Penumpang Becak dan Andong di Jogja Meningkat saat Liburan

Kusir andong menunggu penumpang di kawasan Malioboro. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
01 November 2020 20:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Cuti bersama dan libur Maulid Nabi Muhammad berdampak cukup besar bagi perekonomian wisata. Tak hanya penyedia jasa akomodasi dan pedagang oleh-oleh, tukang becak serta andong juga tuai keuntungan dari libur panjang kali ini.

Salah satu kusir andong di kawasan Malioboro, Maryanto mengaku bahwa libur kali ini cukup berdampak terhadap pengunjung yang menyewa andongnya. Selama pandemi Maryanto paling banter angkat satu penumpang sehari, itu pun lebih banyak ia tak dapat penumpang satu pun sehari.

"Banyak blong-nya, seminggu berangkat naik empat kali, yang dua hari blong, ada penumpang paling satu, kalau udah blong dua hari biasanya udah stop gak berangkat lagi," tuturnya pada Minggu (1/11/2020).

Situasi ini jelas berbeda dengan hari-hari biasa di luar pandemi, Maryanto bisa angkat penumpang minimal satu dua penumpang setiap harinya. Saat pandemi, dapat penumpang saat sekali naik saja sudah syukur.

Adanya libur ini membuat andong Maryanto jadi sering beroperasi. Dia menuturkan pada libur kali ini dia bisa membawa lima penumpang dengan rute dan jarak bervariatif. Dimana dalam satu rutenya Maryanto bisa kenakan tarif Rp70.000 - 100.000 tergantung jarak tempuhnya. "Kalau libur kaya gini minimal ya bawa uang Rp300.000, nanti bisa buat beli pakai kuda Rp50.000, soalnya selama pandemi paling saya kasih makan rumput dari ngarit di sawah," tuturnya.

Kenaikan penumpang juga jelas dirasakan salah satu pengemudi becak yang biasa dipanggil Man. Diutarakan Man, pandemi membuat becaknya nganggur selama kurang lebih lima bulan. Dia pun terpaksa beralih profesi sebagai buruh proyek untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tak beda dengan kusir andong, sebelum pandemi setiap hari pasti ada penumpang meski pun hanya satu dua. Namun saat pandemi datang becak yang dikemudikan Man sering blong saat sedang mangkal tak dapat penumpang satu pun. "Kalau liburan ini berdampak bangetlah, bisa sampai 10 kali narik," ujarnya. Dalam situasi liburan semacam ini paling tidak Man bisa mengantongi Rp200.000 tiap harinya.