Musim Hujan Baru Sebentar, Warga Kedungwanglu Gunungkidul Sudah Terisolasi 4 Kali

Warga Kedungwanglu, Gunungkidul, saat melintas di jembatan crossway yang membentang di Kali Prambutan, Senin (22/11/2021). - Istimewa
23 November 2021 06:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Saat musim hujan, ratusan warga di lima rukun tetangga (RT) di Padukuhan Kedungwanglu, Banyusoco, Playen, Gunungkidul, selalu waswas karena wilayah tempat tinggal mereka terisolasi. Jembatan yang menjadi penghubung dengan wilayah lain seringkali terendam air.

Kedungwanglu bersebelahan dengan Dusun Selopamioro, Sriharjo, Bantul. Padukuhan ini terpencil karena dikelilingi Sungai Prambutan dan Oya.

BACA JUGA: Uang Ganti Rugi Tak Cukup Beli Rumah Baru, Warga Terdampak Tol Jogja-Solo Menggugat di Pengadilan

Sungai Prambutan mengalir dari sisi timur dan membelah Kedungwanglu menjadi dua bagian. Alirannya bermuara di Kali Oya yang berada di barat padukuhan.

Kedungwanglu memiliki delapan RT. Di timur Sungai Prambutan ada tiga RT, yakni RT 1,2 dan 8, sedangkan di barat sungai ada RT 3,4,5,6 dan 7.

Akses ke Kedungwanglu adalah jalan beraspal dan cor blok. Jarak antara dusun dengan Balai Kalurahan Banyusoco sekitar dua kilometer. Di jalan masuk dusun, terdapat gapura selamat datang berwarna hijau. Tepat di depan gapura, sebuah jembatan permanen melintasi aliran Sungai Prambutan.

Di aliran kali ini masih ada dua jembatan kecil, berbentuk crossway yang menjadi penghubung antarwilayah yang terpisah karena alur sungai. Kedua jembatan itu kerap terendam air, khususnya pada saat musim hujan seperti sekarang ini.

Hujan deras akan mengakibatkan aliran sungai menggenangi jembatan sehingga warga yang sudah berada di Kedungwanglu tak bisa keluar dusun, sebaliknya warga dusun setempat yang sedang bepergian tak bisa pulang.

Di awal musim hujan ini, dua jembatan sudah terendam empat kali. Empat kali pula warga terisolasi. Jembatan crossway terakhir terendam pada Jumat (19/11/2021). Bekas lumpur akibat banjir masih terlihat di timur jembatan sampai sekarang.

“Ini sudah berlangsung lama. Pada saat hujan deras warga waswas tidak bisa beraktivitas karena akses menuju wilayah lain terputus,” kata Fauzi, warga Kedungwanglu, Senin (22/11/2021).

Saat terisolasi, warga hanya beraktivitas di sekitar rumah. “Makan seadanya dan tidak ada masalah karena di kampung apa saja bisa dikonsumsi,” ujarnya.

Dukuh Kedungwanglu, Burhan Tholib, mengatakan, di wilayahnya ada delapan RT. Lima RT rawan terisolasi saat musim hujan. Air Kali Prambutan meluap karena muara sungai adalah tempuran  dengan Kali Oya sehingga alirannya tidak bisa lancar.

“Saat musim hujan sering banjir dan warga di RT 3,4,5,6 dan 7 tidak bisa beraktivitas. Jembatan crossway terendam air,” kata Burhan saat ditemui di Balai Kalurahan Banyusoco, Senin.

Dalam satu bulan, bisa sepuluh kali crossway terendam. Di awal musim hujan tahun ini saja, sudah empat kali warga di lima RT tersisolasi

“Kondisi ini sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu,” ucap dia.

BACA JUGA: Pendaftaran Asuransi Pertanian Ditutup, Satu Pun Tak Ada Petani Gunungkidul Berminat

Lurah Banyusoco, Damanhuri, mengatakan Padukuhan Kedungwanglu berada di daerah aliran sungai sehingga selalu terancam banjir. “Air dari Playen, Paliyan dan Wonosari masuk ke Kali Prambutan.”

Akses warga di lima RT di Kedungwanglu hanya berupa dua jembatan karena wilayah tersebut dikelilingi perbukitan.

“Warga di sana [Kedungwanglu] sudah paham dengan kondisi ini. Saat hujan, warga terisolasi selama dua hari,” katanya.

Penduduk di tiga RT lainnya yang tidak terisolasi juga ikut kena getah. Sebab, sekolah hingga tempat ibadah berada barat Sungai Prambutan. Saat jembatan terendam banjir, anak-anak juga tidak sekolah. “Paling parah terjadi di 2017 lalu saat ada Badai Cempaka,” ujar Damanhuri.