Pandemi Berdampak pada Tubuh Penari

Pramutomo, Setyastuti, dan Didi Nini Thowok dalam Sarasehan Seni Budaya bertema Bicara Aktivitas Tari Terkini di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (9/6). Harian Jogja - Sirojul Khafid.
10 Juni 2021 06:27 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Tari sebagai seni pertunjukan menjadi salah satu yang terdampak sejak pandemi Covid-19 merebak. Selain para pelaku tari yang kalang kabut, penyajian dan model pertunjukan juga mengalami pergeseran. Kemudian bagaimana kita membaca dunia tari dulu, sekarang, dan yang akan datang? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

Didi Nini Thowok tampaknya harus bersabar untuk pentas tari di luar negeri. Secara serentak, enam rencana pentasnya di luar negeri batal sejak awal Maret 2021 lalu. Musababnya adalah Covid-19. Didi sadar pembatalan pentas tari tidak hanya dia yang alami. Saat berkomunikasi dengan sejawat dari Taiwan, Hongkong, China, Eropa dan Amerika, mereka juga mengalami hal yang sama.

Sayangnya dampak pandemi tidak hanya dirasakan Didi, namun juga orang-orang di sekitarnya. Lantaran tidak ada pentas selama pandemi, dia harus merumahkan para karyawannya. Mereka akan kembali dipanggil untuk membantu apabila ada proyek yang sesekali menghampiri.

Masih belum cukup, dampak pandemi kini berdampak pada tubuh Didi yang mulai sakit-sakitan, khususnya di organ lambung. “Dokter bilang selama ini seniman tari selalu bergerak, jadi energinya berputar terus. Sementara selama Covid-19 setahun lebih ini, tubuh tidak bergerak. Gerak kurang ini pengaruhi kesehatan ternyata,” kata Didi dalam Sarasehan Seni Budaya bertema Bicara Aktivitas Tari Terkini di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (9/6/2021).

Sebagai seniman lepas, Didi perlu berpikir agar perekonomiannya kembali berputar meski jarang pentas. Mulailah hidupkan Youtube yang sudah terbengkelai sejak 2006. Kala itu, dia tidak sadar apabila Youtube bisa menghasilkan uang dengan berbagai cara. Dulu masih belum cukup akrab dengan teknologi. Setelah Didi cek jumlah subscriber, ternyata sudah lebih dari 22.000 orang. Hal ini sudah cukup menjadi syarat untuk monetize atau hasilkan uang.

Seiring dengan seriusnya Didi kelola Youtube, semakin banyak pula orang yang melihat karyanya, termasuk dari luar negeri. Ini menjadi cara promosi yang cukup efektif. “Semua undang saya karena lihat karya saya di Youtube. Misal pakai proposal ke luar negeri bisa dijegal. Zaman dulu misalnya kita masih junior ajukan proposol ke luar negeri, mereka akan menanyakan rekomendasi pada salah satu seniman yang meraka kenal. Kalau [seniman itu] teman [saya] rekomendasinya akan baik, begitupun sebaliknya,” kata Didi.

Meski masih banyak permasalahan dalam berkarya secara online, mengikuti zaman merupakan suatu keharusan. Seiring berjalannya waktu bisa jadi akan ada solusi. Seniman juga perlu memberi opsi pada media sosial seperti Tik Tok dan lainnya dengan karya tari. Jangan sampai konten yang ada seragam dan cenderung tidak jelas.

Pandemi tidak hanya berdampak pada penari lepas macam Didi, namun juga berdampak pada dosen tari seperti Setyastuti. Sejak pandemi mulai masuk, ruang ekspresi menjadi sempit. Bahkan banyak mahasiswanya yang kesulitan secara ekonomi. Para dosen rekan kerja Setyastuti sampai harus memberikan donasi bagi mahasiswa yang kekurangan.

“Para dosen dimintai donasi untuk teman-teman mahasiswa yang berada di Jogja, sengkuyung bareng,” kata Setyastuti yang merupakan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Tidak hanya dalam kehidupan akademis, dunia tari Setyastuti juga terdampak. Apabila beberapa orang bisa beralih profesi atau menekuni hobi baru selama pendemi, bagaimana dengan penari? Sementara bagi seniman perlu terus mengasah kemampuannya terus-menerus. Di sisi lain, seniman juga perlu memperhatikan sisi perekonomian.

Alhasil, selama awal-awal pandemi, setiap kegiatan diisi dengan tari meskipun ala kadarnya. Pertunjukan tari yang sebelumnya perlu rangkaian panjang persiapan, kini bisa dengan lebih cepat.

“Mudah banget untuk buat sebuah tarian, di mana-mana bisa menari,” kata Setyastuti yang merupakan penari dan komposer tari.

Tidak semua penari bisa mendapat ruang bagus seperti Didi yang sudah memiliki nama besar. Bagi penari yang masih belum populer, membuat Youtube juga merupakan tantangan tersendiri. Sehingga Setyastuti merasa perlu strategi untuk memecahkan masalah ini.

Salah satunya dengan kembali menggerakkan festival meski itu secara daring. “Bisa bikin Jogja Solo Dance atau festival tari tunggal. Untuk representasikan tari solo. Buat konten kemudian difestivalkan,” Setyastuti.

Bahwa pandemi berdampak pada dunia tari itu sebenarnya satu hal, namun cara untuk menanggulangi itu merupakan hal lain. Menurut Pramutomo, pemerintah punya peran besar dalam hal ini. Semua bisa bermula dari definisi “terdampak Covid-19.” Pertanyaannya, apakah pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah sudah definisikan “dampak Covid-19”.

Sejauh ini, definisi dampak Covid-19 baru berasal dari Kementerian Kesehatan. Tentunya definisi dampak ini juga berhubungan dengan kesehatan. Namun bagaimana menerjemahkan dampak Covid-19 pada seniman yang di dalamnya juga ada penari. Belum adanya definisi ini berpengaruh besar pada kehidupan, keberlangsungan, keberlanjutan, pendidikan, dan sebagainya dalam hal tari.

“Nagara tidak 100 persen hadir dalam keterdampakan Covid-19. Semua harusnya definsikan dampak Covid-19 menurut kementerian masing-masing, sampai dinas yang tangani kesenian. Definisinya beda dengan kesehatan,” kata Pramutomo yang juga Wakil Rektor ISI Surakarta.

Saat ini, banyak pelaku seni yang bingung. Tidak ada pertunjukan, festival kacau dan lainnya. Adapun pertunjukan daring, dampaknya tidak begitu signifikan, terutama dalam hal ekonomi. Selain itu, Pramutomo menganggap pertunjukan secara langsung dan daring memiliki sensasi yang berbeda dalam tari. Sensasi tertinggi sebuah pertunjukan tari berada pada awal sampai akhir pertunjukan. Apabila diulang atau sejenisnya tidak akan lagi sama rasanya.

Untuk bisa mengatasi ini, Pramutomo merasa perlu ada tindakan dari pemerintah terkait nasib para seniman ini. “Kaya dibiarkan, kaya ada pembiaran,” kata Pramutomo yang juga seorang penari.