Libur Natal, Pantai Glagah Sepi Kunjungan

Sejumlah wisatawan menikmati pemandangan saat Matahari tenggelam di pemecah ombak Pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo, belum lama ini. - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
28 Desember 2020 06:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pandemi Covid-19 berdampak pada jumlah kunjungan di Pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo. Selama libur Natal 2020, jumlah wisatawan yang datang merosot tajam.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Kulonprogo, Aris Widiatmoko mengatakan kondisi Pantai Glagah selama libur Natal cenderung sepi. Dari pemantauan personel SRI di lokasi pada Jumat-Minggu (25-27/12), tidak terlihat adanya kepadatan wisatawan.

Padahal, setiap libur Natal pantai ini selalu disesaki oleh pengunjung, baik pelancong dari Kulonprogo maupun luar daerah. Menurutnya, hal ini imbas dari pendemi Covid-19. "Natal tahun ini lebih sepi, memang ada kenaikan kunjungan dibanding hari biasa, tetapi tetap jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya," kata Aris kepada wartawan, Minggu.

Sepinya kunjungan dibuktikan dengan rendahnya jumlah wisatawan yang tercatat di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Pantai Glagah. Berdasarkan data TPR, sejak H-1 Natal sampai Minggu siang jumlah pengunjung berkisar 800 orang per hari. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu yang mencapai 4.000 orang per hari.

Adapun pelancong yang datang ke Pantai Glagah sebagian besar merupakan warga lokal DIY. Untuk wisatawan dari luar wilayah terhitung hanya beberapa orang. Hal itu diketahui dari nomor polisi kendaraan yang masuk.

Selain Pantai Glagah, wisata lain juga bernasib serupa. Salah satunya jip wisata yang ada di berbagai destinasi wisata alam di kawasan Perbukitan Menoreh.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kulonprogo, Joko Mursito mengatakan jajarannya mendapat banyak laporan dari pengelola jip wisata yang merugi di libur Natal 2020. Pesanan jip wisata oleh wisatawan luar daerah banyak dibatalkan. Pembatalan terjadi karena banyak wisatawan yang batal datang lantaran adanya syarat rapid test antigen bagi warga yang hendak masuk ke DIY. "Begitu aturan itu muncul banyak pesanan jip wisata yang dibatalkan," kata Joko.

Joko menyebut kerugian yang diderita pengelola mencapai belasan juta rupiah. "Ada yang sampai Rp15 juta seperti yang dialami pengelola jip di kawasan Pemandian Clereng," ujarnya. Meski begitu, Joko berharap pendapatan pengelola jip bisa tertutup dengan kunjungan wisatawan lokal. Menurutnya, untuk kunjungan wisatawan lokal masih normal karena tidak ada kewajiban syarat rapid test.