Murid di Jogja Tertular Covid-19 Klaster Sedayu, Pemkot Swab Acak

Ilustrasi. - Antarafoto
15 November 2021 11:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Salah satu peserta didik tingkat Sekolah Dasar di Kota Jogja terpapar Covid-19. Dia tertular dari klaster Sedayu, Bantul.

Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, peserta didik tersebut terpapar dari kakak yang tinggal di Sedayu.

Dalam dua hari terakhir, peserta didik tersebut sempat masuk sekolah. Kala itu belum ada deteksi apabila dia terkena Covid-19. "Ada terintervensi kasus Sedayu, ada anak yang keluarganya terpapar, tapi nekat dimasukkan ke sekolah," kata Heroe di Kompleks Balai Kota Jogja, Senin (15/11/2021).

Setelah diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melakukan skrining pada 19 orang yang sekelas dan juga kontak erat. "Kami tes negatif semua. Ini menunjukkan kami taat protokol kesehatan, meski berada di tengah-tengah proses belajar, anak lain tidak terpapar. Ini harus menjadi gaya hidup kita yang baru," kata Heroe yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja.

Selain skrining di sekolah yang ada kasus tersebut, Pemkot Jogja juga mulai menggelar swab antigen acak di sekolah-sekolah lain. Beberapa sekolah sudah berlangsung, sementara lainnya menunggu jadwal. Heroe belum memberikan detail sekolah yang sudah melakukan swab acak.

Baca juga: Setelah Klaster Takziah Sedayu, Muncul Klaster Tahu di Gamping Sleman

"Sekarang sedang dikondisikan jadwalnya, karena barengan dengan rancangan vaksinasi 12 ke bawah," kata Heroe.

Tidak hanya di lingkungan sekolah, swab antigen acak juga menyasar wilayah perkantoran, terutama bagian layanan publik. Beberapa orang yang bekerja di pelayanan berpotensi bertemu banyak orang dengan berbagai kondisi.

"Sampai sejauh ini, Alhamdulillah hasilnya negatif semua. Skrining di sekolah atau perkantoran ini kan untuk melacak apakah ada sebaran di Kota Jogja," katanya.

Berkaca dari munculnya klaster di wilayah sekitarnya, Pemkot Jogja semakin memperketat peraturan penyelenggaraan kegiatan. Salah satunya penyelenggara harus mendapat izin dari satgas Covid-19.

"Biasanya itu sebelum izin muncul, kami verifikasi dahulu, dan yang ada potensi kerumunan kami minta kepastian, supaya jangan sampai terjadi. Saat kegiatan, satgas kemantren dan kelurahan memonitor juga," kata Heroe.