20 Persen SD Negeri di Sleman Kekurangan Murid, Ini Penyebabnya
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Perahu nelayan disandarkan dan diikat di pohon yang berada di pesisir Pantai Driini Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul Senin (24/7)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, BANTUL - Cuaca ekstrem yang masih mendera sejumlah wilayah termasuk Bantul, membuat para nelayan sulit melaut. Selama lebih dari sepekan, banyak nelayan Bantul meliburkan diri karena kondisi ombak yang tinggi.
Salah satu nelayan Bantul, Dardi Nugroho mengaku sudah sekitar 10 hari tak melaut. Tak sendirian, Dardi menyebut banyak nelayan yang juga memilih libur ketimbang memaksakan melaut di tengah kondisi cuaca yang buruk. "Banyak yang libur karena cuacanya enggak bersahabat, ombaknya juga enggak bersahabat. Sudah satu pekan sampai 10 hari kondisi seperti ini," tuturnya Rabu (14/4/2021).
Berdasarkan ramalan prakiraan cuaca yang ada, Dardi menyebut kondisi cuaca yang buruk ini masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan. "Ramalannya jelek terus ini. Cuma hari ini yang baik," ujarnya.
Dardi mencoba melaut pada Rabu (14/4/2021), namun ternayata ombak masih goyang dan tidak sepenuhnya baik seperti ramalan yang ada. Alih-alih bawa tangkapan ikan puluhan kilogram, Dardi justru pulang dengan tanpa ikan satu pun. "Kalau ombaknya bagus ada bawalnya. Tangkapan tadi aja kosong, enggak dapat ikan," ungkapnya.
Baca juga: ASN Nekat Mudik, Tambahan Penghasilan Bakal Dipotong
Cuaca buruk disebutkan Dardi masih akan berlangsung 10 hari ke depan. Jika benar demikian, maka nelayan Bantul absen melaut sekitar 20 hari. "Ombaknya rada goyang, enggak bagus. Prediksi cuaca buruk ini kalau saya lihat di internet masih sampai 10 hari lagi," tambahnya.
Kondisi cuaca yang kurang mendukung bagi nelayan ini membuat nelayan kembali melakukan berbagai pekerjaan sampingan yang ada. "Kalau nelayan asli Bantul banyak sampingannya, banyak yang bertani. Tapi kalau nelayan dari Cilacap ya tetap menganggur, paling benah-benahi jaring," tuturnya.
Dardi menduga cuaca ektrem yang terjadi sedikit banyak dikarenakan gempa beberapa waktu lalu dan tentunya siklon yang ada. "Gempa juga pengaruh, terus siklon itu juga pengaruh. Kalau nelayan kan perhitungannya pakai hitungan Jawa dan pranata mangsa. Kalau ini ke belakangnya nanti ombaknya banyak yang jelek, tangkapannya juga belum pasti," tandasnya.
Ketua DPC HNSI Bantul, Suyanto tak menampik jika banyak nelayan pantai selatan yang memilih libur karena cuaca yang sedang tidak baik untuk melaut. Situasi cuaca April ini bertolak belakang dengan akhir Maret lalu. Pada akhir Maret lalu tangkapan ikan para nelayan pantai selatan terhitung cukup baik. Pasalnya cuaca saat itu cukup mendukung dan bertepatan dengan masuknya periode tangkapan ikan bawal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Suara Ibu Yogyakarta menggelar aksi damai di Bundaran UGM dengan tujuh tuntutan, mulai ekonomi, harga pangan, hingga kriminalisasi aktivis.
Harga emas Antam hari ini, Jumat 3 Juli 2026, naik Rp11.000 menjadi Rp2.651.000 per gram. Simak daftar harga emas semua pecahan.
Pemkab Bantul memindahkan TPR Parangtritis ke akses masuk pantai mulai 1 Juli 2026 untuk menata retribusi wisata dan menghindari keluhan pengguna jalan.
Pemerintah mulai menerapkan biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan BBM fosil.
Polres Bantul mengintensifkan Gerakan Orang Tua Memanggil selama libur sekolah untuk mencegah kenakalan remaja dan kejahatan jalanan.