SMK-SMTI Yogyakarta, Mewujudkan Pendidikan Berbasis Teknologi

Kepala SMK/SMTI Yogyakarta, RR Ening Kaekasiwi
16 November 2021 21:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan kompleks yang dihadapi oleh berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu penerapan Internet of Thing (IoT) di semua lini adalah target penting Kepala Sekolah SMK-SMTI Yogyakarta, RR Ening Kaekasiwi di periode keduanya memimpin sekolah itu.

Memulai karier dari awal sebagai guru honorer di SMK-SMTI Yogyakarta hingga kemudian mencapai pucuk pimpinan, membuat Ening tahu seluk beluk sekolah menengah yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian RI itu. Di sisi lain, perempuan kelahiran Jogja 11 April 1968 ini juga alumnus sekolah tersebut yang menamatkan pendidikannya pada 1987.

Sekitar tahun 1990-an, sambil menyelesaikan pendidikan tingkat sarjananya di salah satu kampus di Jogja, Ening mulai mengajar karena minimnya tenaga pendidik di sekolah itu. Hingga kemudian dia ikut serta dalam seleksi aparatur sipil negara (ASN) dan diterima di instansi itu. Kini, telah sekitar 20 tahun lebih ia mengabdikan pikiran, waktu dan tenaganya di SMK-SMTI Yogyakarta.

"Saya dulu tujuannya bukan langsung kerja meskipun sekolahnya SMK dan saya mulai memang dari bawah sebagai guru honorer sampai sekarang. Pada 2017 saya ikut seleksi kepala sekolah dan 2021 kemarin habis periode pertama. Lalu sekarang lanjut lagi di periode kedua sampai 2025," kata Ening, Kamis (11/11/2021).

Ening menyebut, ada perasaan bangsa sekaligus tertantang saat dirinya ditunjuk sebagai kepala sekolah di SMK-SMTI Yogyakarta. Sebagai salah satu alumnus sekolah, ia merasa punya perasaan yang kuat untuk membawa nama sekolah itu kian dikenal dan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun, tantangan dunia pendidikan di era digital juga tidak sedikit. Ada banyak hal yang perlu diperbaikinya untuk membuat sekolah punya daya tawar yang tinggi.

Dia punya tiga target yang mesti dicapai saat periode pertamanya memimpin, yaitu akreditasi perpustakaan sekolah, perbaikan kualitas teaching factory serta membuat sistem teknologi informasi sekolah yang terintegrasi dalam satu sistem.

Menurut Ening, dua target awal sudah dicapainya di periode pertama kepemimpinan. Akreditasi perpustakaan telah keluar pada 2020 lalu dan kini sistem kepustakaan telah berbasis daring baik peminjaman, pengembalian, melihat koleksi buku maupun lainnya.

Kemudian untuk teaching factory juga dianggapnya telah berhasil. Hal ini dibuktikan dengan ditunjuknya SMK-SMTI Yogyakarta sebagai perakit Gadjah Mada Electronic Nose (Ge-Nose) Covid-19 yang merupakan sebuah alat tes diagnostik cepat berbasis kecerdasan buatan, untuk mendeteksi Covid-19 melalui embusan napas. Dengan perakitan itu, murid secara langsung telah terlibat dalam iklim dunia industri dan mempunyai bekal yang cukup untuk bekerja di dunia industri. "Hanya tinggal yang nomor tiga ini yang belum optimal artinya masih terus dalam proses penyempurnaan. Ini juga pekerjaan saya yang harus saya penuhi di periode kedua," ucap dia.

Menurut Ening, penyelesaian sistem teknologi informasi sekolah yang terintegrasi dalam satu sistem kian penting saat ini. Sebab, di era sekarang dunia global telah masuk ke tahap Revolusi Industri 4.0 dan sistem berbasis IoT. Di sisi lain, status sekolah yang merupakan lembaga pendidikan yang fokus mencetak lulusan siap kerja di dunia industri tentu harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya, Ening menilai sudah seharusnya semua lini pendidikan sekolah terjun ke dalam sistem tersebut.

Tantangan Lain

Di masa pandemi, dunia pendidikan juga tak lepas terdampak. Hal ini yang menurut Ening jadi tantangan lain. Pembatasan jumlah kelas dan murid membuat sekolah harus menghadirkan layanan belajar yang inovatif karena hampir 80% pelajaran berbasis pada praktik.

SMK-SMTI Yogyakarta lantas menjatuhkan pilihan pada kelas terbatas dan menerapkan protokol kesehatan ketat agar kompetensi murid tetap terjaga. Pada mata pelajaran yang sekiranya mampu digelar daring dilakukan lewat daring, sementara untuk praktik yang tidak mungkin dilakukan daring, murid dihadirkan di sekolah dengan pembatasan. (ADV)