Hari Wayang Nasional, Pentas Wayang Angkat Tema Nasionalisme

Dalang sedang mementaskan wayang kulit dari depan layar dalam kalaborasi 12 dalang dengan tema kepahlawanan yang digelar Dunas Kebudayaan Bantu, di Balai Desa Patalan, Bantul, Sabtu (7/11/2020) malam. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
08 November 2020 07:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Pertunjukan wayang kulit dengan menghadirkan 12 dalang yang digelar pada Sabtu (7/11/2020) malam di Balai Desa Patalan Bantul mengangkat tema kepahlawanan dan nasionalisme. Pertunjukan wayang kulit ini merupakan bagian dari memperigati Hari Wayang Nasional yang jatuh pada 7 November.

Kepala Seksi Seni dan Film, Dinas Kebudayaan Bantul, Alib Biyono mengatakan pentas wayang kulit dikemas dengan pertunjukan kontemporer dengan menghadirkan 12 dalang dewasa. Ke-12 dalang tersebut yang naik panggung hanya tiga orang, sementara sisanya merupakan asisten dalang yang berada di belakang layar namun tetap berperan.

Sebelumnya pertunjukan tiga dalang utama dan sembilan asisten dalang di belakang layar sudah digelar 24 kali namun pementasan konvensional klasik, “Kami berikan kesempatan Persatuan Pedalangan Indonesia [Pepadi] Bantul membuat sebuah karya wayang kontemporer dalam rangka Hari Wayang Nasional,” kata Alib.

Pertunjukan wayang kulit kontemporer tersebut, kata Alib, mengangkat cerita Ampak-ampak Manduro. Kisah tersebut menceritakan kondisi negara Manduro yang dalam keadaan krisis. Kemudian ada tokoh yang ingin menggulingkan kekuasaan Raja Manduro. Ada tokoh-tokoh pahlawan kemudian bisa mengalahkan tokoh-tokoh jahat.

“Temanya memang kepahlawanan, epos nasionalisme memang konsen pertunjukan wayang tetap ada pesan-pesan moral yang bisa dipetik sesuai tema implementasi nilai luhur masyarakat. Nilai bisa diimplementasikan dalam tata karama, sopan santun, etika ajaran modal dan banyak lagi nilai. Kali ini pesannya menumbuhkan jiwa nasionalisme,” kata Alib yang juga bagian dari sutradara dalam pertunjukan wayang kulit dengan 12 dalang tersebut.

Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni, Dinas Kebudayaan Bantul, Slamet Pamuji mengatakan pertunjukan wayang kulit dengan 12 dalang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Wayang Nasional. Sebelumnya atau Sabtu pagi, juga sudah digelar pementasan 10 wayang cilik dan remaja.

Kemudian malam harinya tiga dalang dan sembilan asisten dalang yang berkalaborasi mementaskan pertunjukan wayang kulit. “Ini wayang kreasi karena disitu ada kemasan sehingga terjadi dialog antar dalang mengupas cerita sekaligus hiburan,” kata Slamet. Ia berharap pementasan wayang tersebut menjadi tontonan menarik yang menghibur sekaligus menjadi tuntunan bagi masyarakat.

Hari Bersejarah

Slamet mengatakan, wayang kulit menjadi satu bagian kehidupan masyarakat indonesia terlebih lagi masyarakat Jawa dan sudah diakui dunia sebagai kekayaan Indonesia. Menurut dia Hari Wayang ini merupakan hari bersejarah bagi dunia pewayangan nasional sekaligus sebagai bentuk apresiasi masyarakat wayang oleh masyarakat interanasional.

“Kita diingatkan kembali ada satu hasil karya anak manusia berupa benda wayangnya dengan segala perlengkapannya dan warisan tak benda sebagai sebuah seni pertunjukannya,” kata Slamet.

Lebih lanjut Slamet mengatakan, wayang menjadi satu media untuk menyampaikan pesan pada masyarakat yang dikemas dalam sebuah cerita yang dibawakan oleh dalang. Disamping ada kreasi, namun wayang juga sumber edukasi. Ia berharap dunia pewayangan di Bantul tetap lestari dan banyak regenerasinya.