat dibilang aman untuk tempat evakuasi," ucapnya.