Isoter dan RS Darurat Covid-19 di Sleman Bakal Ditutup Sementara

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo melihat kesiapan operasional RS Darurat Khusus Covid-19 Respati di Jalan Tajem, Senin (19/7 - 2021)/ist
28 September 2021 20:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Setelah Badan Nasional Penanggulangan BNPB Bencana (BNPB) berencana menutup tiga gedung Isolasi Terpusat (Isoter) di Sleman, giliran Pemkab Sleman menimbang-nimbang untuk melakukan langkah yang sama. Pemkab akan menutup sejumlah Isoter yang selama ini dikelola sendiri.

Tak hanya Isoter di Asrama UII, Asrama Unisa, Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang, Pemkab juga berencana menutup sementara operasional Rumah Sakit Darurat Khusus (RSDK) Covid-19 Respati. Hal ini melihat situasi penyebaran Covid-19 di Sleman menurun drastis.

"Ya seiring kondisi Sleman sudah membaik, kasus Covid-19 terus menurun maka (penutupan) ini untuk efesiensi baik di Isoter maupun RS Darurat. Pertimbangan lainnya agar kami berhemat dan tidak dinilai sebagai melakukan pemborosan anggaran," kata Sekretaris Daerah Sleman, Harda Kiswaya saat dikonfirmasi, Selasa (28/9/2021).

BACA JUGA: Dipecat PSI, Viani: Saya Masih Anggota DPRD DKI

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Cahya Purnama. Pemkab, kata Cahya selama ini masih mengelola empat Isoter. Dua Isoter berada di Kampus, yakni Asrama Mahasiswa UII dan Unisa dan lainnya berada di Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang.

"Berdasarkan data terakhir, Senin (27/9/2021) kemarin, keempat Isoter itu hanya diisi oleh empat pasien," katanya.

Kenyataan tersebut, kata Cahya, menjadi pertimbangan Dinkes untuk menutup sementara operasional Isoter. Apalagi BOR atau keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan juga untuk pasien Covid-19 juga berkurang drastis. "Kalau yang mengisi semakin menurun ya otomatis akan kami lakukan efisiensi. Misalnya dari empat Isoter bisa dikurangi menjadi dua atau satu," katanya.

Terkait nasib RSDKC Respati, Cahya juga mengutarakan hal yang sama. Demi efesiensi anggaran, Pemkab juga akan menutup sementara operasional rumah sakit tersebut. "Nanti kalau misalnya ada lonjakan lagi, bisa direaktivasi lagi. Sama juga dengan Isoter," katanya.

Terpisah, Kepala RSDKC Respati Tunggul Birowo mengatakan dari kapasitas 50 bed pasien untuk penanganan Covid-19, saat ini tidak ada pasien yang menggunakan layanan di rumah sakit tersebut. "Tidak ada pasien (yang dirawat). Memang ada rencana menutup sementara operasional rumah sakit ini, namun sebaikny konfirmasi langsung dengan kepala dinas," katanya.


Penanggungjawab Fasilitas Kesehatan Darurat Covid-19 (FKDC) Sleman Makwan menjelaskan saat ini jumlah pasien yang menghuni Isoter terus berkurang. Kondisi ini tidak lepas dari terus menurunnya kasus Covid-19 di Sleman.


Dari empat Isoter yang dikelola Pemkab, hanya empat pasien yang masing berada di Rusunawa Gemawang dua pasien dan Asrama UII dua orang. "Untuk Isoter di Asrama Haji dan Asrama Unisa nol, tidak ada pasien," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Heny Nursilawati mengatakan pemerintah akan menutup tiga Isoter yang selama ini beroperasi di Sleman. Ketiga Isoter tersebut meliputi Perumahan Aparatur Sipil Negara (ASN) Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) di Maguwoharjo, asrama mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Selain itu, Isoter di Asrama Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kalitirto, Berbah, Sleman juga akan ditutup per 1 Oktober nanti. Saat ini, pihaknya masih menyelesaikan pasien yang sedang menyelesaikan masa isolasi hingga akhir September

"Meski ketiga Isoter tersebut ditutup, pemerintah tetap melanjutkan operasional shelter-shelter Covid-19 yang dikelola oleh Dinas Sosial (Dinsos) DIY," kata Heny.