Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Kepala BSN, Kukuh S. Achmad (Kiri); Direktur Utama, PT Swayasa Prakarsa, swanto (Kanan); dan jubir GeNose, Mohamad Saifudin Hakim (tengah), dalam jumpa pers standarisi GeNose, Jumat (30/4/2021). /Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA- Badan Standarisasi Nasional (BSN) akan melakukan standarisasi pada GeNose guna memberi perlindungan kepada masyarakat sekaligus peningkatan citra merek dalam penggunaan GeNose sebagai salah satu alat skrining Covid-19.
Kepala BSN, Kukuh S Achmad, menjelaskan terdapat setidaknya dua alasan GeNose perlu distandarisasi. Pertama, memberi perlindungan kepada masyarakat dari aspek kesehatan, keamanan, keselamatan dan pelestarian fungsi lingkungan. Kedua, untuk meningkatkan daya saing naisonal baik pasar domestik atau global.
“Dari tujuan perlindungan kesehatan ketika kemudian kita menghadapi pandemi Covid-19 kemudian banyak berbagai produk di antaranya seperti ventilator dan hari ini GeNose. Tentu BSN punya kewajiban untuk memastikan bahwa alat GeNose sebagai alat deteksi skrining Covid-19 bisa dipastikan pemenuhan standarnya,” ujarnya, Jumat (30/4/2021).
Baca juga: Waduh! 8.000 Orang Terancam Kehilangan Kartu Prakerja
Tahap pertama dalam standarissasi GeNose yakni mengidentifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), apa yang diperlukan untuk menyetandarisaasi Genklose. Ada dua alternatif, yakni menyetandarisasi Komponen pembentuk alat GeNose, sensornya, mungkin kantong plastiknya, dan alat-alat lainnya.
“Atau bisa menjadi suatu standar yang nantinya dijadikan persyaratan standar GeNose itu sendiri. Pertama kita akan develop SNI-nya untuk Genose seperti apa. Kalau nanti sudah ada SNI tentu yang bisa memastikan bahwa SNI dipenuhi adalah lembaga sertifikasi. Sekarang sedang proses persiapan standarisasi,” ungkapnya.
Baca juga: Ketahanan UMKM Gerakkan Ekonomi Kota Magelang di Tengah Pandemi
Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa, Iswanto, mengatakan esensi GeNose sebagai alat diagnostic dan skrining memiliki tiga langkah, yakni preparation atau persiapan proses pemeriksaan. Kemudian sensing atau menerima embusan nafas dan terakhir detecting, yakni mendeteksi hasil ciuman oleh sensor dengan menggunakan Artificial Intelegent (AI).
“Dari tiga tahapan kita mencoba mensatandarisasi. Preparation misalnya kantong itu volume kita standarisasi tertentu. Baunya kita standarisasi, sterilitasnya kita standerisasi. Di tahap sensing berapa volume yang masuk di sana ada standarnya sehingga deteksinya ajeg. Aliran di titik awal hingga ruang deeteksi kita atur. Sisi deteksinya yang ketiga kita menggunakan AI. Semakin besar data AI akan semakin sensitif alat ini,” katanya.
Ia menegaskan standarisasi berbeda dengan izin edar. Untuk izin edar, GeNose sudah memilikinya dari Kementerian Kesehatan. Sementara standarisasi dilakukan oleh BSN untuk menjaga kualitas produk, memperkuat sistem quality management yang dibangun serta menguatkan branding.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
259 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah Sidoarjo dirawat setelah diduga keracunan usai menyantap makanan MBG.
BGN menetapkan dua sesi jam kerja wajib kepala SPPG MBG, yakni pukul 17.00-19.00 WIB dan 02.00-08.00 WIB.
Pemkab Bantul merotasi tujuh pejabat PTP. Sejumlah jabatan strategis diisi pejabat baru setelah melalui uji kompetensi dan persetujuan BKN.
Kebakaran melanda lahan penghijauan dekat Tol Semarang-Solo KM 442. Lima mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api.
PANDI menargetkan jumlah domain .id mencapai 2,8 juta pada 2031 seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap domain lokal.