Klaster Takziah di Sleman Kini Sudah Menyebar di 7 Kecamatan, Terbanyak Godean

Ilustrasi. - Freepik
05 November 2021 18:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Penyebaran covid-19 dari Klaster Takziah Sedayu Bantul mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman. Pasalnya per Jumat (5/11/2021) sebaran kasus ini sudah mencapai 69 kasus.

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama mengatakan hingga Jumat pagi data persebaran klaster ini di Sleman tercatat menjadi 69 kasus. Dari segi wilayah, persebaran klaster ini terjadi di tujuh kapanewon. Padahal sebelumnya hanya tercatat hanya di 4-5 kapanewon.

Saat ini, selain di Kapanewon Seyegan, Gamping, Godean, Minggir dan Moyudan klaster ini juga tersebar di Ngaglik dan Depok. Hanya saja di Ngaglik dan Depok masing-masing ditemukan satu kasus. "Sebaran kasus Klaster Sedayu Bantul ini berjumlah 69 kasus terdiri dari 47 laki-laki dan 22 perempuan," kata Cahya kepada Harian Jogja, Jumat (5/11/2021).

Dinkes mencatat, kasus terbanyak klaster ini berada di Kapanewon Godean totalnya tercatat 31 kasus. Sebanyak 16 kasus ditangani di Puskesmas Godean 1 dan 15 kasus di Puskesmas Godean 2. Terbanyak kedua berada di Kapanewon Gamping dengan total 16 kasus. Sebanyak 14 kasus tercatat di Puskesmas Gamping 1 dan dua kasus di Pusmesmas Gamping 2.

BACA JUGA: Buntut Kasus Dugaan Penyiksaan di Penjara Sleman, 5 Petugas Lapas Dicopot

Di Puskesmas Moyudan tercatat sebanyak 9 kasus, Puskesmas Minggir (6 kasus), Puskesmas Seyegan (5 kasus), Puskesmas Ngaglik 2 dan Puskesmas Depok 3 masing-masing ditemukan satu kasus.

Diakui Cahya, penyebaran klastsr ini terjadi begitu cepat sehingga Dinkes menaruh perhatian besar agar jumlah klaster tidak terus bertambah. "Sejak kejadian awal pada 30 Oktober hanya empat kasus namun per 5 November atau dalam waktu tujuh hari bertambah menjadi 69 kasus," terang Cahya.

Cepatnya penyebaran pada klaster ini, lanjut Cahya, karena warga yang terpapar berstatus sebagai OTG (orang tanpa gejala). Selain itu, setelah vaksinasi terjadi pengendoran protokol kesehatan sehingga mempercepat penyebaran kasus. Kedua hal ini yang memicu cepatnya penyebaran.