DIY Persiapkan Migrasi TV Digital

Modi, Maskot TV Digital
22 Maret 2021 08:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Migrasi TV analog ke TV digital di Indonesia dilakukan secara bertahap mulai 2021. DIY menjadi salah satu dari 12 provinsi yang siap menyongsong program tersebut.

Pemda DIY melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY menyiapkan pelbagai hal untuk menyukseskan proses migrasi. Salah satunya memastikan masyarakat di Bumi Mataram benar-benar paham tentang pentingnya program ini serta mengerti manfaat yang bisa diperoleh jika beralih ke TV digital.

"Ya kami memang punya program-program terkait dengan sosialisasi tentang bagaimana TV digital itu dan bagaimana masyarakat bisa menikmatinya nanti," kata Kepala Diskominfo DIY, Rony Primanto Hari, Sabtu (20/3).

Rony menjelaskan digitalisasi siaran TV bakal memberi manfaat pada dua sektor, yakni masyarakat dan industri penyiaran.

Bagi masyarakat, manfaat yang diperoleh berupa kualitas gambar dengan resolusi tinggi dan suara yang lebih jernih, selain itu juga akan lebih banyak pilihan saluran televisi yang bisa dinikmati. Manfaat itu dapat dinikmati secara cuma-cuma alias gratis seperti menonton TV analog, karena proses digitalisasi penyiaran dilakukan pada penyiaran tidak berbayar atau biasa disebut free to air (FTA).

Pada industri penyiaran, manfaat yang didapat yaitu terbukanya peluang bagi pengusaha untuk membuka stasiun TV baru. Hal ini memungkinkan karena setelah beralih ke sistem digital, metode penyiaran nantinya tak lagi menggunakan frekuensi radio, yang saat ini penggunaannya sangat terbatas.

"Nantinya dengan sistem digital yang menggunakan Mux [Multiplexser], satu stasiun TV dapat memancarkan siaran hingga 12 stasiun TV, sehingga akan lebih menghemat pengeluaran stasiun TV. Dengan begitu dapat menumbuhkan stasiun-stasiun TV baru karena kegiatan penyiaran jadi lebih mudah dilakukan," jelas Rony.

Di DIY kata Rony terdapat lebih dari 10 stasiun TV, dengan dua di antaranya telah memiliki piranti Mux. Dua stasiun TV itu adalah TVRI dan Metro TV. Nantinya Stasiun TV di luar dua nama itu bisa melakukan siaran lewat Mux dengan sistem sewa.

"Dengan begini stasiun TV apalagi yang baru mau buat, itu tidak perlu membangun infrastruktur tower pemancar, cukup gabung ke sistem Mux yang sudah ada. Ini juga jadi manfaat bagi stasiun TV baru karena tak perlu keluar biaya pembangunan tower," kata Rony.

Ketua KPID DIY, Dewi Nurhasanah mengatakan migrasi TV digital sudah seharusnya dilakukan untuk mengimbangi teknologi yang semakin berkembang. Karena itu setiap lembaga penyiaran dalam hal ini televisi perlu mendukung program ini.

Di samping karena tuntutan zaman, migrasi ini kata Dewi juga sebagai upaya menghemat penggunaan spektrum frekuensi radio yang selama ini digunakan lembaga penyiaran baik itu stasiun televisi maupun radio.

Dewi mengatakan digitalisasi TV di DIY sangat memungkinkan untuk terlaksana. Salah satu alasannya karena wilayah DIY tak terlalu luas.

Bantuan STB

Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat pada program migrasi TV analog ke digital, Pemerintah Pusat akan menyalurkan bantuan berupa alat bantu penerima siaran digital berupa kotak decoder yang disebut set top box (STB) kepada masyarakat kurang mampu.

"STB akan diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemda DIY untuk dibagikan ke masyarakat. Hanya saja nanti akan ditentukan sasaran penerimanya, prioritasnya untuk keluarga kurang mampu, yang belum memiliki TV digital," ujar Rony.

Rony menjelaskan penyaluran bantuan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan program migrasi secara bertahap mulai Agustus 2021 mendatang. STB yang dibagikan itu berjumlah 40 juta unit untuk seluruh Indonesia. Ditargetkan program ini bisa kelar paling lambat akhir November 2022.

Selanjutnya akan ada program Analog Switch Off (ASO) atau penonkaktifan siaran TV analog. "Semua TV analog nantinya dimatikan dan kita berganti ke TV digital," ucapnya. (ADV)