Suluh Sumurup Art Festival 2026 Tegaskan Eksistensi Seniman Disabilitas Lewat Karya
Suluh Sumurup Art Festival 2026 memasuki tahun keempat dengan tema Maneges, menegaskan eksistensi seniman disabilitas melalui karya dan ruang berkesenian
Salah satu adegan dalam Ketoprak Sayembara 2021, belum lama ini./Istimewa-Dinas Kebudayaan DIY
Harianjogja.com, JOGJA--Guna memunculkan kembali spirit Pangeran Mangkubumi, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY bakal mengangkat kisahnya melalui Ketoprak Sayembara 2021.
Pelaksana Tugas Kepala Disbud DIY, Sumadi mengatakan ketoprak yang akan tayang di TVRI Jogja ini menjadi sarana penyampaian pesan pada masyarakat untuk senantiasa mengenal dan mempelajari sejarah. Dengan memahami sejarah, maka masyarakat memiliki sandaran menapaki masa depan.
Selain itu, melalui pementasan tersebut, Sumadi berharap ketoprak bisa semakin lestari dan berkembang. "Ketoprak tidak hanya sebuah tontonan, tetapi juga tuntunan, bisa menjadi pedoman juga sebagai sebuah tatanan," kata Sumadi, Selasa (4/5/2021).
Dalam Ketoprak Sayembara 2021, masyarakat akan disuguhkan kisah Pangeran Mangkubumi yang juga bergelar Sri Sultan HB 1 dalam membangun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pementasan 20 episode itu akan tayang setiap Sabtu mulai Juni 2021. Adapun cerita bermula sejak Perjanjian Giyanti pada 1755. Sejak saat itulah Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua dan juga awal mula berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Menurut Kepala Sub Bagian Program Disbud DIY, Aryanto Hendro Suprantoro, pemilihan kisah Pangeran Mangkubumi untuk mendukung pendaftaran Sumbu Filosofi sebagai warisan dunia di UNESCO.
Sumbu Filosofi merupakan dasar tata kota lengkap dengan filosofi daur hidup manusia dari lahir sampai meninggal dunia. Pembangunan kota dengan model ini bisa jadi satu-satunya di Indonesia, bahkan dunia.
"Harapannya, masyarakat dengan menonton Ketoprak Sayembara Pangeran Mangkubumi nantinya ikut memahami Kota Jogja dulu dibangun dengan sebuah konsep, sudah dipikirkan sangat matang oleh Pangeran Mangkubumi," kata Hendro.
Ketoprak Sayembara, kata Hendro, sudah digelar sejak 2014. Meskipun saat ini media sosial menjadi tempat populer menampilkan karya seni, namun penonton televisi juga masih banyak. Meski tidak menutup kemungkinan, setelah tayang di televisi akan tayang pula di Youtube dan sebagainya. "Masih banyak masyarakat yang menonton televisi," kata Hendro.
Sementara untuk para pemain, pelakunya tidak hanya dari satu sanggar tertentu. Namun ada sebuah casting yang bisa diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang. Ada yang memang pemain ketoprak, tetapi ada juga penari, pemain teater dan sebagainya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Suluh Sumurup Art Festival 2026 memasuki tahun keempat dengan tema Maneges, menegaskan eksistensi seniman disabilitas melalui karya dan ruang berkesenian
Studi Canva menemukan 98% profesional Indonesia menggunakan AI untuk presentasi, dari mencari ide hingga latihan sebelum tampil.
MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi soal informasi kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman.
DPRD Kulonprogo menyoroti rotasi jabatan di Pemkab dan meminta pejabat baru membuktikan kinerja serta meningkatkan pelayanan masyarakat.
Pelindo menargetkan penataan 17 entitas melalui merger, konsolidasi, divestasi dan likuidasi hingga jumlah entitas menjadi 21
KAI merespons penetapan tersangka masinis Argo Bromo Anggrek dan menindaklanjuti enam rekomendasi keselamatan dari KNKT.