KABAR KAMPUS: UGM Kembangkan Mikroalga untuk Bahan Bakar Pesawat Terbang

Foto alga. - Ist/Ugm
14 Oktober 2020 16:57 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan penelitian mikroalga sebagai bahan bakar pesawat. Sejumlah industri di Jepang ikut terlibat dalam proyek Mikroalga ini.

Dikutip dari Wikipedia, mikroalga biasanya ditemukan di air tawar dan sistem laut, hidup di kolom air dan sedimen. Ini Merupakan spesies uniseluler yang ada secara individual, atau dalam rantai atau kelompok. Tidak seperti tumbuhan tingkat tinggi, mikroalga tidak memiliki akar, batang, atau daun.

BACA JUGA : HASIL PENELITIAN: Peneliti UGM Prediksi Kasus Positif 

Mikroalga secara khusus beradaptasi dengan lingkungan yang didominasi oleh kekuatan kental. Mikroalga, yang mampu melakukan fotosintesis, penting bagi kehidupan di bumi; mereka menghasilkan kira-kira setengah dari oksigen atmosfer dan menggunakan gas rumah kaca secara bersamaan karbon dioksida untuk tumbuh secara fotoautotropik.

Dua orang akademisi UGM yang meneliti mikroalga untuk bahan baka pesawat ini adalah Eko Agus Suyono dari Fakultas Biologi UGM dan Profesor Arief Budiman dari Fakultas Teknik. Selain itu didukung perusahaan dari Jepang dalam hal ini Euglena Co., Ltd yang telah ditunjuk oleh Badan Penelitian Dan Pengembangan Nasional Jepang.

BACA JUGA : Peneliti UGM: Karantina Mandiri Cegah Klaster Ponpes

“Mikroalga ini potensial untuk bahan bakar pesawat terbang karena sumbernya dari organisme hidup, di mana tingkat produktivitasnya tinggi, cepat panen, kaya sumber bahan bakar nabati, hemat lahan, dan bisa menyerap CO2,” terang Penelit Fakultas Biologi UGM Eko Agus Suyono dia dalam rilis yang diterima Harianjogja.com.

Tim peneliti UGM sebenarnya telah mengembangkan Mirkoalga sebagai sumber bahan bakar alternatif ramah lingkungan sejak 2008. Dalam riset yang melibatkan kolaborasi antar peneliti dari Fakultas Biologi, Fakultas Teknik dan Pusat Studi Energi UGM. Penelitian ini sekaligus memanfaatkan potensi mikroalga di perairan Indonesia yang jumlahnya cukup melimpah dan belum teridentifikasi.

“Kandungan lipid dan karbohidrat sebagai sumber bahan bakar layaknya senyawa karbon ini ternyata menarik minat perusahaan jepang dan badan penelitian jepang untuk bekerja sama,” katanya.

Ia menambahkan UGM selama ini terus mengoleksi mikroalga lokal yang hidup di lingkungan alam Indonesia yang tumbuh paling efisien dalam kondisi cuaca di Indonesia. Bahkan pihaknya telah mengevaluasi kandungan dan sifat lemak dan minyak yang terakumulasi pada suatu mikroalga. Melalui proyek kerja sama riset ini UGM dan Jepang akan mengembangkan pengembangan mikroalga Euglena sebagai bahan bakar pesawat terbang bisa diproduksi secara massal.

BACA JUGA : Empat Dosen Asal Jogja Ini Jadi Peneliti Terbaik Versi Sinta

Eko mengatakan untuk mengubah kandungan mikroalga menjadi sumber bahan bakar dilakukan tahap ekstraksi dengan proses isolasi dan optimasi kultivasi strain local. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi kandungan senyawa. “Selanjutnya  teknologi proses konversi untuk menjadi bahan bakar nabati hampir sama dilakukan seperti teknologi pada bahan bakar minyak dan gas. Jadi pada dasarnya sama dengan senyawa untuk migas,” katanya.

Euglena merupakan salah satu spesies mikroalga yang mampu menyerap CO2 melalui fotosintesis dan tumbuh dengan menyimpan karbon sekaligus menghasilkan oksigen. Adapun karbon yang diserap oleh Euglena terakumulasi sebagai lemak dan minyak di dalam sel. Melalui proses kimiawi, Euglena dapat mengubah lemak dan minyak menjadi berbagai jenis karbohidrat yang digunakan untuk biodiesel dan bio jet untuk pesawat terbang.

“Kami akan menggunakan Co2 yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang dapat digunakan untuk bahan baku proses fotosintesis Euglena yang diisolasi dari Indonesia yakni di DIY dan Kalimantan,” ujarnya.