Mahasiswa UGM Olah Jadi Bahan Penyerap Ramah Lingkungan

Suwarsono menunjukkan pohon pisang berbuah tiga tandan di pekarangan rumahnya di Dusun Kedung Banteng, Kalurahan Temon Kulon, Kapanewon Temon, Selasa (23/6/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
24 Agustus 2021 07:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, DEPOK--Pelepah pisang belum dimanfaatkan secara optimal dan berakhir menjadi limbah. Padahal, di dalam pelepah pisang memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yang bisa digunakan sebagai bahan penyerap dengan kemampuan serap yang tinggi. Hal ini menjadi landasan tim mahasiswa UGM untuk mengolah limbah pelepah pisang menjadi bahan penyerap atau hidrogel ramah lingkungan.

Mahasiswa Biologi yang merupakan anggota tim pengembang hidrogel limbah pelepah pisang, Hardian Ridho Alfalah, menjelaskan untuk memperoleh selulosa dari limbah pelepah pisang ini, Rido menjelaskan dilakukan proses isolasi agar dapat menghasilkan selulosa yang bebas dari kandungan zat lain seperti lignin dan hemiselulosa.

BACA JUGA : Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Kerumunan

Selulosa inilah yang menjadi bahan utama dalam proses pembuatan bahan penyerap dengan kemampuan serap yang tinggi. "Selulosa yang dihasilkan kemudian disintesis menjadi turunannya karboksimetilselulosa. Hasilnya diperoleh bahan penyerap berbasis yang memiliki daya serap yang tinggi melalui proses ikat silang," ujarnya, Senin (23/8/20218).

Timnya memakai empat varietas limbah pelepah pisang dalam penelitiannya. Keempat varietas yang digunakan adalah pisang Ambon, pisang Mas, pisang Raja, hingga pisang Kepok. Keempatnya memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda sebagai bahan penyerap.

“Keempat varietas pisang lokal yang kami pilih karena mudah untuk ditemukan dan harganya tidak terlalu mahal, bahkan terkadang kita bisa menemukannya di pekarangan rumah sendiri,” ujarnya.

Peneliti lainnya yang merupakan mahasiswa FMIPA, Talitha Tara Thanaa, menuturkan pengembangan hidrogel dari limbah pelepah pisang ini diawali dari keprihatinan mereka terhadap limbah popok bayi yang jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Limbah popok bayi yang menumpuk sulit untuk terurai sehingga mencemari lingkungan.

BACA JUGA : Mahasiswa UGM Ciptakan Lagu Kritik Mal, Hotel hingga

"Biasanya bayi memakai popok 3-4 buah per hari. Sementara tiap tahun di Indonesia ada 4,2-4,8 juta ibu hamil melahirkan bayi. Jadi, bisa banyaknya dibayangkan limbah popok ini. Padahal, bahan penyerap atau Super Absorbent Polymer [SAP] yang terdapat dalam popok bayi, berfungsi menyerap dan menyimpan air mengandung natrium akrilat yang berasal dari minyak bumi,” katanya.

Kandungan tersebut sulit untuk terurai oleh lingkungan. Tidak hanya itu, air atau kotoran yang tersimpan dalam popok bisa membahayakan kesehatan tubuh. Maka pengembangan bahan penyerap berbasis selulosa ini diharapkan dapat menjadi inisiator dalam pengembangan popok bayi ramah lingkungan.