Tangani Covid-19, Personel BPBD DIY Kerja 24 Jam & Korbankan Libur

Penyerahan bantuan peti jenazah dari BPBD DIY kepada BPBD Kota Jogja beberapa waktu lalu. - Istimewa/BPBD DIY
19 Agustus 2021 07:37 WIB Sirojul Khafid & Budi Cahyana Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penambahan kasus Covid-19 dan pasien meninggal akibat virus Corona membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY perlu bekerja ekstra keras. Tidak jarang pekerjaan memakan waktu 24 jam. Bahkan di akhir pekan beberapa pegawai BPBD DIY juga masih berjibaku membantu masyarakat.

Menurut Kepala Bidang Logistik dan Peralatan BPBD DIY, Robertus Ali Sadikin, anggotanya kerap menyalurkan peti jenazah sampai pukul 02.00 atau 03.00 WIB dini hari. Belum lagi apabila kondisi peti jenazah ada yang tidak layak atau rusak, perlu waktu untuk memperbaiki.

Melonjaknya kasus dan kematian akibat Covid-19 di DIY tidak sebanding dengan jumlah personel BPBD DIY yang terbatas. “Kekurangan sumber daya manusia. Bisa bekerja sampai 24 jam,” kata Ali saat ditemui di kantor BPBD DIY, Rabu (11/8).

Merespons keadaan terkini, Bidang Logistik dan Peralatan BPBD DIY menyalurkan berbagai bantuan di tingkat kabupaten dan kota. Dari BPBD kabupaten dan kota di seluruh DIY nantinya berlanjut ke tingkat kecamatan dan kelurahan. Dalam penyaluran peti jenazah misalnya, saat ini BPBD DIY dalam proses menyalurkan 500 peti jenazah. Sleman dan Bantul menerima masing-masing 150 peti, Kota Jogja 100 peti, serta Kulonprogo dan Gunungkidul masing-masing 50 peti.

Dari keseluruhan jumlah tersebut, 400 peti berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan 100 dari BPBD DIY. Peti dari BPBD masih dalam proses pembuatan. Prosesnya memakan waktu lantaran bentuk dan bahannya yang tergolong bagus.

“Penyaluran sesuai keadaan kabupaten dan kota. Beberapa waktu lalu yang kasus meninggalnya tinggi di Bantul dan Sleman. Di samping itu, ada pula penyaluran Alat Pelindung Diri, masker N95, masker karet, kain kafan, sepatu boot, kantung jenazah dan lainnya,” kata Ali.  “Adapula penyaluran alat penggali makam di kabupaten dan kota masing-masing 40 unit.”

Dalam pembagian masker, BPBD DIY menggunakan aplikasi InaRISK. Aplikasi ini bisa memperlihatkan tingkat kerawanan suatu daerah dan cara penanganannya. Dengan aplikasi ini pula, setelah bantuan tersalurkan, BNPB bisa memantaunya. BPBD DIY, khususnya bagian logistik dan peralatan membantu dalam ketersediaan barangnya.

Selain menyalurkan bantuan berupa barang, BPBD DIY juga melatih para sukarelawan dalam penanganan Covid-19 seperti pemulasaraan jenazah. Sukarelawan akan mendapat pelatihan dan pendampingan mulai dari mengambil jenazah, memandikan, sampai mengubur. Pelatihan dalam sehari bisa mencapai empat tim.

Selain menggunakan anggaran yang tersedia, pengadaan barang operasional juga mendapat dukungan dari dana keistimewaan (danais). “Penggunaan danais untuk belanja modal seperti generator oksigen, mobil jenazah, ambulans, dan lainnya. Mobil jenazah yang saat ini ada umurnya sudah dari tahun 1992. Setiap hari operasioanal, sudah tidak layak,” kata Ali.

Masyarakat bisa turut membantu penanganan Covid-19 bersama BPBD DIY. Selain membantu dengan memberikan barang, masyarakat juga bisa membantu penanganan Covid-19 dengan menerapkan perilaku sesuai protokol kesehatan (prokes). Perilaku prokes terutama menerapkan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan memakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas. “Masyarakat harus patuh prokes 5M. Kasus saat ini masih tinggi. Ditambah ada varian baru. Mari saling bekerja sama agar kasus Covid-19 bisa segera selesai,” kata Ali.