SERTIFIKASI CHSE: Bujet Minim, Manfaatkan Kayu Bekas untuk Penunjuk Arah

Asesor dari Kemenpraf saat melakukan verifikasi lapangan untuk proses penerbitan sertifikasi CHSE di objek wisata Cave Tubing Kalisuci di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Jumat (1/10/2021). - Istimewa
23 Oktober 2021 10:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULObjek wisata Cave Tubing Kalisuci di Kalurahan Pacarejo, Semanu menjadi salah satu destinasi wisata di Gunungkidul yang mengantongi sertifikat Cleanliness, Health, Safety, Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Seperti apa proses mendapatkan sertifikat untuk uji coba pembukaan wisata ini? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, David Kurniawan.

Sejak Juli lalu, atau saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diberlakukan objek wisata Cave Tubing Kalisuci praktis menjadi sepi.

Hanya ada satu atau beberapa orang pengelola yang datang ke lokasi untuk melihat kondisi kesekretariatan.

Namun, selang empat bulan kemudian atau tepatnya pada Jumat (1/10/2021), kondisi berbeda terjadi di kesekretariatan. Suasananya lebih ramai dari biasanya. Maklum lokasi wisata ini akan diverifikasi lapangan guna mendapatkan sertifikasi CHSE, sebagai salah satu syarat membuka kembali destinasi wisata.

Sekitar pukul 08.00 WIB, tim asesmen yang ditunjuk dari Kemenpraf tiba di lokasi. Pengelola Kalisuci menyambut kedatangan dua orang ini. Selanjutnya, dilaksanakan pembukan acara asesmen, asesor langsung bekerja sesuai ketugasannya memverifikasi lapangan dalam proses penerbitan sertifikat CHSE.

Asesor ini meneliti seluruh detail dari persyaratan yang dimasukkan dalam aplikasi pada saat pendaftaran. Tak hanya melihat check list yang diisi, tetapi juga melihat secara langsung satu per satu item yang dibutuhkan.

Total ada 84 persyaratan yang harus diperiksa. Secara garis besar verifikasi ada empat kelompok besar menyangkut kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan guna mendukung protokol kesehatan di destinasi.

Satu per satu pun dicek mulai dari pintu masuk, keseketariatan hingga kamar mandi. Asesor pun harus turun ke lokasi susur gua guna melihat keamanan saat aktivitas wisata dilaksanakan.

Proses verifikasi ini berlangsung seharian penuh karena berakhir hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Meski demikian, jerih payah dari pengelola membuahkan hasil karena asesor menilai ada kesesuaian antara yang diisi dalam aplikasi dengan verifikasi lapangan.

“Kami mendapatkan nilai 100 karena dari 84 poin yang disyaratkan, Kalisuci bisa memenuhi semuanya,” kata Koordinator Pengelola Cave Tubing Kalisuci, Muslam Winarto kepada Harian Jogja, Jumat (15/10/2021).

Meski mendapatkan nilai sempurna, dia mengakui proses mendapatkan sertifikat tidak mudah. Untuk asesmen, pengelola mempersiapkan waktu sekitar satu pekan guna memenuhi persyaratan yang dibutuhkan seperti yang tertuang pada saat mengisi kuisoner pendaftaran CHSE. “Semua harus dipersiapkan mulai dari fasilitas pendukung protokol kesehatan hingga perbaikan sarana prasarana yang rusak di area wisata,” katanya.

Menurut Winarto, salah satu kendala terletak pada biaya karena untuk melengkapi alat yang membutuhkan dana. Sedangkan sejak aktivitas wisata ditutup, praktis tidak ada pendapatan yang masuk. “Kami pun harus putar otak karena dana terbatas harus melengkapi segala yang dibutuhkan agar sesuai dengan persyaratan,” katanya.

Guna menyiasati kendala ini banyak memanfaatkan benda-benda di sekitar destinasi. Sebagai contoh, untuk papan peringatan dan penunjuk arah memanfaatkan kayu bekas. Papan-papan ini disulap untuk rambu-rambu serta petunjuk bagi wisatawan yang akan merasakan sensasi susur gua di Kalisuci.

Ia mengungkapkan banyak papan petunjuk atau rambu yang dibuat mulai dari jalur evakuasi, petunjuk arah, hingga imbauan membuang sampah pada tempatnya. “Mau bagaimana lagi dana yang dimiliki terbatas. Bahkan untuk pintu kamar mandi yang rusak belum bisa diganti dan hanya diperbaiki dengan cara ditambal menggunakan seng,” ujarnya.

Selain itu, untuk imbauan tentang protokol kesehatan, pengelola memilih bahan yang tahan lama. Dipililah poster dalam bentuk stiker yang dinilai praktif dan bisa ditempel di tempat-tempat strategis. “Ya kalau dalam bentuk spanduk akan butuh banyak. Tapi dengan poster, maka bisa ditempel di mana saja sehingga dapat dilihat dengan jelas oleh pengunjung,” katanya.

Meski ada kendala dalam persiapan, Winarto mengaku proses asesmen tidak ada masalah. Sebagai destinasi minat khusus, sejak awal sudah diberlakukan pembatasan jumlah pengunjung serta memegang prinsip keselamatan dan kelestarian lingkungan. “Asesor juga sempat tidak percaya kalau destinasi yang kami kelola ada pembatasan, bahkan jauh-jauh sebelum ada virus Corona. Tapi setelah dijelaskan terkait dengan kapasitas dan kelestarian lingkungan, bisa menerimanya alasan yang kami kemukakan,” katanya.

Menurut dia, proses asesmen sudah selesai dan tinggal menunggu terbitnya sertifikat CHSE. “Kami masih tunggu karena informasi yang diperoleh, sertifikat diserahkan paling lama satu bulan setelah asesmen,” katanya.

Winarto menambahkan untuk uji coba pembukaan, pengelola Kalisuci juga sudah memperoleh QR code aplikasi Peduli Lindungi. Terkait dengan sinyal akses Internet, ia memastikan tidak ada masalah karena menyediakan fasilitas Wifi untuk pengunjung. “Mudah-mudahan bisa segera dibuka sehingga roda perekonomian kembali berputar,” katanya.

Sebelumnya, saat DIY masih dalam level 3 PPKM sebenarnya Pemkab Gunungkidul sudah mengajukan sejumlah objek wisata ke Pusat. Namun, kata Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono belum ada destinasi wisata yang dibuka. “Ada 19 lokasi yang kami usulkan untuk uji coba. Salah satunya destinasi cave tubing Kalisuci,” katanya.

Menurut dia, pengusulan dilakukan karena destinasi sudah memiliki QR code aplikasi Peduli Lindungi serta mendapatkan sertifikasi CHSE. “Dikarenakan sudah lengkap, maka kami berani mengusulkan untuk dibuka,” katanya.