MKF 2020, Cara Seniman Kriya Berpesta saat Pandemi

Ketua Pelaksana MKF 2020, Rosanto Bima (tengah) menyerahkan hadiah kepada salah satu pemenang MKF 2020, Senin (23/11/2020). - Istimewa
24 November 2020 17:27 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan gairah seniman berkarya dalam kompetisi Matra Kriya Fest (MKF) 2020.

Ratusan karya yang masuk mewakili berbagai daerah di Indonesia dan memiliki banyak variasi ragam kesenian. Mereka mengusung banyak hal, mulai dari isu terkini hingga lokalitas yang kental.

Setelah sukses menjaring ratusan karya perupa muda dari seluruh Indonesia, MKF 2020 resmi ditutup di Pendhapa Art Space, Senin (23/11/2020). Pameran yang telah berlangsung dari tanggal 14-23 November 2020 ini ditutup dengan penampilan tari dari Onya Adat dan Cresensia Naibaho.

Selain pameran, MKF 2020 juga menghadirkan bazar dari industri kreatif yang dikelola anak-anak muda, performing art, lokakarya, kriyaventura, fashion show, diskusi seni, serta talkshow. Semua kegiatan tersebut bisa dilihat pada kanal Youtube tasteofjogja disbud diy.

Salah satu kurator MKF 2020, Musyaffa menjelaskan unsur-unsur terutama komposisi juga nilai fungsi pada karya sangat dipertimbangkan. “Apa yang dipahami dari kriya selama ini semisal material, keterampilan kerja tangan, fungsi, serta nilai seni yang berhubungan dengan ekspresi, jadi dasar penilaian,” ucap dia melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (24/11/2020).

MKF 2020, kata dia, menginginkan adanya kepaduan antara material dan ekspresi. Sejauh mana komposisi yang digunakan, manfaat/ kegunaan, serta kesatuan. Dari hal tersebutlah keempat kategori juara terpilih dinilai. “Dalam konteks kriya itu sendiri, apa yang menjadikan karya menarik dan keselarasan konsep yang diutarakan dengan tema Nusantara in Slice menjadi penting. Karya yang dibuat berangkat dari kesadaran seniman dalam berkarya dan pemahaman mereka atas apa yang mereka pilih dan buat,” kata Musyaffa.

Karya Terbaik

Dari total 40 karya yang dipamerkan, disaring menjadi 12 nominasi yang memperebutkan empat kategori yaitu, karya terbaik, karya inovasi dan kreasi terbaik, karya local content terbaik, serta juara favorit.

Pemenang karya terbaik yaitu Adek Dimas Ajisaka dengan karya Gunungan Nusantara. Karyanya mengambil konsep gunungan dalam pagelaran wayang kulit yang merepresentasi tatanan kehidupan yang merupakan simbol keanekaragaman yang menyatu harmonis dalam ruang kehidupan.

Untuk kategori karya local content terbaik, Friendly For Disaster bikinan Thoha Amri Abdillah menjadi jawaranya. Karya ini merekam Nusantara yang menjadi jalur cincin api dunia. Ketangguhan dan sikap sabar masyarakat menghadapi bencana seperti tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus, ia tuangkan lewat ukiran kayu dengan sentuhan warna dan goresan tumbuh-tumbuhan yang kental nuansa tradisional.

“Saya menyusun dan mematangkan konsep dan merealisasikannya dalam bentuk karya. Kriya menurutku sebagai akar dan dasar seni rupa nusantara, seni yang paling dekat dengan masyarakat secara kultur,” ucap Thoha.

Sementara untuk kategori karya inovasi dan kreasi terbaik; serta karya terfavori, masing-masing disematkan pada Ngadu Jago Marang Bopo karya Stefanus Bintang Kumara dan Wayang Papua Merek KK. Lejar karya Lejar Daniartana Hukubun. “Semoga dari acara ini bisa muncul karya fenomenal dan bisa menjadi kompetisi kriya tingkat internasional yang membanggakan bagi Indonesia dan DIY,” ucap Ketua Pelaksana MKF 2020, Rosanto Bima.