Kasus Covid-19 Aktif di Sleman Capai 8.325, Keterisian Selter Justru Menurun

Ilustrasi. - Freepik
24 Juli 2021 13:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Meski jumlah selter terus bertambah, namun tidak sedikit warga yang memilih melakukan isolasi mandiri (Isoman) di rumah. Kondisi ini pun menyebabkan tingkat keterisian selter menurun.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan mengatakan saat ini tingkat keterisian selter-selter yang dikelola oleh Pemkab mulai Asrama Haji, Rusun Gemawang hingga Asrama UII mulai berkurang. "Saat ini keterisian selter sekitar 75%, di semua selter," katanya, Jumat (23/7/2021).

BACA JUGA : Waspada! Puncak Kasus Aktif Covid-19 Kedua Diprediksi

Kondisi tak jauh berbeda terlihat juga di selter-selter yang dikelola oleh Dinsos DIY. Beberapa selter penuh, namun sebagian besar masih kosong. Di selter Wukirsari Cangkringan misalnya, dari daya tampung 40 bed yang belum digunakan saat ini sebanyak 32 bed. Bahkan selter di Pondokrejo Tempel dari daya tampung 15 bed belum terisi pasien.

Untuk selter di Sidoluhur Godean dari daya tampung 10 bed terisi semua (full). Begitu juga dengan Selter Merdikorejo Tempel dan Bangunkerto Turi yang masing-masing memiliki daya tampung 10 bed. Selter Purwomartani Kalasan dari daya tampung 14 bed saat ini tersisa enam bed dan Tamanmartani Kalasan dari daya tampung 19 bed tersisa satu bed.

Jumlah tersebut belum termasuk selter-selter yang tersebar di 86 kalurahan. Makwan mengaku tidak mengetahui pasti penyebab banyaknya selter yang kosong di tengah tingginya penularan Covid-19 di Sleman. Apalagi saat ini, berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman, jumlah kasus aktif Covid-19 per 22 Juli di Sleman tercatat sebanyak 8.325 kasus.

Dia berharap, pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah untuk memperhatikan betul kondisi dan perkembangan kesehatannya. Sebab banyak kasus pesien yang meninggal saat melakukan Isoman di rumah akibat terlambat penanganan.

BACA JUGA : Covid-19 di Jogja Masih Bergejolak, Hari Ini 2.119 Orang

Jika memang kondisinya semakin tidak baik (memburuk) agar segera ke rumah sakit. Jika pasien memiliki bergejala berat, kata Makwan maka sebaikanya dirawat di RS. Sebaliknya pasien yang menjalani isoman di rumah, pastikan diawasi oleh nakes.

"Jangan sampai sudah kritis baru ke rumah sakit. Jangan sampai penanganan terlambat," ujar Makwan.

Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto mengatakan sejak 1 hingga 20 Juli Tim Pemakaman mencatat sekitar 900 jenazah pasien Covid-19 yang dimakamkan sesuai prokes. Dari jumlah tersebut sebanyak 282 jenazah merupakan pasien yang menjalani isoman di rumah.

Sebagian besar pasien isoman itu diketahui positif Covid-19 dari hasil swab dan tidak dilaporkan ke satgas Covid-19 sehingga tanpa pengawasan medis. Makanya statusnya ada yang suspek dan probable.

"Ini sesuai data di lapangan yang masuk. Kami tidak asal waton nulis. Data ini sejak awal bulan ini sampai tanggal 20," kata Lilik.

Pasien yang meninggal saat isoman, lanjutnya mayoritas sudah lanjut usia, 55 tahun ke atas dan memiliki komorbid. Keputusan Isoman di rumah dilakukan karena kondisi rumah sakit penuh. Mereka meninggal dengan kondisi saturasi rendah dan tidak ditunjang dengan oksigen.

BACA JUGA : Sepekan PPKM Darurat, Belum Ada Tanda Penurunan Kasus

"Ya faktor utamanya RS sudah penuh dengan pasien. Pasien kemudian menjalani isoman. Di tengah menjalani isoman kemudian bergejala. Dibawa ke rumah sakit kondisi penuh, telat (penanganan)," katanya.