Ubah Eceng Gondok Jadi Tas, Mahasiswa UGM Juarai Kompetisi Video Internasional

Tim mahasiswa UGM menunjukkan inovasi tas Amreta yang dibuat dari limbah eceng gondok, dalam tangkapan layar video yang memenangkan Osaka University Student Video Contest. - Harian Jogja/Lugas Subarkah
03 Juli 2021 09:07 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sampah plastik seolah menjadi bom waktu karena masifnya penggunaan dan lamanya durasi penguraian. Merespons hal ini, sejumlah mahasiswa Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian UGM menginisiasi tas yang terbuat dari limbah eceng gondok yang dianggap lebih ramah lingkungan. Inovasi ini mampu mengantarkan mereka menyabet gelar juara di Osaka University Student Video Contest. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lugas Subarkah.

Sebuah video menggambarkan aktivitas di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Tumpukan sampah menggunung, menjadi bahan rebutan backhoe, sapi, dan pemulung. Ketiganya seperti berlomba mengais sampah sebanyak-banyaknya.

Gambar itu merupakan sepenggal video berdurasi tiga menit berjudul Amreta: Creating less-plastic world, karya tim mahasiswa UGM yang terdiri dari Afelinta Daradwinta, Rahmat Kurniawan Talib, Nareta Defiani, Ragil Puspita Megaranu, dan Asthony Purwanda Febriawan. Video yang digarap tak kurang dari sebulan ini meraih Juara 1 Osaka University Student Video Contest.

Kompetisi tingkat internasional yang mengusung tema Three Minutes of Inspiration for Sustainable Development ini merupakan salah satu acara peringatan untuk menyambut dies natalis ke-90 Osaka University. Kompetisi dimulai dari seleksi tahap I berupa shortlisted video yang menghasilkan 11 video terpilih dari total 130 video partisipan yang berasal dari 14 negara.

Kemudian seleksi tahap II berupa penilaian oleh external judges yang berasal dari Kansai SDGs Council, Meiji University, dan Osaka Virtual Expo. Pada seleksi tahap II ini, tim mahasiswa UGM dengan karyanya Amreta: Creating less-plastic world, diganjar juara utama dengan penghargaan Grand Prize.

Salah satu anggota tim mahasiswa UGM, Afelinta Daradwinta, menjelaskan keikutsertaan timnya dalam kompetisi ini bermula dari Office of International Affairs (OIA) UGM yang memberikan informasi bahwa Osaka University sedang mengadakan kompetisi video bertema 3 Minutes of Inspiration for Sustainable Development.

“Kami memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai bentuk kontribusi kami dalam mengatasi masalah lingkungan dan membawanya pada skala internasional. Kompetisi ini merupakan kompetisi internasional yang diikuti 130 tim yang berasal dari 14 negara,” ujarnya kepada Harian Jogja, Selasa (29/6/2021).

Tas Amreta didesain sebagai bentuk kepedulian terhadap isu sampah plastik yang terus menerus digunakan manusia khususnya masyarakat Indonesia tanpa terkendali.

Berdasarkan World Bank’s Indonesia Marine Debris Hotspots Rapid Assessment, pada 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.

Kondisi ini, menurutnya, sudah semestinya menjadi keprihatinan bersama. Maka timnya pun berinisiasi mengambil langkah kecil dengan membuat produk tas organik yang ramah lingkungan, yang diberi nama Amreta. Harapannya, pembuatan tas organik dapat menjadi produk alternatif pengganti penggunaan kantong plastik di Indonesia.

“Tas Amreta yang kami usung pada kompetisi ini merupakan inovasi original dari pemikiran tim kami dan produk Amreta untuk saat ini sebenarnya masih dalam bentuk prototipe sehingga masih membutuhkan optimasi apabila akan diproduksi secara massal,” katanya.

Tas organik ini dibuat dari bahan dasar eceng gondok. Pemilihan eceng gondok tidak terlepas dari banyaknya jumlah eceng gondok di perairan sehingga mengakibatkan masalah pada ekosistem perairan. Harapannya dengan adanya Amreta dapat menjadi multi-problem solution yaitu dapat mengentaskan limbah invasif eceng gondok serta mendorong pengurangan penggunaan tas plastik.

Ia menjelaskan tas ini didesain dengan fungsi yang sama dengan tas plastik sehingga dapat mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi. “Keunggulan yang ditawarkan oleh Amreta tentunya sifat biodegradable yang lebih mudah diuraikan di alam karena bahan dasar yang digunakan pada pembuatan Amreta dipilih menggunakan bahan organik,” ungkapnya.

Dengan materi inilah, timnya mengemas dalam format video berdurasi tiga menit.

Anggota tim lainnya, Ragil Puspita Megaranu, menuturkan proses pembuatan video berlangsung selama kurang lebih satu bulan hingga akhirnya karya dikirim ke Osaka University.

“Selama kurun waktu tersebut tim kami memulai diskusi mengenai ide dan konsep video, pembuatan prototipe produk tas eceng gondok, pengambilan video yang mengambil latar TPST Piyungan di Bantul, Pantai Trisik di Kulonprogo, dan Rawa Pening di Ambarawa, serta tahap pengeditan karya  yang memakan waktu paling banyak. Selanjutnya karya dikirim ke pihak Osaka University untuk diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan,” katanya.

Banyaknya lokasi pengambilan gambar memberikan tantangan tersendiri bagi tim. Diakui kesulitan yang dialami selama pengerjaan video adalah tempat syuting yang berpindah-pindah dan memiliki jarak yang jauh. Sehingga dalam proses pengambilan videonya cukup memakan waktu dan tenaga. “Setelah kami menemukan ide yang cocok, eksekusi pengambilan video dilakukan selama dua hari,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, timnya berharap dapat mengoptimasi produk Amreta sehingga dapat diproduksi secara massal. Langkah ini perlu diiringi dengan penyuluhan sehingga tercipta kerja sama dengan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi penggunaan kantong plastik. Melalui jejaring yang luas, ia yakin produk Amreta mampu mengatasi masalah lingkungan yang selama ini telah menjadi permasalahan global.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, mengatakan solidaritas serta semangat juang tim ini sangat tinggi walaupun berada dalam kondisi pandemi. Hal ini ditunjukkan dengan prestasi yang mampu membanggakan tidak hanya Fakultas Biologi dan Pertanian UGM, tetapi juga Indonesia pada level internasional.

“Semoga keberhasilan tim ini semakin menguatkan kita bersama. Khususnya mahasiswa untuk selalu berinovasi dan berkarya bagi nusa dan bangsa meskipun di tengah kondisi yang masih terkendala,” kata dia.