Indonesia Butuh Banyak Insinyur yang Profesional

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto dalam diskusi secara virtual bersama Senat Fakultas Teknik UGM, Selasa (24/8/2021) dan Rabu (25/8/2021. - Tangkapan layar
25 Agustus 2021 13:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Insinyur memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia ini. Hal itu merupakan kesepakatan dari World Federation of Engineering Organizations (WFEO), yang merupakan organisasi tingkat internasional yang mewadahi insinyur.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Heru Dewanto mengatakan World Federation of Engineering Organizations mendorong para insinyur untuk terlibat menyelesaikan masalah-masalah dunia. "Karena untuk menyelamatkan bumi perlu adanya teknologi, dan teknologi adalah produk dari insinyur," kata Heru dalam pemaparannya di Workshop Senat Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digelar secara daring, Rabu (25/8/2021).

Heru menjelaskan dengan perkembangan teknologi saat ini dan untuk menyongsong Revolusi Industri 5.0, maka peranan insinyur juga sangat diperlukan. Ketua Umum PII ini juga mengatakan dalam revolusi industri semuanya dibutuhkan hal praktis di bidang engineering science, biomedical engineering, nano teknologi serta kecerdasaan buatan.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, talent gap Indonesia terbesar ada di bidang hospitality and tourism, infrastructure development, sustainable engineering, sustainable management of natural commodities, manufacturing, modern agriculture dan pendidikan. Empat dari delapan tema tersebut, katanya berkaitan dengan ke-insinyur-an. Gap atau selisih tersebut menurutnya mengganggu pertumbuhan Indonesia.

"Jadi wajar kalau ada pertanyaan, apakah ada broken chain. Ada ketidakselarasan antara kompetensi yang diajarkan di kampus, dengan kebutuhan dunia kerja," katanya.

Di acara yang juga dihadiri oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto itu, Heru mengatakan perlu ada penyelarasan antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang dimiliki seorang insinyur. Selain itu standarisasi juga harus terus dilakukan, agar lulusan fakultas teknik lebih bisa bersaing di dunia kerja.

"Hari ini kita sudah memiliki dua puluh ribu insinyur profesional yang bisa disetarakan dengan insinyur dunia. Setiap tahunnya ada dua ratus ribu lulusan fakultas teknik. Dari dua ratus ribu lulusan sarjana teknik di seluruh Indonesia, baru sekitar dua puluh ribu yang memiliki kompetensi," katanya.

PII yang keberadaannya diamanatkan di undang-undang dan bukan lagi sekadar organisasi profesi, menurut Heru terus berperan aktif dalam mendorong standarisasi lulusan fakultas teknik. Saat ini, katanya, standarisasi nasional dan standarisasi internasional politeknik yang ada di Indonesia, sudah dilakukan oleh badan tetap PII.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Djagal Wiseso Marseno, dalam acara tersebut menyampaikan secara keseluruhan dunia kampus akan berubah. Semua pihak harus bisa mengantisipasi, termasuk UGM dan fakultas teknik UGM.

"Dunia engineering juga. Kita lihat China, sering kita dengar China membangun rumah sakit hanya dalam satu hari, membangun jembatan juga demikian, ini juga harus kita antisipasi," terangnya.