Andre Rosiade Buka Peluang Maju Ketum PSSI 2027
Andre Rosiade membuka peluang maju dalam bursa Ketum PSSI 2027, tetapi mengaku kini fokus membawa Semen Padang kembali ke Liga 1.
Sosok dukun ikut menyuarakan pendapat tolak UU Omnibus Law di Bundaran UGM, DI Yogyakarta, Selasa (20/10/2020)./SuaraJogja.Id-Muhammad Ilham Baktora
Harianjogja.com, JOGJA - Ada yang berbeda dari aksi demo menolak UU Cipta Kerja di Bundaran UGM hari ini, Selasa (20/10/2020). Jika pada demonstrasi sebelumnya diikuti mahasiswa maupun buruh, kali ini aksi unjuk rasa ini diikuti oleh seorang \'dukun\'.
Sosok \'dukun\' dalam aksi demo Jogja Memanggil tolak UU Cipta Kerja itu datang lengkap dengan pakaian khasnya serta dupa dan kemenyan.
Adalah Dwi, seorang pemuda 24 tahun yang berpenampilan layaknya dukun datang untuk ikut menyuarakan pendapatnya. Bukan tanpa alasan, kehadirannya ditunjukkan dengan aksi teatrikal saat orasi berlangsung.
"Saya ingin menunjukkan bahwa setiap masyarakat saat ini sedang dalam kegundahan atas kebijakan pemerintah. Jadi rakyat kecil tak hanya petani atau buruh, dukun yang sebelumnya masih menjadi pekerjaan lain oleh warga Indonesia bisa ikut bersuara," kata Dwi ditemui SuaraJogja.id, Selasa (20/10/2020).
Menurut dia, penampilan dukun yang dia kenakan sebagai bentuk berbeda bagaimana menyampaikan pendapat. Bagi dia menyuarakan dengan cara berorasi itu perlu, namun ada hal lain yang bisa ditunjukkan sebagai identitas pekerjaan masyarakat.
Baca Juga: Generasi Muda Gunungkidul Diminta Tidak Takut Jadi Petani
"Masih ada masyarakat yang meyakini paham animisme dan dinamisme. Di tengah keadaan Indonesia saat ini yang pemerintah makin tak berpihak kepada rakyat, dukun bisa ikut bersuara," jelas dia.
Dirinya tak menampik bahwa dukun juga memiliki hak untuk bersuara.
Dwi datang dengan berbagai alat perdukunan. Mulai dari dupa, kemenyan, kembang yang dia beli di pinggir jalan. Termasuk arang dan gerabah untuk membakar kemenyan.
"Aksi teatrikal ini hanya sebagai cara lain menyatakan pendapat. Persiapan ini saya beli sendiri," ujar dia.
Aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja di Bundaran UGM, DI Yogyakarta, dihadiri ratusan massa Aliansi Rakyat Bergerak (ARB). Sejumlah mahasiswa, buruh, petani dan juga pelajar menyuarakan pendapat terhadap keresahannya tepat di saat peringatan satu tahun pemerintahan Jokowi - Ma\'aruf Amin.
Massa datang dengan membawa poster penolakan UU Omnibus Law. Beberapa spanduk juga meminta DPR segera dibubarkan. Hal itu dinilai lantaran kebijakannya tak memberi dukungan kepada warga.
Baca Juga: Ekonom Minta Jokowi Dengarkan Rintihan Rakyat Ketimbang Celotehan Bank Dunia
Orasi dilakukan di berbagai tempat di lingkup UGM. Selain di bundaran UGM, massa juga menggelar orasi di depan SMK BOPKRI 1 Jogja.
Tak hanya orasi, sejumlah diskusi kecil juga dibahas terutama masalah agraria di Indonesia. Dimana masyarakat kecil masih tertindas dengan kepentingan segelintir orang.
Pantauan SuaraJogja hingga pukul 16.35 wib, massa masih memenuhi lokasi bundaran UGM. Kepolisian juga masih berjaga dan menutup akses jalan ke arah bundar UGM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Andre Rosiade membuka peluang maju dalam bursa Ketum PSSI 2027, tetapi mengaku kini fokus membawa Semen Padang kembali ke Liga 1.
PBNU menetapkan 557 pemilik hak suara dalam DPT Muktamar Ke-35 NU. Sebanyak 590 peserta diverifikasi untuk mengikuti muktamar di Jombang.
BI menyebut Kartu Kredit Indonesia atau KKI menjadi alternatif pembayaran digital dengan fasilitas penundaan pembayaran sesuai jatuh tempo.
PSEL Bekasi resmi dibangun dengan investasi Rp3 triliun. Proyek ini ditargetkan mengolah 500.000 ton sampah per tahun dan menghasilkan energi hijau.
Kabut asap karhutla mengganggu 10 penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Jarak pandang sempat turun hingga 200 meter
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Rabu (26/8/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis