Hujan Sebabkan Longsor di Jogja, Banyak Titik Rawan Tak Termonitor

Warga menunjukKan lokasi longsor di Tompeyan, Tegalrejo.-Harian Jogja - Catur Dwi Janati
14 Desember 2020 18:07 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Hujan yang mendera Kota Jogja akhir pekan lalu mengakibatkan salah satu titik di Kemantren Tegalrejo longsor. Durasi hujan yanh cukup panjang dan lokasi yang dekat dengan tebing sungai diduga jadi penyebab utama longsor terjadi.

Camat Tegalrejo, Taukhid menjelaskan kronologi kejadian longsor yang terjadi di wilayahnya tepatnya di RT7/RW3 Tompeyan, Kalurahan Tegalrejo, Kemantren Tegalrejo. Taukhid menceritakan jika longsor terjadi pada Minggu (13/12/2020) malam sekitar pukul 19.30 WIB. Intensitas hujan yang cukup lama disinyalir membuat tebing yang berada tepat di belakang rumah warga ambrol.

"Karena hujan yang cukup deras sehingga menyebabkan tanah yang disitu labil. Karena dulu disitu bekas tumpukan sampah, labil kemudian longsor. Tapi itu lokasi di tepi langsung Sungai Winongo, yang longsor tebingnya," terangnya pada Senin (14/12/2020).

Taukhid melanjutkan jika longsor terjadi di tebing dengan panjang kurang lebih 12 meter dan ketinggian sekitar 10 meter. Dampaknya satu rumah yang ada di atasnya retak. Terdapat retakan di ruang dapur yang menempel langsung dengan bangunan induk. "Kemudian hari ini sudah dikerjabaktikan untuk melepas kaitan [usuk dan genting] bangunan dapur dengan bangunan induknya agar tidak menyeret bangunan induknya, itu untuk dapurnya. Istitlahnya dibongkar sekalian biar tidak narik bangunan utama," jelasnya.

Padahal di rumah yang terdampak longsor disebutkan Taukhid tinggal seorang lansia dengan anaknya. "Tapi di sebelahnya kan ada anaknya yang lain. Jadi ketika malam tinggal di tempat anaknya yang lebih aman, di sebelahnya tapi tidak langsung berhimpitan dengan sungai masih ada space terbukanya," ujarnya.

Selain hujan, lokasi bangunan yang mepet dengan tebing sungai ditenggarai jadi sebab makin tingginya potensi longsor. "Memang sudah mepet cuma sebelumnya di situ ada rumpun bambunya, tapi kebetulan rumpun bambunya longsor. Jadi pondasi rumahnya itu mepet dengan tebingnya juga. Cuma dulu ada pengaman rumpun bamabu," tambah Taukhid.

Tingginya potensi longsor hampir di area Tegalrejo, tak dibarengi dengan monitoring yang baik. Taukhid menututkan kalau sejauh ini potensi longsor malah tidak termonitor dengan baik. "Kalau wilayah Tegalrejo hampir merata itu punya potensi semua karena masih banyak yang belum bertalut tebingnya, kemiringan ekstrEm, ketinggiannya juga cukup tinggi rata-rata di atas 10 meter, hampir dikatakan rawan semua,"ungkapnya.

"Antisipasi kita memberikan imbauan agar ketika hujan deras [warga] agar tetap waspada sebisa mungkin untuk tidur agak jauh dengan bibir sungai. Artinya kalau rumahnya agak mepet [sungai], tidurnya di kamar agak jauh dari tebing atau bibir sungai. Kemudian juga kerja sama KTB yang ada wilayah untuk selalu monitor perkembangan situasi terkait debit air maupun potensi longsor. Kita baru koordinasi juga dengan BPBD agar bisa mendapatkan penanganan darurat khususnya pentupan lokasi dengan terpal untuk mencegah longsor tambahan," pungas Taukhid.

Sementara itu Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Jogja, Bayu Wijayanto membenarkan jika hujan lebat dan aliran sungai deras menyebabkan longsor dengan tinggi 15 meter, lebar 5 meter dan panjang 20 meter. Sejauh ini satu rumah dengan tiga KK berisikam 10 jiwa terdampak akibat longsor. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, saat ini kebutuhan yang mendesak ialah terpal.