Terdampak PPKM, Pelaku Wisata Glagah Gadaikan Motor hingga Perhiasan

Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulonprogo saat menutup objek wisata pantai Glagah pada Sabtu (3/7/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo\\r\\n
27 Agustus 2021 09:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, TEMON--Sejumlah pelaku wisata di kawasan pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kulonprogo terpaksa harus gigit jari selama penerapan PPKM level empat di wilayah Bumi Binangun. Pendapatan mereka nihil sehingga kebutuhan sehari-hari terbengkalai. Solusinya, pelaku wisata sebagian menggadaikan barang pribadinya seperti motor dan perhiasan.

Pemilik Warung Makan Cemara Indah di Pantai Glagah, Sri Warningsih mengatakan selama penerapan PPKM dirinya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, yakni berdagang di kawasan wisata unggulan di wilayah kabupaten Kulonprogo ini.

BACA JUGA : 7,5 Ton Beras Dibagikan pada Masyarakat Terdampak PPKM

"Para pelaku wisata tidak bisa beraktivitas sehingga kehilangan penghasilan. Padahal kebutuhan kami jalan terus. Tidak hanya makan sehari-hari, tapi juga bayar cicilan dan beli kuota untuk anak-anak belajar daring. Kondisi tersebut membuat kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sri pada Kamis (26/8/2021).

Sri dan sejumlah pelaku wisata di kawasan pantai Glagah lainnya sudah berusaha mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Seperti berjualan online dan menjadi buruh tani. Namun, upaya tersebut masih jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Pendapatan yang diperoleh hanya berkisar 10-20 persen dari kondisi normal. Kami terpaksa harus menjual atau menggadaikan barang berharga yang dimiliki seperti motor dan perhiasan. Tidak sedikit pelaku wisata yang menjual atau menggadaikan perhiasan. Apa yang kita punya, ya itu yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Sri.

Pelaku wisata lainnya di kawasan pantai Glagah yakni Bento Sarino mengatakan jika ia harus menggadaikan sepeda motor miliknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya di tengah penerapan PPKM level empat.

"Keputusan untuk menggadaikan motor untuk menutup kebutuhan operasional penginapan dan kebutuhan sehari-hari keluarga. Motor R25 saya jadi pintar sekarang, karena sekarang sekolah [digadaikan]," terang Bento.

BACA JUGA : Terdampak PPKM, 73 Hotel & Restoran di DIY Tutup Permanen

Tidak adanya kunjungan wisatawan ke penginapannya selama penerapan PPKM menjadi musabab motor kesayangannya tersebut digadaikan. Sebelum penerapan PPKM, ia biasanya menerima kunjungan wisatawan sebanyak 10 sampai dengan 15 orang.

"Namun, setelah penerapan PPKM, tamu yang datang hanya ada dua sampai tiga tamu. Jadi ya saya sering tombok ya. Semoga PPKM ini segera dicabut dan aktivitas wisata kembali seperti semula. Selama penerapan PPKM, kami sering prihatin," sambung Bento.

Program Sambanggo

Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo sebenarnya telah menyiapkan program bagi pelaku wisata yang terdampak pandemi Covid-19. Sebagai salah satu upaya membantu pengelola wisata menghadapi dampak dari pandemi Covid-19, Dinas Pariwisata meluncurkan program sambanggo yang merupakan singkatan dari sambang Kulonprogo.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Joko Mursito mengatakan sektor pariwisata di kabupaten Kulonprogo cukup terpukul dengan adanya pandemi Covid-19. Terlebih, pemerintah pusat memutuskan untuk memberlakukan PPKM yang masih berlaku hingga saat ini di wilayah kabupaten Kulonprogo.

Bantuan dana juga diberikan kepada pengelola objek wisata gunung kuniran. Bantuan ditujukan untuk memotivasi pengelola objek wisata untuk melakukan promosi wisata dengan berbagai platform. Salah satunya, melalui tayangan di media sosial.

"Kegiatan sambanggo menyasar 10 titik objek wisata. Baik yang dikelola oleh Pemkab Kulonprogo maupun yang dikelola oleh swasta. Kita pakai mekanisme proposal ya. Jadi, yang layak menerima bantuan akan kami datangi. Tentunya yang dapat bantuan adalah objek wisata yang terus melakukan inovasi," ujar Joko.