Pemkab Bantul Awasi HET dan Stok Sembako Lewat Operasi Pasar
Pemkab Bantul rutin menggelar operasi pasar untuk memantau stok sembako dan penerapan HET di sekitar 32 pasar.
Foto ilustrasi: Tenaga pikul membawa jenazah dengan protokol COVID-19 untuk dimakamkan di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). /ANTARA FOTO-Raisan Al Farisi
Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul menyatakan tingginya kasus kematian karena COVID-19 di daerah ini mayoritas karena pasien gejala sedang hingga berat tidak dapat mengakses rumah sakit rujukan infeksi virus corona.
"Kematian yang terjadi itu karena sekarang banyak [pasien COVID-19] gejala sedang bahkan menuju berat tetapi tidak bisa mengakses rumah sakit atau fasilitas rujukan yang sebetulnya harus menangani mereka," kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharjo di Bantul, Sabtu (31/7/2021).
BACA JUGA : Covid-19: 1.808 Kasus Kematian Tercatat Hari Ini, Jatim Tertinggi
Dia mengatakan karena pasien terutama gejala berat tidak mendapat penanganan yang semestinya di fasilitas kesehatan terkait, jika pun mendapatkan tempat rujukan itu sudah terlambat. "Tetapi ada juga dari mereka yang tidak sempat mendapat rujukan ke rumah sakit," katanya.
Apalagi, kata dia, misalnya di RS Lapangan Khusus COVID-19 Bantul setiap hari paling tidak harus membuat sekitar 30 triase IGD atau proses penentuan pasien yang diprioritaskan untuk mendapat penanganan terlebih dulu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit.
"Dengan perburukan atau saturnasi oksigen rata-rata yang turun 60, 80, dan hampir semua rumah sakit penuh, rata rata BOR (keterisian tempat tidur) di atas 93 persen, sehingga memang sulit sekali mencari rujukan, dan kenapa terjadi, karena kondisinya seperti itu," katanya.
Agus mengatakan pasien COVID-19 dengan gejala sedang ke berat tidak mungkin dirawat di selter atau tempat isolasi yang disediakan pemerintah, karena selter hanya untuk memisahkan orang yang terkonfirmasi positif dan negatif.
BACA JUGA : Kematian Pasien Covid-19 di Jogja Masih Tinggi, Hari Ini 93 Orang Meninggal Dalam 24 Jam
"Selter desa, selter kabupaten hanya untuk gejala yang sedang, karena untuk fasilitasi beberapa konsentrator oksigen dan juga obat-obatan kelasnya harus ke rumah sakit, cuma untuk akses ke rumah sakit sudah penuh, kadang-kadang terpaksa IGD harus buka tutup," katanya.
Data Satgas Penanggulangan COVID-19 Bantul menyebut total kasus positif per Jumat (30/7) tercatat 41.723 orang, dengan telah dinyatakan sembuh 27.130 orang, sedangkan kasus meninggal 963 orang, sehingga kasus aktif atau pasien yang masih isolasi 13.630 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemkab Bantul rutin menggelar operasi pasar untuk memantau stok sembako dan penerapan HET di sekitar 32 pasar.
PBB menyebut wabah Ebola di RD Kongo menyebar cepat. Kasus mencapai 5.208 dengan 2.476 kematian, sementara kebutuhan dana terus meningkat.
Kejagung melimpahkan Yeka Hendra dan barang bukti ke JPU Kejari Jakarta Pusat untuk segera disidangkan terkait perkara korupsi ekspor CPO.
Kimi Antonelli menjadi yang tercepat di FP1 GP Belanda di Zandvoort. Simak hasil lengkap 10 besar dan kabar terbaru Max Verstappen.
Korban penipuan online di ASEAN naik menjadi 45% pada 2025. Di sisi lain, ekonomi digital Asia Pasifik diproyeksikan mencapai US$1,4 triliun.
Kemenpar merilis statistik pariwisata 2025 di 10 DPP dan 3 DPR. Simak daftar destinasi serta indikator yang menjadi perhatian pemerintah.