Anak Diduga Bunuh Ayah di Boyolali Jalani Observasi Kejiwaan
Polisi akan memeriksa kejiwaan pria yang diduga menganiaya ayah kandungnya hingga meninggal dunia di Boyolali.
Ilustrasi kekerasan./Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA- DW alias wajik, pemuda asal Jalan Bantul tewas mengenaskan setelah dikeroyok oleh puluhan orang di sekitar Pasar Gampingan, Pakuncen, Wirobrajan pada Kamis (3/6/2021) dini hari. Motif penganiayaan berujung korban jiwa itu diduga karena adu jago dan saling tantang di media sosial.
Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian yang enggan disebutkan identitasnya menjelaskan bahwa, insiden itu terjadi sekitar pukul 00.30 Wib Kamis (3/6/2021) dini hari. Saat itu, dia berpapasan dengan korban dan rombongan pelaku yang tengah kejar-kejaran dari jembatan di Jalan RE Martadinata menuju Pasar Gampingan.
"Para pelaku membawa semacam bambu, batu dan alat yang dibalut kain sambil kejar-kejaran," jelasnya saat ditemui di lokasi.
Setelah kejar-kejaran, korban tertangkap oleh rombongan pelaku di depan Secret Garden Coffe, lantas dikeroyok oleh puluhan orang hingga tak berdaya. "Saya yang melihat langsung berusaha melerai karena teman korban pada kabur semua. Saya langsung pisahkan dan suruh berhenti," ujarnya.
BACA JUGA: Pemda DIY Angkat Bicara Soal Penolakan Pemakaman Pasien Covid-19 dengan Prokes di Bantul
Dia melihat terduga pelaku penganiayaan itu berjumlah sekitar lebih dari 10 orang pemuda, dengan rata-rata usia 18 hingga 20 tahun. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak laki-laki, dia mencoba langsung melerai aksi penganiayaan itu. Namun, karena jumlah terduga pelaku yang begitu banyak, sehingga sulit menghentikan kekerasan itu.
Setelah ditinggalkan oleh rombongan pelaku korban sudah dalam kondisi kritis dan berbicara lemah sambil meminta pertolongan. Korban disebut mengalami luka pada bagian punggung dan kepala dengan kondisi tubuh berlumuran darah dan terbaring lemas.
"Saya langsung panik dan panggil suami trus suruh telepon ambulans, korban kondisinya masih hidup tapi sudah kritis," ungkapnya.
Sekira pukul 3.00 Wib polisi mendatangi lokasi dan korban tak lagi dapat tergolong akibat luka parah dan pendarahan. Setelah itu, mobil ambulans datang ke lokasi untuk mengevakuasi jenazah korban. "Waktu polisi datang korban sudah meninggal baru setelahnya datang mobil ambulans," kata dia.
Dia mengaku penanganan korban memang sangat terlambat. Korban dibiarkan terkapar di lokasi hingga satu jam lamanya. Saksi sendiri tidak dapat berbuat banyak karena ambulans tidak berani membawa korban jika pihak kepolisian belum datang ke lokasi kejadian.
Menurut saksi, berdasarkan informasi yang beredar diketahui bahwa motif pengeroyokan berujung nahas itu dipicu karena saling tantang di sosial media. "Infonya begitu saling tantang menantang. Nah sampai ke lokasi ini mungkin korban minta bantuan dari warga sini," jelasnya.
Terpisah, Humas Polsek Wirobrajan, Aipda Muhammad Asdar membenarkan adanya kejadian tersebut. Korban diketahui berumur 21 tahun warga asal Dukuh, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja. Namun pihaknya belum dapat keterangan lebih lanjut dan mendetail soal insiden tersebut. “Masih dalam proses penyelidikan yah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi akan memeriksa kejiwaan pria yang diduga menganiaya ayah kandungnya hingga meninggal dunia di Boyolali.
Trump masih mengutamakan diplomasi dengan Iran meski Netanyahu mendesak AS kembali melancarkan serangan militer setelah pemilu sela.
Muhammadiyah mendukung langkah Polri memberantas vape mengandung narkoba karena sejalan dengan fatwa haram penggunaan rokok elektrik sejak 2020.
Netanyahu kehilangan mayoritas di Knesset setelah pemilu Israel. Oposisi menjajaki dukungan partai Arab untuk membentuk pemerintahan baru.
PAD sektor pariwisata Bantul baru mencapai Rp15,8 miliar hingga Oktober 2026. Dispar pesimistis target Rp29 miliar tercapai.
Polri dan BPOM membahas penyusunan regulasi penggunaan kratom untuk mencegah penyalahgunaan tanaman yang berpotensi membahayakan.