Sastrawan Jogja Iman Budhi Santosa Meninggal, Cak Nun: Mas Iman Tidak Pernah Mati

Sastrawan Iman Budhi Santoso - JIBI/Bisnis.com
12 Desember 2020 13:17 WIB Syaiful Millah Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dunia sastra dalam negeri kehilangan salah satu penggawa terbaiknya ketika Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada Kamis (10/12/2020). Sahabat karibnya, Cak Nun mengenang sosok Iman sebagai pejuang sejati.

Dalam video yang ditayangkan kanal Youtube CakNun.com Jumat (11/12) dia menyampaikan ikhlas dan legowo bahwa Iman meninggal dunia. Tetapi menurutnya tokoh sastra itu juga tidak akan pernah mati.

"Kalau seseorang sudah kita bawa dari kehidupan ke kuburan, menurut Allah itu sudah terputus artinya tidak bisa makan lagi, tidak bisa nulis lagi. Tapi Mas Iman tidak pernah mati. Tidak matinya bergantung pada kita yang masih hidup, kita harus menghidupkan jariahnya Mas Iman," katanya.

Dalam video itu, Cak Nun menyebut telah mengenal Iman selama 51 tahun. Dia mengaku menjadi saksi hidup perjalanan sosok Iman yang telah mencapai, mengalami, dan melakukan banyak hal yang belum pernah dilakukan olehnya dan kebanyakan orang.

Dia melanjutkan bahwa Iman memiliki manfaat yang sangat besar dan jariah yang sangat luas. Menurutnya, kesetiaan, ketekunan, dan kesungguhan Iman dalam mengurusi tugas hidupnya sangat lah luar biasa.

Oleh sebab itu, Cak Nun mengaku sangat kehilangan beliau, begitu juga dengan seniman Yogyakarta dan Indonesia. Mengingat sosok Iman yang merupakan salah satu guru terbaik dalam sastra dalam negeri.

"Kita ikhlaskan, kita pulangkan. Dan belajar untuk berjuru kepada Mas Iman tanpa berhenti, sampai sekarang pun kita tetap belajar kepada beliau dari puisi, tulisan, dan essai beliau," katanya.

"Masi Iman adalah orang yang hatinya mulia, pikirannya jujur, dan seluruh jiwanya dipenuhi pertimbangan berdasarkan kehendak Allah SWT," ujar Cak Nun.

Seperti dikutip Wikipedia, Iman Budhi lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 28 Maret 1948. Dia dikenal sebagai IBS. Dia adalah seorang penulis Indonesia yang berbasis di Jogja.

IBS dididik dalam bidang pertanian, tetapi mengembangkan kemampuan sastra dari usia muda. Pada 1969, ia membantu pendirian Persada Studi Klub. Kemudian menerbitkan sejumlah karya, yakni kumpulan puisi, novel, dan cerita pendek. Puisinya dianggap memiliki pengaruh budaya Jawa yang kuat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia