DIY Pacu Vaksinasi Kelompok Rentan

Vaksinasi pedagang Pasar Bantul pada Rabu (9/6/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
20 Agustus 2021 20:17 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta percepatan vaksinasi, dari awalnya 12.900 menjadi 20.000 warga setiap hari dan diutamakan untuk kelompok rentan. Targetnya, pada awal September 2021 capaian vaksinasi bisa di angka 80% dari seluruh sasaran vaksinasi dan pada November 2021 telah mencapai 100%.

"Tenaga kesehatan kami cukup untuk meningkatkan itu. Harapan saya, stok yang ada di kabupaten kota dan provinsi dimaksimalkan," kata HB X di Kepatihan, Kamis (19/8).

Menurut dia, upaya peningkatan sasaran ini akan dibahas secara teknis antara Pemda DIY dengan kabupaten dan kota. Salah satu cara percepatan adalah vaksinasi menyasar kelurahan hingga RT dan RW.

Salah satu tujuan percepatan vaksinasi ini menurut HB X, adalah untuk menekan ketidakstabilan kasus Covid-19 di DIY yang kadang naik turun. Karena saat dosis pertama diberikan, sudah ada imunitas meski relatif masih kecil," katanya.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), DIY masuk dalam provinsi dengan tingkat penularan tinggi Corona di Indonesia.  Laporan WHO tersebut tertuang dalam Situation Report-68 yang dirilis WHO pada Kamis (19/8) dan merupakan laporan per 18 Agustus 2021. Situation report ini rutin dirilis setiap pekan oleh WHO.

“Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, DIY, Bali, dan Sulawesi Tengah tetap berada di level tertinggi penularan komunitas (CT4) dalam kasus mingguan Covid-19 per 100.000 populasi, jumlah mingguan yang terkonfirmasi,” tulis WHO dalam laporannya.

Selain itu, tingkat kematian per 100.000 populasi masih tinggi. WHO menyarankan pembatasan tetap dilakukan dan vaksinasi Corona dipercepat.

WHO juga menyoroti kasus Corona yang turun tetapi dibarengi dengan penurunan jumlah tes. Jumlah orang yang dites Corona per 5-11 Agustus turun dibanding minggu sebelumnya.

“Selama sepekan, yakni 5-11 Agustus, Satuan Tugas (Satgas) melaporkan bahwa jumlah orang yang diuji adalah 930.513: penurunan dari total 1.008.665 orang diuji selama minggu sebelumnya. Pada 18 Agustus, jumlah orang yang diuji per hari telah turun menjadi 78.626.”

Pada Kamis kemarin, kasus positif Covid-19 di DIY bertambah 1.275. Kabag Humas Biro UHP Setda DIY Ditya Nanaryo Aji mengatakan total kasus terkonfirmasi total menjadi 142.075. Sementara, penambahan pasien sembuh sebanyak 2.121 sehingga total pasien sembuh menjadi 115.889.

Penambahan kasus meninggal 57 kasus, sehingga total kasus meninggal menjadi 4.460 kasus. “Positivity rate harian per 19 Agustus 2021 di angka 18,72 persen,” ungkapnya.

Ia menambahkan distribusi kasus terkonfirmasi Covid-19 berasal dari Bantul (476 kasus), Sleman (313), Kulonprogo (193), ), Gunungkidul (110), dan Kota Jogja 83kasus. Pasien sembuh berasal dari Bantul 830 kasus, Sleman (801), Kota Jogja (198),  Kulonprogo (175), dan Gunungkidul 117 kasus. Adapun kasus meninggal Kota Jogja 10 kasus, Bantul 24 kasus, Kulonprogo satu kasus, Gunungkidul 8  kasus dan Sleman 14 kasus.

Pemda DIY pun menggencarkan vaksinasi bagi salah satu kelompok berisiko tinggi, yakni ibu hamil, dengan menggandeng kampus. UGM mengawali gerakan ini dengan kegiatan menyuntik vaksin 1.100 ibu hamil pada Kamis (29/8), di Grha Sabha Pramana (GSP).

Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Ova Emilia, menjelaskan sebagai salah satu kelompok paling rentan, ibu hamil yang terinfeksi C-19 memiliki risiko lebih besar gejalanya memburuk dan memerlukan perawatan di ruang intensif. Terlebih dengan masuknya varian Delta. “Akhir-akhir ini mortalitas ibu hamil meningkat, dan ibu hamil merupakan kelompok risiko tinggi sehingga perlu peningkatan daya tahan tubuh,” katanya.

Salah satu upaya strategis yang dapat diambil, selain upaya preventif standar berupa pola hidup sehat dan menerapkan protokol kesehatan secara benar (mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, serta memakai masker dobel apabila diperlukan), adalah pemberian vaksinasi pada ibu hamil. Vaksinasi terhadap kelompok ibu hamil dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan yang ditetapkan pada 2 Agustus lalu.

Deklarasi vaksinasi bagi ibu hamil ini diselenggarakan atas kerja sama dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Pemda DIY, Polda DIY, jaringan rumah sakit dan Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang ditunjuk pemerintah pusat sebagai pelaksana vaksinasi bagi ibu hamil.

Ketua POGI cabang DIY, Diah Rumekti Hadiyati, menuturkan vaksinasi bagi ibu hamil di GSP ini hanya sebagai deklarasi dan sosialisasi, untuk kemudian dilanjutkan secara reguler di puskesmas agar aksesnya mudah. “Sisanya nanti akan berlangsung terus diharapkan akhir September suntikan pertama selesai. Akhir Oktober yang kedua sudah selesai,” ungkapnya.

Adapun syarat ibu hamil yang bisa divaksin yakni kandungannya berusia 13-33 pekan serta tidak sedang sakit. Sementara bagi ibu hamil yang memiliki penyakit seperti diabetes dan hipertensi, boleh mendapat vaksin asalkan sudah periksa dulu ke dokter sehingga penyakitnya terkontrol.

Ia mengungkapkan vaksinasi kepada ibu hamil sangat penting karena selama ini ibu hamil yang positif lebih berisiko bergejala berat dibanding pasien positif pada umumnya. “Dibandingkan dengan orang tidak hamil, yang masuk ICU orang hamil positif itu hampir 2,5 kali lipatnya. Penggunaan ventilator dibanding yang tidak hamil sampai setengah kali lipat,” katanya.

Sementara, Pemkab Bantul memulai vaksinasi untuk kelompok minoritas. Sebanyak 3.000 penyandang disabilitas (difabel) di Bantul mulai disuntik vaksin, Kamis (19/8). Berbeda dengan kelompok lain, para difabel ini mendapatkan vaksin Sinopharm.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan di Bantul ada 6.000 difabel. Namun dari jumlah tersebut yang bisa menerima vaksin bernama BBIBP-CorV dikembangkan The Beijing Institute of Biological Products bekerja sama dengan BUMN China, Sinopharm ini hanya 50%.

"Karena sasarannya untuk umur 18 tahun ke atas," kata Halim usai vaksinasi di Kantor Dinkes Bantul, Kamis

Halim mengatakan vaksinasi untuk difabel tidak hanya digelar pada Kamis di Kantor Dinkes Bantul dengan jumlah sasaran  445 orang, tetapi juga dilakukan di hari lain dan tempat berbeda. Vaksinasi terhadap difabel juga dilakukan untuk 500 orang di SLB Manding, Jumat (20/8) dan rumah sakit rehabilitasi medik Pundong.

"Karena sampai hari ini kami baru mendapatkan suplai Sinopharm sebanyak 1.430 dosis. Untuk dosis pertama, dan insyaallah dalam tiga hari ini bisa habis," ucap Halim.

Halim menyatakan sebelum 1.430 dosis Sinopharm yang diterima habis, Pemkab Bantul akan mengajukan permintaan vaksin Sinopharm ke Pemda DIY."Karena untuk penyandang disabilitas ini kami target September selesai vaksinasinya, apalagi sasaran hanya 3.000 orang," kata Halim.