278 Tim Robot Berkompetisi di KRI 2021

Juri dan panitia KRI 2021 tingkat wilayah memantau jalannya kompetisi secara daring dari GSP UGM, Kamis (23/9/2021). - Ist.
24 September 2021 09:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, DEPOK--Sebanyak 278 tim robot dari 107 perguruan tinggi di Indonesia berkompetisi dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) Tingkat Wilayah yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Puspresnas Kemdikbud Ristek), yang digelar secara daring mulai 22 September hingga 1 Oktober dengan UGM sebagai tuan rumah penyelenggara.

KRI Wilayah dikelompokkan dalam dua bagian yakni KRI Wilayah I dan KRI Wilayah II. Dalam KRI Wilayah I diikuti 140 tim mahasiswa dari 54 perguruan tinggi di wilayah Indonesia bagian Barat. Lalu, KRI Wilayah II diikuti 138 tim mahasiswa dari 53 perguruan tinggi di wilayah Indonesia bagian Timur.

BACA JUGA : UGM Tuan Rumah Kontes Robot Indonesia 2021

Koordinator Pokja Dikti Puspresnas, Rizal Alfian, menyampaikan KRI merupakan kontes robotika tahunan yang ditujukan untuk memfasilitasi minat, ide, serta kreativitas mahasiswa dalam bidang teknologi robotika.

“Dari KRI ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki segudang talenta di bidang robotika. Harapannya kedepan hasilnya bisa digiring ke industri sehingga bisa memberikan manfaat dan menawarkan solusi akan persoalan di masyarakat melalui robot dan teknologi,” ujarnya saat membuka KRI 2021 di Grha Sabha Pramana UGM, Kamis (23/9/2021).

Salah satu dewan juri KRI, Benyamin Kusumoputro, mengatakan tahun 2021 menjadi tahun kedua penyelenggaraan KRI secara daring.  Menurutnya, terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi dalam pelaksanaan KRI daring yakni fairness dan fairplay.

Fairness berarti semua tim memiliki kemampuan teknologi dan infrastruktur yang sama. Sedangkan fairplay yaitu tim yang berkontes bisa bermain dengan jujur. “Fairness itu dari infrastruktur harus bisa merata pada peserta dan tim mahasiswa yang bertanding harus bisa bermain secara fairplay,” katanya.

Benyamin menyebutkan melaksanakan kompetisi daring secara fairness terbilang sulit karena terdapat ketidaksamaan infrastruktur di setiap wilayah Indonesia. Misalnya, terkait persoalan jaringan seperti terjadi delay di Pulau Jawa biasanya berlangsung 3-5 detik, tetapi di luar Pulau Jawa delay terjadi lebih dari 10 detik.

Merespons adanya kerusakan jaringan karena putusnya kabel laut, Benyamin mengatakan ada perubahan proses penjurian. Penilaian akan dilakukan dengan mengambil rata-rata nilai dari beberapa kali pertandingan. “Penjurian kita ubah karena takutnya saat tim bermain dapat giliran putus koneksi sehingga diambil beberapa kali pertandingan dan ambil rata-ratanya,” ungkapnya.

BACA JUGA : 220 Tim Pelajar Beradu Karya Robot di Taman Pintar

Direktur Kemahasiswaan UGM, Suharyadi, mengatakan KRI 2021 akan dilaksanakan secara daring dengan peserta akan bertanding di universitas masing-masing yang ditayangkan secara daring melalui video conference. Sementara itu, juri dan panitia terpusat secara luring di GSP UGM. Setelah Tingkat Wilayah, babak selanjutnya akan dilaksanakan KRI Tingkat Nasional pada 12-17 Oktober.

KRI melombakan enam divisi, yakni Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) yang sebelumnya bernama Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI), KRSBI Humanoid, Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), dan Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI).

Tim-tim terbaik di tingkat wilayah nantinya akan melaju berkompetisi kembali di KRI tingkat Nasional. Juara pertama KRI 2021 akan ditunjuk mewakili Indonesia dalam ABU Robocon 2021 secara daring di China.