Karena Corona, Kita Jadi Paham Artinya Rindu..

Pengendara motor melintasi banner yang dipasang warga RT 6 Sengkan, Joho, Condongcatur, Depok, Jumat (30/7/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
02 Agustus 2021 09:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Di tengah melonjaknya kasus Covid-19, pembatasan kegiatan masyarakat dan masih jauhnya bantuan dari pemerintah, yang bisa dilakukan warga hanya saling bantu dan saling mengingatkan. Hal ini dilakukan dengan sangat baik oleh warga RT 6, Sengkan, Joho, kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok.

Sejumlah spanduk terpasang di sepanjang tepi jalan dan gang menyambut kita saat memasuki Dusun Sengkan. Wilayah yang berbatasan dengan Pasar Kolombo dan Jalan Kaliurang ini dinyatakan masuk dalam zona merah Covid-19. Namun, warga tidak ingin menciptakan suasana mencekam dengan penutupan jalan atau papan peringatan yang menakutkan.

BACA JUGA : Terdampak PPKM, Paguyuban Pedagang Malioboro Pasang Bendera Putih

Antara lain berbunyi : ‘Corona kita jadi paham artinya rindu dan berharganya pertemuan.’

‘Musibah itu meruntuhkan keangkuhan, bukan menambah keakuan.

‘Hidup bukan sekadar panjang-pendeknya usia, tapi juga seberapa besar kita dapat saling membantu.

Terdapat setidaknya 64 banner dengan berbagai macam kata-kata unik dengan nada serupa, yakni memotivasi warga untuk saling bantu dan saling mengingatkan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang tersebar di sejumlah titik strategis dusun. Di samping itu, warga juga menggemakannya melalui status whatsapp dan sosial media masing-masing.

Sekretaris RT 6 Sengkan, Andreas Pamungkas, menjelaskan pemasangan banner ini hanya sebagian kecil dari rangkaian gerakan warga dalam menghadapi Covid-19. “Mulai hari Minggu lalu kami pasang secara bertahap. Banner kecil kami kemarin pesan 50 eksemplar, yang besar ada 14,” ujarnya, Jumat (30/1/2021).

Konten banner dipilih dengan kata-kata yang unik namun tetap memiliki esensi agar warga dapat saling bantu dan saling mengingatkan. Ia menyadari setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda pada Covid-19, setiap orang juga memiliki kebutuhan untuk tetap beraktivitas sehari-hari.

Maka konten banner sengaja tidak dibuat dengan nada keras, mengancam, menggurui, atau sekadar ajakan biasa yang tidak akan menarik empati warga, tapi bagaimana agar warga dapat tergerak untuk ikut serta dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di level paling bawah.

BACA JUGA : Kebijakan PPKM Dinilai Memberatkan, Pelaku Wisata di Gunungkidul Minta Solusi

“Ayo kita bareng persepsi yang sama bareng-bareng. Tidak perlu tinggi-tinggi membahas Covid-19, tapi dari spanduk harapanya ngajak berpikir biar kita semua sadar. Ada spanduk bertuliskan ‘tidak perlu merasa paling tahu, jika hanya Covid-19 itu tetap akan menyebar luas,’” katanya.

Kemudian pada banner yang bertuliskan ‘Musibah itu meruntuhkan keangkuhan, bukan menambah keakuan,’ mengingatkan warga untuk meruntuhkan sikap angkuh atau egois seperti tidak mau memakai masker atau membuka tempat usaha hingga larut malam, dan menggantinya dengan sikap saling menghormati.

“Kalau instruksinya hanya ayo pakai masker, ayo jaga jarak, itu wes bosen. Sudah pada tahu sebenarnya. Lalu ngapain kita membuat spanduk yang sama juga? Nah coba kami pakai yang mengetuk hati, agar sesama warga itu terbangun bahwa, wes lah ra perlu keakuan sek, nganggo masker sek,” katanya.

Lalu pada banner bertuliskan ‘Hidup bukan sekadar panjang-pendeknya usia, tapi juga seberapa besar kita dapat saling membantu,’ dimaksudkan agar warga boleh waspada, namun jangan sampai hanya mementingkan keselamatannya sendiri dan justru melupakan keselamatan warga lainnya yang membutuhkan bantuan.

Ia menceritakan di RT 6 telah dibentuk tim Warga Bantu Warga, yang terdiri dari pengurus RT dan pemuda. Tugas utama tim ini adalah memastikan kebutuhan warga yang positif Covid-19 dapat terpenuhi, baik isolasi mandiri (isoman) atau perlu perawatan di rumah sakit.

Bagi warga yang menjalani isoman, Warga Bantu Warga akan menyuplai kebutuhannya seperti vitamin, obat, makanan dan telemedicine yang semuanya murni dilakukan oleh warga. Pengurus RT 6 telah memetakan pekerjaan dan kemampuan warga, sehingga dapat diberdayakan sesuai kemampuan masing-masing.

Contohnya seperti warga yang berprofesi sebagai dokter umum, warga tersebut akan mengecek kondisi dan memberikan resep obat kepada warga yang isoman. Warga yang isoman juga dilihat apakah mampu mendapatkan makanan sendiri secara pesan antar atau tidak, jika tidak maka akan diberikan makanan setiap harinya.

Untuk pemberian makanan ini dibagi tugas ke setiap dasawesma dimana terdapat anggotanya yang isoman. Setiap anggota dari dasawesma tersebut akan secara bergantian menyediakan makanan bagi warga yang isoman. Dasawesma yang sama juga menyiapkan mobil jika memang diperlukan evakuasi ke rumah sakit, jika warga yang isoman tidak memiliki mobil sendiri.

Untuk evakuasi, tim Warga Bantu Warga menyiapkan setidaknya enam personil yang bertugas untuk mengangkat pasien, menyiapkan mobil dan dekontaminasi. “Untuk evakuasi ini panggilan hati, karena tidak semua warga berani. kita tetap ada SOP [standard operational procedure] dan pakai APD [alat pelindung diri] lengkap,” ujarnya.

Evakuasi dilakukan mandiri oleh warga karena rumah sakit atau puskesmas tidak selalu bisa datang langsung, padahal kondisi sudah darurat. Maka diperlukan tindakan cepat dari warga untuk mengevakuasi. Sedangkan telemedicine juga dilakukan oleh warga untuk memantau secara insentif pasien isoman, karena dari puskesmas juga tidak bisa selalu memantau, padahal kondisi darurat dapat terjadi kapan saja.

BACA JUGA : Pedagang Malioboro Mengklaim Rugi Ratusan Miliar Gara-Gara PPKM

Meski masuk dalam zona merah, warga RT 6 Sengkan tidak menutup akses jalan menjadi satu pintu, melainkan hanya menutup pada jam yang sudah ditentukan yakni pukul 21.00 WIB. Hal ini mempertimbangkan masih diperlukannya akses jalan bagi aktivitas ekonomi maupun mobilitas warga yang juga untuk mendukung keperluan isoman.

“Tidak hanya Covid-19 secara virusnya saja, tapi yang mengerikan itu jika sampai terjadi benturan sosial. kalau sudah terjadi benturan sosial, kita mau menggerakkan warga untuk protokol kesehatan malah jadi susah. Malah jadi tidak efektif,” ungkapnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mengatakan untuk warga yang isoman, dari kalurahan juga mendukung dengan memberikan bantuan berupa sembako, yang bisa didapatkan cukup dengan warga mengirimkan hasil positif tes Covid-19.

“Bagi warga yang positif kami ada paket sembako, ini untuk mereka yang isoman. Dengan mengirimkan hasil swab. Kemudian disampaikan kepada Pak Dukuh, lalu Satgas akan memberikan paket sembako ke warga isoman. Jatah hidup ini murni dari kalurahan,” katanya.