Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan Mulai Bangkit

Jamu tradisional racikan warga Kiringan di lapangan Desa Canden, Jetis, Minggu (28/10/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
21 Juni 2021 11:17 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Berbagai upaya dilakukan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul untuk memastikan eksistensi Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Bantul. Salah satunya adalah dengan mengenalkan sentra jamu Kiringan melalui kegiatan pemotretan, Sabtu (19/6/2021).

Kasi Promosi Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi mengatakan kegiatan pemotretan yang melibatkan belasan fotografer ini adalah salah satu upaya promosi terhadap keberadaan Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan. Diharapkan melalui pemotretan ini, masyarakat akan mengetahui mengenai aktivitas dan keunikan dari Desa Wisata Kiringan.

“Apalagi saat ini situasi pandemi. Kami ingin agar masyarakat yang belum bisa berkunjung tetap bisa menikmati dengan media foto," katanya, Sabtu (19/6/2021).

Pengelola Sentra Desa Wisata Jamu Kiringan M Sutrisno mengatakan, di Desa Wisata Kiringan, ada 130 orang produsen jamu yang didominasi kaum perempuan. Setiap hari, mereka  memproduksi jamu berbahan empon-empon dan rempah-rempah, menjadi  jamu beras kencur, kunir asem, temulawak, uyup-uyup, jamu pegel linu dan aneka jenis jamu lainnya.

Namun, kegiatan ini sempat nyaris terhenti menyusul adanya pandemi Covid-19, karena tidak ada tamu lokal maupun mancanegara berkunjung ke Desa Wisata Kiringan. Namun, perlahan, lanjut Sutrisno, warga mulai bangkit dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat menyusul telah adanya satu dua tamu ke lokasi desa wisata tersebut.

“Mereka ingin belajar membuat jamu di sini. Kami terapkan protokol kesehatan yang ketat terhadap tamu yang berkunjung,” terangnya.

Kepala Dispar Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengatakan Desa Wisata Kiringan merupakan destinasi tersembunyi dan akan terus digencarkan promosinya.

“Nantinya, paket wisata yang akan diperkenalkan adalah edukasi jamu, mulai dari bahan baku, sampai produksi," jelas Kwintarto.