Warga Bener Ubah Minyak Jelantah Jadi Sabun

Aktivitas di Bank Sampah Salingsih, Kelurahan Bener, Senin (20/9). Harian Jogja - Yosef Leon
21 September 2021 09:17 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, TEGALREJO - Semangat penerapan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) tidak hanya bisa diterapkan pada sampah. Bank sampah Salingsih Kelurahan Bener, Tegalrejo, Kota Jogja menerapkan pola itu pada sisa bekas minyak goreng atau yang biasa disebut minyak jelantah (mijel) untuk diolah menjadi sabun.

Bendahara Bank Sampah Salingsih Bener, Eka Astuti mengatakan, minat warga untuk menabung di bank sampah tersebut cukup tinggi. Manfaat yang dirasakan warga berupa lingkungan kian bersih dan mendapat pundi-pundi rupiah menjadikan pengelolaan bank sampah optimal.

BACA JUGA : Daripada Dibuang, Minyak Jelantah Ditukarkan Uang Tunai 

Bank sampah itu mengolah berbagai macam sampah menjadi pelbagai macam barang bernilai ekonomis, satu diantaranya adalah sabun mijel. Sabun ini biasanya digunakan untuk mencuci serbet dan bagian kerah baju. Penggunaannya tidak disarankan untuk kulit atau kain berbahan lembut.

"Dalam mengolah mijel menjadi sabun itu dikasih soda api dan pewarna juga kemudian pewangi. Lalu dicetak menjadi sabun mijel, yang khusus untuk mencuci serbet atau kerah baju yang kotor, bukan untuk pemakaian kulit atau kain lembut," ujar Eka, Senin (20/9/2021).

Dia menjelaskan, dalam pengolahannya satu resep sabun mijel membutuhkan sedikitnya satu liter mijel. Mijel itu disisihkan dari sebagian minyak yang disediakan warga setiap bulannya. Dan kini telah dipasarkan dari rumah ke rumah.

"Diolah disini dengan warga sekitar kemudian juga dijual sendiri juga. Memang sangat bermanfaat untuk membersihkan kerah baju atau serbet. Satu resep itu butuh satu liter dan bisa menghasilkan sekitar 20 an lebih sabun," ujarnya.

Ketua RW 02 Bener, Susilo Pratomo menyebut, bank sampah itu berdiri sejak 2007 lalu dan sempat pasang surut pengelolaannya akibat pergantian pengurus. Kemudian kembali aktif pada 2009 dan terus dikelola sampai saat ini.

"Jumlah nasabah meningkat terus. Sekarang nasabah sudah mencapai 107 dari 198 KK. Kita akan sosialisasi terus agar nasabah bertambah dan keinginan untuk mengolah sampah itu tinggi," ujarnya.

Dalam sebulan, warga menyetorkan sampah ke tempat pengelolaan sebanyak satu kali yakni pada minggu ke tiga setiap bulan. Sistemnya bisa ditabung dulu dengan sistem pencatatan di buku tabungan atau bisa pula langsung dicairkan sesuai dengan kebutuhan warga.

"Sudah ada beberapa program dari kami, yakni  mengubah sampah jadi kerajinan daur ulang misalnya tempat minum, tas, pot dari bekas handuk, dan lain sebagainya. Kemudian yang organik itu kita olah lagi menjadi pupuk kompos untuk gerakan penghijauan dibuat seperti model biopori. Dan kalau sampah yang tidak bisa diolah itu dijual ke pengepul," ucapnya.