Persiapkan Pembelajaran Tatap Muka, DIY Kebut Vaksinasi Pelajar

Vaksinasi pelajar SMP dan SMA Budi Utama, Sinduadi, Mlati, Sleman, Rabu (14/7/2021)-Harian Jogja - Gigih M Hanafi
22 Agustus 2021 22:37 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Vaksinasi untuk pelajar menjadi faktor penting dalam mempersiapkan pembukaan sektor pendidikan. Capaian vaksinasi pelajar belum signifikan sehingga terus dilakukan upaya percepatan.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan vaksinasi untuk guru hampir mencapai 100% sehingga dari sisi pengajar sebenarnya sudah siap melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Namun pelajar belum semuanya tervaksin, padahal saat ini penularan sangat rentan dengan adanya sejumlah varian baru Covid-19. Vaksinasi untuk pelajar saat ini terus dikebut seiring dengan upaya percepatan vaksinasi sasaran seluruh DIY.

“Guru sudah siap mengajar tatap muka, tentu bukan hanya gurunya tetapi anak-anak belum semua vaksinasi, tingkat penularan masih tinggi. Kalau dulu yang terkena tidak sakit, tetapi dengan adanya varian baru ini penularannya cepat,” katanya Minggu (22/8/2021).

Baca juga: Sentra Vaksinasi Covid-19 di Jogja Bertambah, Ini Lokasinya

Baskara Aji berpesan dengan sudah banyaknya guru di DIY telah divaksin diharapkan menjadi salah satu yang berperan dalam membantu menyosialisasikan protokol kesehatan.

“Kami berharap guru salah satu masyarakat kunci di desanya, RT, yang cenderung sering dianggap punya pengetahuan dibandingkan masyarakat lainnya terkait covid, supaya guru menjadi contoh bisa menyosialisasikan prokes, sudah disampaikan itu di rakor,” ujarnya.

Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya mengakui pelajar di DIY memang belum banyak yang divaksin, sehingga terus dilakukan percepatan. Per tanggal 16 Agustus 2021 lalu, data yang masuk ada 83.000 pelajar sudah masuk dalam list pendaftarana vaksinasi, dari angka tersebut sebanyak 8,3% persen telah divaksin. Adapun jumlah total sasaran siswa jejang SMA sederajat sebayak 147.000 siswa yang akan divaksinasi.

“Tetapi itu data sepekan yang lalu, dan angkanya pasti berubah karena vaksinasi pelajar terus dilakukan di kabupaten dan kota,” katanya.

Didik mengatakan sejumlah langkah percepatan dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti melibatkan alumni yang juga digelar di beberapa sekolah di DIY. Karena ada beberapa syarat minimal jumlah peserta ketika akan mengajukan vaksin guna melakukan vaksinasi.

Baca juga: Diparkir di Pinggir Jalan, Pikap Milik Warga Kasihan Dicuri

“Kami bekerja dengan berbagai pihak untuk melakukan percepatan seperti hari di SMA N 1 Kota Jogja dibantu dengan alumni. Terus berjalan nanti dengan berbagai pihak. Kemarin juga ada pramuka menyelenggarakan vaksinasi untuk pelajar juga,” katanya.

Selain itu percepatan vaksinasi pelajar, juga meminta bantuan kabupaten dan kota untuk ikut melakukan akselerasi di sekolah-sekolah, meski pun saat ini biasanya digelar secara terpusat di suatu tempat. “Percepatan bisa di sekolah, kami minta bantuan di kabupaten dan kota, bisa mengambil tempat di sekolah, tetapi biasanya terpusat di tempat yang luas seperti di GOR Amongrogo. Kami tidak berjalan sendiri menyesuaikan dengan stok vaksin, kerja sama berbagai pihak, agar semua pelajar bisa tervaksinasi,” ucapnya.

Sedangkan untuk guru hampir 100% telah divaksinasi, kata Didik, berdasarkan data pekan pertama Agustus 2021, hanya tersisa 1.096 guru di DIY yang belum divaksin. Jumlah itu sebagian besar karena saat mengikuti vaksinasi tidak memenuhi syarat tensi dan sejenisnya.

Terkait pembukaan sekolah, kata dia, tentu harus mengikuti rambu-rambu pemerintah pusat, apakah nanti sudah diperkenankan atau belum tentu menyesuaikan dengan kebijakan. Tetapi setidaknya sekolah sudah mempersiapkan diri, mulai dari menata kelas sesuai protokol kesehatan, sambil saat ini menyelesaikan vaksinasi untuk pelajar.

“Dari sisi kesiapan sekolah dilakukan pembelajaran, prokes, fasilitas kesehatan yang sudah disediakan seperti cuci tangan atur alur, sampai penataan jadwal, tetapi kami menguikuti instruksi Mendagri bahwa Level 4 belum memungkinkan, ya sudah kita ikut daring,” katanya.

Ia berharap seiring dengan percepatan vaksinasi pelajar ini, kasus Covid-19 terus menurun sehingga level DIY bisa menurun bahkan sampai ke hijau, sehingga PTM bisa segera dilakukan. DIY menargetkan semua warga termasuk pelajar telah divaksin pada Oktober 2021 mendatang, jika angka Covid-19 terus menurun, kata Didik, bukan tidak mungkin PTM bisa dibuka.

“Setelah anak divaksinasi harapannya sudah ada rambu-rambu atau lampu hijau untuk PTM terbatas dan prokes ketat. Kita harapkan demikian seiring mengikuti perkembangan penyebaran covid tren menurun, semoga menurun terus,” ujarnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyudi menyatakan vaksinasi pelajar menjadi salah satu program percepatan di Kota Jogja. Karena elemen pelajar termasuk menyumbangkan angka personal menuju herd immunity. Semakin banyak pelajar yang divaksin maka jumlah warga yang telah divaksin pun bertambah, sehingga harapannya ekonomi secara perlahan bisa berjalan.

“Kalau pelajar di Kota Jogja ini sudah semua divaksin ini indikasi awal untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Pekan depan akan dilaksanakan di GSP target 3.000 pelajar, sebelumnya ada di SMP N 8, kita fokuskan untuk 12 tahun ke atas, tidak hanya pelajar namun juga keluarganya,” katanya saat meninjau vaksinasi di SMAN 1 Jogja.

Haryadi menambahkan target pembukaan PTM SMP di Kota Jogja akan melihat perkembangan dari vaksinasi pelajar. Jika vaksinasi pelajar angkanya sudah 70 persen akan bertahap PTM mulai dievaluasi segera dilaksanakan secara terbatas.

“Mekanisme pembukaan, ada 70 persen sudah divaksin, kedua, masih ada 30 persen, prokes tetap dijalankan terutama jaga jarak. Yang paling penting harus persetujuan orang tua. Satu meja satu bangku,” ucapnya.

Sektor Industri

Selain sektor pendidikan, sektor industri juga terus diupayakan percepatan untuk menuju pembukaan kegiatan. Baskara Aji mengatakan saat ini ada beberapa perusahaan yang melakukan uji coba pembukaan. Terutama perusahaan yang melakukan ekspor maupun domestik sehingga hasil produksinya sangat dibutuhkan, selain itu pegawainya tergolong banyak.

“Perusahaan yang melakukan uji coba, karena dari sisi produksi diperlukan untuk ekspor maupun domestik, lalu, pegawainya banyak sehingga kalau diuji coba enam perusahaan sekitar 6.000 pegawai masuk. Ini uji coba, sebagai salah satu pilot project penerapan prokes, di perusahaan, dari evaluasi enam perusahaan itu nanti akan jadi acuan bagi perusahaan lain. Mayoritas sektor wig, pakaian jadi, di Jogja hampir semua untuk ekspor,” katanya.