34 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Jogja dalam Dua Bulan

Ilustrasi. - Freepik
28 Maret 2021 14:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Selama Januari sampai Februari 2021, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY (DP3AP2) Kota Jogja mencatat 34 aduan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebanyak 31 kasus terjadi pada perempuan, dan tiga lainnya terhadap laki-laki.

Dalam kategori usia, 13 kasus menimpa anak yang berusia di bawah 18 tahun. Dalam status pernikahan, 19 kasus terjadi pada orang yang telah menikah. Dari sisi hubungan, 17 kasus terjadi dalam hubungan suami-istri. Dari sisi tempat terjadi kekerasan, 26 terjadi di rumah pelaku, lima di rumah korban, dan tiga di tempat umum.

Apabila melihat dari segi penyebab kekerasan, 19 kasus berasal dari karakter pelaku, sembilan berasal dari kondisi ekonomi, lima kasus berasal dari pola asuh orang tua, dan satu kasus berasal dari hobi pornografi dari pelaku.

Baca juga: Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021, Polri Akan Gelar Operasi Ketupat

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan Anak (UPT PPA) DP3AP2 Kota Jogja, Enik Hambanari, kekerasan terhadap perempuan kebanyakan berupa kekerasan dalam rumah tangga. Adapula kekerasan berupa meninggalkan istri. Alasan suami kebanyakan pergi bekerja.

“Kemudian [istri] tidak tahu alamat suaminya. Delapan tahun meninggalkan istri, alasannya kerja,” kata Enik saat ditemui di sela-sela acara di Terban, Gondokusuman, Jogja, pada Jumat (26/3/2021).

Dalam menindaklanjuti aduan yang masuk, beberapa langkah yang ditempuh mulai dari konsultasi sampai pelayanan hukum. Beberapa kasus kekerasan perempuan sudah sampai di meja pengadilan dalam pengajuan perceraian.

“Sampai pengajuan [cerai, suami] belum pernah menghubungi,” kata Enik merujuk salah satu kasus.

Baca juga: Tahun Lalu Ditunda, 20 KK Asal Bantul akan Diberangkatkan Transmigrasi Tahun Ini

Adapula kekerasan ekonomi akibat menurunnya pendapatan suami di masa pandemi Covid-19. Untuk kasus seperti ini kebanyakan bisa selesai pada tahap konsultasi.

Dari 34 kasus di atas, sebanyak 13 kasus merupakan kekerasan terhadap anak. Sepuluh pelaku kekerasan berasal dari internal keluarganya, sementara tiga kasus dari orang lain. Dari penyebab kekerasan anak, tujuh berasal dari karakter pelaku, lima berasal dari pola asuh, dan satu pelaku yang hobi pornografi.

Dalam pola asuh misalnya, ada yang terjadi akibat kondisi ibunya yang kurang baik. “Jadi ibunya agak depresi, ayahnya bekerja di luar. Sehingga pola asuh anaknya salah [dari ibunya],” kata Enik.