Update 32 Besar Piala Dunia 2026, Kuda Hitam Menggila
Daftar 32 besar Piala Dunia 2026 mulai lengkap. Tim unggulan lolos, kuda hitam bikin kejutan di fase gugur.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN- Ahli Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mengatakan adanya klaster takziah di dua lokasi berbeda di Sleman, merupakan fenomena biasa yang muncul ketika masyarakat mulai mengabaikan protokol kesehatan.
Fenomena tersebut juga terjadi di negara-negara seperti di Eropa ketika masa lockdown berakhir, warga melakukan euforia dan mengabaikan protokol kesehatan. Dampaknya kasus baru kembali meningkat. "Saat kasus mulai turun, masyarakat kemudian mengabaikan protokol kesehatan yang 3 M atau 5 M itu," katanya saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (29/3/2021).
Riris tidak mengetahui pasti apakah penyebab klaster takziah ini dikarenakan Satgas Covid-19 tidak melakukan pengawasan secara optimal atau masyarakat sudah mulai kendor menerapkan protokol kesehatan. Yang pasti, katanya, adanya kerumunan orang sangat berpotensi menyebabkan terjadinya penularan. "Kalau sudah terjadi kerumunan, maka potensi penularan virus itu sangat besar. Makanya penting menerapkan protokol kesehatan," ujar Riris.
BACA JUGA: WHO: Covid-19 Mungkin Ditularkan Kelelawar ke Manusia Lewat Hewan Lain
Ke depan agar kasus serupa tidak terjadi lagi, Riris mengingatkan agar pencegahan penularan virus tersebut harus dilakukan bersama-sama. Tidak hanya Satgas, karena yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. "Jadi butuh kesadaran masyarakat untuk benar-benar menerapkan protokol kesehatan," katanya.
Terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sleman Savitri Nurmala Dewi mengatakan monitoring dan evaluasi untuk kegiatan Satgas di lapangan selama ini tetap dilakukan. Satgas dari tingkat kabupaten hingga padukuhan misalnya terus melakukan pengawasan dan penegakan aturan sesuai Instruksi Bupati Sleman. "Kami juga pernah berkoordinasi dengan kapanewon terkait pemantauan hajatan. Khusus untuk klaster takziah ini, pekan ini kami akan membahasnya," kata Evie.
Menurutnya, Satgas masing-masing wilayah tetap mengawal instruksi bupati tentang Perpanjangan PPKM Berbasis Mikro di Sleman untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19. Bahkan bupati dalam instruksinya sudah meminta agar kalurahan untuk menegakkan protokol kesehatan di rumah warga, lapangan terbuka, gedung pertemuan, serta tempat lainnya yang berpotensi menimbulkan kerumunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Daftar 32 besar Piala Dunia 2026 mulai lengkap. Tim unggulan lolos, kuda hitam bikin kejutan di fase gugur.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih tertekan pada Rabu 1 Juli 2026 dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.900-Rp17.950 per dolar AS.
Bapas Kelas I Yogyakarta melibatkan 20 klien menjalani pidana kerja sosial di Pasar Cublak, Kulonprogo, sebagai bagian pembinaan berbasis KUHP baru.
Prakiraan cuaca DIY 1 Juli 2026, Sleman dan Kota Jogja berpotensi berkabut. Simak kondisi cuaca di lima kabupaten/kota menurut BMKG.
Kementerian PKP akan meningkatkan program BSPS atau bedah rumah di enam provinsi sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak.
Cek jadwal KA Bandara YIA Xpress Rabu 1 Juli 2026 rute Stasiun Tugu Yogyakarta-Bandara YIA lengkap dengan tarif dan waktu perjalanan.