Begini Kata Sultan soal Zona Merah Corona di DIY

Sri Sultan HB X - Harian Jogja/Lugas Subarkah
23 November 2020 20:37 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Wilayah dengan zona merah di DIY semakin banyak sehingga pengetatan protokol kesehatan perlu dilakukan.

Pemda DIY akan memperketat kebijakan dalam pemberian sanksi pada pelanggar protokol kesehatan (prokes) COVID-19. Hal ini menyusul ditetapkannya DIY sebagai zona merah penyebaran COVID-19.

Kasus positif COVID-19 di DIY pun sudah mencapai 5.219 kasus. Setiap hari ada tambahan kasus baru di atas 50 kasus. Senin (23/11/2020) misalnya, ada tambahan 82 kasus baru.

BACA JUGA: Hari Ini Jogja Tambah 82 Kasus Covid-19

"Ya kita ketat-i, itu prinsip. Biar rapat dulu nanti programnya diperketat sesuai rapat gugus tugas," ujar Gubernur DIY Sri Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin sore.

Menurut Sultan, saat ini warga mulai lalai dengan adanya pandemi COVID-19. Akibatnya, penyebaran COVID-19 makin tinggi di DIY dari hari ke hari.

"Kalau masyarakat sendiri, rumangsane [mengira] [covid-19] wis ora ana [sudah tidak ada. Weruh [melihat] Malioboro ramai, dikira wis ora ana Covid-19, ya naik [kasusnya]," ungkapnya.

Sementara, Sekda DIY Baskara Aji mengungkapkan, zona merah penyebaran COVID-19 di DIY lebih banyak di tingkat kecamatan. Sedangkan secara keseluruhan DIY masih masuk ke zona kuning dan oranye.

"Tapi beberapa kecamatan memang merah," ujarnya.

Karenanya, Pemda melakukan sejumlah persiapan dalam penanganan fenomena ini.

Di antaranya operasi penegakan hukum harus diperkuat bagi pelanggar prokes. Sebab, ada kecenderungan masyarakat lalai pada prokes.

Pemkab kabupaten/kota bisa saja menerapkan sanksi sosial muapun finansial bagi pelanggar prokes.

Sebab, sanksi sosial bisa saja tidak cukup diberlakukan.

"Kalau sanksi menyapu kan sudah bersih, ya sanksi finansial bisa saja," tandasnya.

Pemda juga menyiapkan shelter dan rumah sakit dalam penanganan pasien COVID-19 yang makin banyak.

Pemda mengecek kesiapan tempat tidur dan tenaga kesehatan di rumah sakit.

"Ada kemungkinan nambah shelter kalau memungkinkan karena nambah tidak hanya bed, tapi juga dokter dan tenaga kesehatan, harus kita cari. Kita mau bertemu pimpinan rumah sakit," imbuhnya.

Sumber : Suara.com