Merawat Keistimewaan Melalui Peningkatan Kemandirian Desa

Rembag Kaistimewan: Desa Mandiri Budaya sebagai Salah Satu Pilar Keistimewaan DIY di Kompleks Kepatihan, Selasa (10/11/2020). - Harian Jogja/Hery Setiawan
10 November 2020 21:57 WIB Hery Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Paniradya Kaistimewan menggelar dialog bertajuk Rembag Kaistimewan: Desa Mandiri Budaya sebagai Salah Satu Pilar Keistimewaan DIY di Kompleks Kepatihan, Selasa, (10/11/2020). Dalam dialog ini dibahas  rencana penetapan desa mandiri berbudaya melalui pemanfaatan dana keistimewaan.

Kasubbid Perencanaan Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan, Edi Buntoro mengatakan sudah ada 10 kandidat desa yang akan dicanangkan sebagai Desa Mandiri Berbudaya. Targetnya pada tahun-tahun mendatang jumlah kandidat desa akan bertambah.

“Tahun ini ditargetkan sekalian dengan yang 2019 jadinya 10 desa. Kalau mengikuti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah [RPJMD] yang berakhir 2022, targetnya bisa sampai 20 desa. Bisa saja lebih banyak, tergantung bagaimana pilar project 10 desa ini bisa lancar dan sukses,” katanya.

Edi melanjutkan, pada 2021 juga akan akreditasi Desa Mandiri Berbudaya yang disokong lewat empat pilar keistimewaan. Yakni, desa pariwisata, desa budaya, desa prima dan desapreneur. OPD yang terkait dengan masing-masing pilar akan ikut mendorong agar target dapat segera tercapai.

“Pastinya nanti ada tim penilai. Tahun ini ada 10 desa. Tahun selanjutnya, kalau normal nanti lima. Lalu selanjutnya bisa saja lima juga atau mungkin bisa lebih. Banyak yang ingin jadi Desa Mandiri Budaya,” kata Edi.

Desa Mandiri Berbudaya merupakan penobatan terhadap desa punya potensi tinggi. Sebagai wujud dukungannya pemerintah memberikan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang bersumber dari Dana Keistimewaan. Masing-masing desa, menurut Edi besaran bantuannya berbeda. Bergantung dari karakteristik atau ciri khas desa. “Kemungkinan satu desa dapat Rp1 Miliar,” ujar Edi.

 

Menyokong Tiga Aspek

Kabid Pelayanan Koperasi Kewirausahaan, Koperasi dan UKM, Dinas Koperasi dan UKM DIY, Wisnu Hermawan mengatakan bahwa Desa Mandiri Berbudaya punya tiga aspek, yakni ekonomi, sosial dan budaya. Jajarannya mendapat peran untuk menyokong aspek ekonomi tersebut.

Desapreneur dan desa prima mungkin skornya gak besar. Tapi, untuk penumbuhan aspek ekonominya punya nilai yang diperhitungkan. Sejak konsep awal desapreneur ditumbuhkan untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Itulah kenapa desapreneur digandeng untuk mendukung Desa Mandiri Berbudaya,” kata Wisnu.

Ia melanjutkan, pendekatan ekonomi terhadap Desa Mandiri Berbudaya punya peran penting. Masyarakat akan dipacu untuk mandiri dengan membangun kekuatan ekonomi skala desa. Soal platform, menurut Wisnu bisa lewat UMKM, BUMdes ataupun koperasi.

Sebagai tahap awal, jajarannya akan melalukan asesmen untuk mencari potensi sebuah desa. Namun begitu, aspek kebudayaan tetap menjadi bahan pertimbangan. Lewat kajian tersebut akan disimpulkan soal tahapan kesadaran wirausaha sebuah desa.

“Statusnya dapat dilihat status preneur-nya seperti apa. Apakah sudah pada tahap penumbuhan, pengembangan atau maju? Kalau dalam tahap penumbuhan, kita akan berikan pendampingan dulu,” ujarnya.

Selanjutnya, Desa Mandiri Berbudaya juga akan melalui tahap pengembangan ekonomi. Setiap produk maupun potensi yang mereka punya punya peluang besar naik kelas. Soal pemasaran juga tak luput dari perhatian. Masyarakat desa akan diajarkan cara pemasaran produk unggulan desa, baik pemasaran luring maupun daring. (ADV)