Advertisement
Tiga Warga Gunungkidul Meninggal Akibat Leptospirosis Awal 2026
Leptospirosis / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat tiga warga meninggal dunia akibat Leptospirosis sejak awal 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan hingga akhir Februari 2026 tercatat 13 warga terjangkit leptospirosis di wilayah yang dikenal sebagai Gunungkidul atau Bumi Handayani.
Advertisement
“Untuk sebarannya ada di beberapa kapanewon. Saat ini paling banyak di Kapanewon Playen karena ada temuan lima kasus dengan dua warga meninggal dunia akibat leptospirosis,” kata Ismono, Minggu (8/3/2026).
Fatalitas Kasus Meningkat
BACA JUGA
Ismono menjelaskan angka kematian akibat leptospirosis pada awal tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, tercatat 30 kasus leptospirosis di Gunungkidul dengan satu kasus kematian. Sementara pada awal 2026, sudah terdapat tiga korban meninggal dunia dari total 13 kasus.
Menurutnya, penyakit ini perlu diwaspadai agar jumlah kasus maupun angka kematian tidak terus bertambah.
Berkaitan dengan Kebersihan Lingkungan
Ismono menjelaskan penyebaran leptospirosis berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan, mirip dengan pola penyebaran Demam Berdarah Dengue.
Namun, leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang terdapat pada air kencing tikus yang mencemari air atau tanah.
“Bedanya kalau leptospirosis banyak disebabkan tikus yang air kencingnya mengandung bakteri leptospira,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus.
Petani Diminta Waspada
Dinas Kesehatan juga mengimbau para petani untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di sawah, terutama pada musim hujan.
Genangan air di area persawahan dapat menjadi media penyebaran bakteri penyebab leptospirosis, terlebih jika populasi tikus meningkat.
Ismono menyarankan petani menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot dan sarung tangan saat bekerja di sawah.
“Kalau ada luka di tubuh, setelah beraktivitas segera dicuci dengan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit,” katanya.
Dinkes Perkuat Deteksi Dini
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, menegaskan pihaknya berkomitmen menekan penyebaran leptospirosis di daerah tersebut.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui kampanye perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat serta mendorong fasilitas kesehatan lebih responsif dalam mendiagnosis gejala penyakit tersebut.
“Kami juga akan mendukung dengan penyediaan alat untuk deteksi dini sehingga angka fatalitas bisa dikendalikan karena pasien dapat segera tertangani dengan baik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Satpol PP Bantul Tertibkan Anak Jalanan di Simpang Wiyoro Banguntapan
- Hindari Motor, Bus Ringsek Tabrak Pohon di Ring Road Selatan Bantul
- Dishub Bantul Siapkan Pos Pantau Mudik di Jalur Perbatasan Kulonprogo
- Bocah SD Hilang di Muara Sungai Serang Kulonprogo, Tim SAR Sisir TKP
- Mudik Bareng UMY 2026: Ratusan Mahasiswa Perantau Pulang Gratis
Advertisement
Advertisement








