Pengintai Kematian Bawa 2 Pelajar SMA Teladan “Terbang” ke Amerika

Dari kiri ke kanan: Azizah Auliani Rahma, 18, dan Sona Regina Salsabila, 19, dua pelajar SMA Negeri 1 Jogja mengenakan jaket LIPI dalam persiapan lomba Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF) di Amerika Serikat, belum lama ini. - Istimewa
29 Mei 2021 08:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Prihatin dengan risiko penyakit kanker payudara yang banyak menimpa kaum perempuan, dua pelajar SMA di Jogja membuat riset mengenai deteksi kanker payudara berbasis kecerdasan buatan. Riset yang meraih predikat juara di LKIR LIPI 2020 ini bahkan membawa keduanya untuk mengikuti proyek riset di Amerika Serikat. Berikut laporan dari wartawan Harian Jogja Lajeng Padmaratri.

Di samping kesibukan mempersiapkan diri untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi, dua pelajar kelas XII dari SMA Negeri 1 Teladan Jogja masih menyempatkan waktu untuk melakukan riset ilmiah mengenai deteksi kanker payudara. Keduanya adalah Azizah Auliani Rahma, 18, dan Sona Regina Salsabila, 19.

Mereka mengembangkan kecerdasan buatan untuk deteksi kanker payudara dengan judul penelitian Systematic Web for Breast Cancer Prediction. Riset tersebut mulanya diikutkan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) dari Lembaga Ilmu Pengetahahuan Indonesia (LIPI) yang dihelat 2020 lalu.

Ketika dihubungi Harian Jogja belum lama ini, Azizah menceritakan mengenai inovasi yang mereka ciptakan. Kedua pelajar ini menaruh perhatian terhadap tingginya penyakit kanker payudara di Indonesia yang termasuk tinggi, terutama untuk kalangan wanita.

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian. Di Indonesia, jumlah kasusnya sebesar 42,1/100.000 penduduk dan rata-rata kematian 17/100.000 penduduk.

"Tahun lalu kami sempat mencari tahu tentang kasus kanker payudara di Indonesia. Salah satu penyebab kasus yang terjadi karena false negative sehingga terlambat untuk ditangani," ujar Azizah belum lama ini.

Meski tidak ada pengalaman pribadi yang dialami oleh Azizah maupun Regina mengenai penyakit ini, namun sebagai perempuan, keduanya merasa waswas dengan banyaknya kasus kanker payudara. Mereka berharap penelitian yang mereka lakukan bisa bermanfaat tidak hanya bagi mereka, melainkan juga untuk masyarakat.

"Karena itu, kami coba menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu dokter dalam mendiagnosis kanker payudara berdasarkan rekam medis pasien dan gambar mamografi," lanjut Azizah.

Ia mengatakan riset tersebut mereka mulai sejak awal 2020 lalu. Riset dua pelajar ini menjadi pemenang pertama dalam bidang ilmu pengetahuan teknik. Atas keberhasilan itu, mereka diikutkan menjadi dua dari 13 pelajar Indonesia dengan delapan proyek penelitian yang akan mengikuti ajang Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF) pada 16-21 Mei 2021 di Amerika Serikat.

Karena masih pandemi, Azizah dan Regina hanya bisa 'terbang' ke Amerika Serikat melalui layar video konferensi via virtual. Meski belum berhasil mendapatkan juara di ajang tersebut, kedua pelajar tersebut bangga bisa menjadi salah satu tim yang mewakili Indonesia dalam lomba internasional tersebut.

"Ini pengalaman baru dan menarik bagi kami. Kami juga bisa melihat berbagai penelitian yang tak kalah bagus dari negara lain. Ini juga menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus meng-improve dan mendorong diri kami lebih baik ke depannya," ungkap Azizah.

Terkendala Pandemi

Salah satu solusi mengurangi false negative dalam deteksi kanker payudara menurut kedua pelajar ini yakni dengan menerapkan teknologi AI (Artificial Intelligence). Teknologi AI yang cukup efektif dalam memprediksi kanker payudara adalah random forest (RF) dan convolutional neural network (CNN).

Pada penelitian itu, peneliti mengembangkan kecerdasan buatan sebagai deteksi dan pemberi saran dokter dalam mendiagnosis kanker payudara berbasis algoritma RF dan CNN. Melalui sistem deteksi kanker payudara berbasis kecerdasan buatan itu, pengguna nantinya hanya perlu mengunggah data rekam medis atau gambar mamografi ke dalam sistem. "Lalu sistem akan mengolahnya dan memberikan hasil berupa kanker atau normal," tutur Azizah.

Dengan mekanisme tersebut, ia mengklaim sistem ini cenderung lebih efisien dalam melakukan deteksi kanker payudara. "Untuk efektivitas web sendiri, kami telah melakukan pengujian dengan beberapa radiologis dan hasilnya sistem kami dinilai efektif untuk menjadi bahan pertimbangan dokter dalam mendiagnosis kanker payudara," lanjutnya.

Kendati demikian, mereka belum membandingkan sistem tersebut dengan alat deteksi yang sudah ada seperti mamografi dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) secara langsung karena terkendala pandemi. Azizah pun mengakui jika sistem yang ia kembangkan masih perlu dikembangkan lebih jauh lagi sehingga bisa lebih baik.

Selama riset, Azizah dan Regina yang tergabung dalam ekskul karya ilmiah Teladan Science Club (TSC) mendapatkan bimbingan dari guru ekstra kurikuler terkait serta mentor dari LIPI. Di samping terkendala pandemi, keduanya sempat kesulitan membagi waktu antara belajar dan riset lantaran mereka sudah saatnya mempersiapkan diri dalam ujian penerimaan di perguruan tinggi.

Dua siswi ini berharap bisa mengembangkan riset tersebut dengan menambahkan data riil dari rumah sakit setempat mengenai kasus kanker payudara yang bisa disertakan dalam riset sistem ini maupun melibatkan uji coba dengan penderita kanker payudara. "Sementara kami fokus mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, tetapi kami tetap ingin melakukan riset pengembangan ke depannya," ujarnya.