Sepekan PPKM Darurat, Belum Ada Tanda Penurunan Kasus Covid-19 di Sleman

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DIY, Minggu (4/7/2021). /ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah -
12 Juli 2021 05:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kasus penyebaran virus Corona di Sleman justru terus mengalami lonjakan selama sepekan penerapan PPKM Darurat. Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda penurunan kasus.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman kasus penularan Covid-19 sejak 1 Juli hingga 10 Juli, tercatat sebanyak 4.436 warga Sleman terpapar Covid-19. Pada periode yang sama, sebanyak 3.356 warga sembuh dan 207 pasien meninggal dunia.

Jumlah pasien yang meninggal ini lebih sedikit bila dibandingkan data Tim Dekontaminasi, Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman sudah memakamkan sebanyak 357 jenazah pada periode yang sama. Dari 357 jenazah sebanyak 88 jenazah merupakan pasien yang meninggal saat melaksanakan isolasi mandiri di rumah.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 DIY Rekor Lagi, 50 Orang Meninggal dalam 24 Jam

Terkait lonjakan kasus tersebut, Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan sampai saat ini memang belum ada tanda-tanda kasus Covid-19 mengalami penurunan. "Iya belum ada tanda-tanda melandai, malah naik terus karena tracingnya gencar sehingga testingnya tinggi," kata Joko kepada Harian Jogja, Minggu (11/7/2021).

Dia berharap setelah 14 penerapan PPKM Darurat setelah 20 Juli nanti, diharapkan penularan Covid-19 dapat menurun. Namun dengan melihat data-data penularan dalam sepekan terakhir, Joko masih belum melihat adanya tanda-tanda penurunan kasus.

"14 hari setelah PPKM Darurat dimulai mestinya mulai menurun, tapi sepertinya kok belum bisa diprediksi," kata Joko.

Baca juga: Pemerintah Hanya Akui Hasil Tes PCR dari 742 Laboratorium

Hal senada disampaikan Pendiri Laboratorium Statistik Terapan RoomStat, Budhi Handoyo Nugroho. Menurut Budhi, puncak pertama kasus aktif di Kabupaten Sleman sudah terlihat. Namun demikian, katanya, ada tanda-tanda puncak kedua yang dimungkinkan akan muncul.

"Ini masih perlu dicermati ke depan, apakah ada tren naik atau memang sudah akan turun terus hingga dibawah kasus 1,000 di akhir Agustus," ujarnya.

Budhi juga mengingatkan agar perlu meningkatkan kewaspadaan tinggi. Pasalnya, puncak kasus aktif masih belum terlihat di wilayah DIY. Ia pun membuat pemodelan penularan Covid-19 berdasarman data yang dihimpun dari kab/kota di DIY.

Dari hasil pemodelan yang dia lakukan, perkiraan pertengahan Juli ini muncul puncak kasus aktif di DIY di atas 30,000 kasus. Kalau di DKI sudah tembus 100,000 kasus. "Ternyata saya cermati, dengan penduduk DIY sepertiga DKI, ada kemungkinan kasus aktif juga akan muncul sepertiga dari DKI, di angka 30.000 an," katanya.

Dia mengatakan, jumlah kasus aktif 30.000an bisa dihindari bila PPKM Darurat bisa diterapkan secara efektif. Karena untuk sementara ini, kata Budhi, mobilitas penduduk baru turun di angka 15% dari target 50%. "Hasil pemodelan varian delta itu ekornya panjang menuju kasus benar-benar turun (bila tidak ada kebijakan lockdown)," kata Budhi.

Sekadar diketahui, data kasus terbaru Covid-19 di Sleman per 11 Juli terdapat tambahan kasus sebesar 427 kasus dengan kasus sembuh 174 kasus dan meninggal dunia 27 kasus. Total kasus Covid di Sleman bertambah menjadi 27.700 kasus, sembuh 20.274 kasus dan meninggal 871 kasus.