Mahasiswa Kriya Banyak Diminati untuk Bantu Inovasi Perajin UMKM

Sejumlah narasumber dalam Festival Kriya Indonesia atau Fastkrina1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja pada Selasa (16/11/2021). - Ist.
16 November 2021 23:37 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Ratusan mahasiswa Seni Kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Festival Kriya Indonesia atau Fastkrina#1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Kegiatan yang digelar secara luring dan daring pada Senin (16/11/2021) hingga Selasa (17/11/2021) itu mensolidkan mahasiswa dan Prodi Seni Kriya di Indonesia demi menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Fastkrina#1 yang baru pertama kali digelar ini mengangkat tema Kriya Nusantara: Kriyatif – Inspiratif dengan tiga agenda penting yaitu Kongres Mahasiswa Kriya seIndonesia, Pameran Kriya Nusantara oleh mahasiswa Kriya seluruh Indonesia dan Fashion Show karya mahasiswa Kriya.

BACA JUGA : Pameran Kriya Awards Kenalkan Seni Kriya Lebih Luas

Ketua Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa ISI Jogja Alvi Lufian menjelaskan melalui Fastkrina#1 diharapkan mahasiswa Kriya semakin memberikan inspirasi ke masyarakat lewat berbagai karya kriya. Mengingat para mahasiswa mampu mengembangkan berbagai inovasi karya seni kriya untuk membantu perajin maupun UMKM.

“Di ISI Jogja kan ada kegiatan mahasiswa terjun ke lapangan sejenis KKN, Kriya yang paling diminta masyarakat karena kreativitasnya seperti melakukan inovasi batik. Karena mereka berasal dari berbagai daerah dengan model batik kearifan lokal masing-masing,” katanya.

Ia menambahkan ilmu yang dimiliki mahasiswa lebih aplikatif dan kerap terpakai di masyarakat seperti halnya di ISI Jogja melalui program Wira Desa, sinergi dengan UMKM atau perajin. “Biasanya ada perajin yang minim inovasi karena dia harus produksi massal, kemudian mahasiswa kriya ini membantu inovasi desain, diversifikasi produk, ini sangat diminati masyarakat,” ucapnya.

Oleh karena itu dalam kegiatan festival itu menghadirkan narasumber yang terdiri dari kalangan akademisi, entrepreneur dan praktisi yang memiliki banyak pengalaman mengelola bisnis di bidang kriya. Sehingga para mahasiswa kriya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bisa memperdalam kemampuan dan saling berbagi pengetahuan.

Timbul Raharjo Dekan FSR ISI Jogja yang juga owner PT. Timboel dalam kesempatan itu memotivasi mahasiswa agar jangan sekali-kali melakukan plagiat karya seni. Selain itu dalam membuat karya jangan sebaiknya dihindari berfikir untung dan rugi meskipun hal itu menjadi faktor penting dalam berbisnis. Tetapi menghasilkan karya lebih dahulu harus dikedepankan.

“Dalam berbagai kegiatan saya pameran di luar negeri, saya tidak pernah berfikir untuk menjiplak karya dari luar negeri lalu saya bawa ke sini, tetapi lebih sekedar membandingkan,” katanya.

BACA JUGA : MKF 2020, Cara Seniman Kriya Berpesta saat Pandemi

Adapun terkait kongres mahasiswa kriya Alvi Lufian menambahkan diikuti mahasiswa kriya seluruh Indonesia. Sejumlah kampus yang dekat dengan Jogja ada yang mengirimkan delegasi mahasiswa. Namun yang jauh lebih banyak mengikuti secara daring.

“Selain itu ada rakor pembentukan Asosiasi Prodi, mengingat keberadaan asosiasi sebuah prodi itu amat penting, utamanya terkait dengan kurikulum, capaian pembelajaran dan kebutuhan dunia kerja dan atau industri atas lulusan,” ujarnya.