Dewi Peri Ubah Desa Miskin Jadi Berprestasi

Dewi Peri membuka destinasi Pasar Jadul Dureng (duwur pereng) yang dibuka setiap Minggu. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
11 Desember 2021 14:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri) merupakan salah satu simbol kebangkitan perekonomian di masa pandemi Covid-19. Inovasi yang dilakukan desa ini menghantarkan pada berbagai penghargaan. Tahun depan, Dewi Peri mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN Sustainable Tourism Award 2022. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Lokasi Dewi Peri berada di kawasan lereng Gunung Merapi, yakni di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman. Dewi Peri berjarak 12,5 km dari puncak Merapi.

Berada di ketinggian 700 m dpl, Dewi Peri memiliki segudang atraksi wisata dengan nuansa pedesaan yang asri. Kekayaan alam inilah yang menjadi salah satu daya tariknya. Dewi Peri menawarkan konsep tinggal bersama masyarakat atau live-in di homestay milik warga. Selain melakukan aktivitas outbound, wisatawan juga bisa menikmati seni, budaya, produk kerajinan Dewi Peri bahkan ikut mempelajarinya.

Sejak awal pandemi Covid-19, Dewi Peri sudah menerapkan protokol kesehatan ketat kepada pengelola, pengunjung, maupun warga setempat. Dewi Peri juga membuka destinasi Pasar Jadul Dureng (Duwur Pereng) yang dibuka setiap Minggu. Pasar ini dilengkapi dengan 14 gubuk produk kuliner yang dihasilkan oleh warga. Tamu yang masuk diberi koin bambu sebagai alat bayar. "Koin itu ada nilai rupiahnya. Setiap tamu kami kasih koin senilai Rp15.000," kata Ketua Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Dua pekan lalu, Pasar Jadul Dureng menghasilkan Rp2 juta dan pekan kedua naik Rp2,3 juta. "Ya walaupun nilainya kecil, tapi semangat warga juga tinggi. Setidaknya rata-rata penghasilannya Rp200.000. Mereka bikin pisang rebus, gorengan dan lainnya. Untungnya bisa 100 persen," ujar Doto.

Adaptasi dan inovasi yang terus dilakukan pun menjadikan Dewi Pari mampu bekembang meskipun ada pandemi. Eksistensinya pun menghantarkan Dewi Peri pun dengan sejumlah penghargaan baik di tingkat nasional hingga internasional. "Tahun depan, Dewi Peri mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN Sustainable Tourism Award 2022," katanya.

Mengangkat tema Desa Wisata Alam, Budaya dan Pertanian yang Berwawasan Lingkungan, Dewi Peri menawarkan kegiatan wisata pengalaman bagi pengunjungnya. Mereka diberikan pengalaman, pembelajaran hingga berinteraksi tentang alam, pertanian, perkebunan, wirausaha, kehidupan sosial budaya, aneka seni tradisi dan kearifan lokal yang masih mengakar kuat di masyarakat.

"Tentu dengan suasana khas pedesaan di lereng Gunung Merapi. Inilah yang menjadi daya tarik kami. Sebab kami tidak memiliki destinasi wisata hanya kehidupan desa yang ditawarkan," ujarnya.

Dulu, dusun ini termasuk salah satu dusun miskin di antara desa-desa yang ada di lereng Merapi. Kondisi geografis dusun juga cukup terpencil dengan akses terbatas.

Namun, kata Doto, warga rupanya memiliki semangat gotong royong dalam merawat alam, lingkungan hidup dan kearifan lokal. "Sampai saat ini modal sosial itu tetap terjaga dengan baik," katanya.

Dengan berbagai keterbatasan dan hanya bermodal semangat dan dukungan berbagai pihak, warga pun mulai mengembangkan desa wisata sejak 2008 lalu. Pada awal dikembangkan hanya terdapat 5 homestay dan lapangan seadanya sebagai tempat kemah dan out bond. "Saat itu jumlah tamu yang berkunjung belum mencapai 1.000 orang," lanjutnya.

Pada 2009, Dewi Peri mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak. Dengan program tersebut maka tamu yang berkunjung mulai meningkat signifikan dan mencapai 5.000 orang. Kemudian Dewi Peri mendapatkan program dan bantuan dan sudah memiliki 30 homestay, beraneka atraksi pertanian, seni budaya dan kuliner serta pelayanan yang mulai tertata baik.

Pada 2010 target pengembangan desa wisata kurang berhasil karena saat itu terjadi erupsi Gunung Merapi. "Kami memerlukan waktu lebih dari 6 bulan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan wisatawan bahwa desa wisata akan dapat berkembang lagi," kata Doto.

Setelah itu kunjungan wisatawan meningkat mencapai 20.000 orang, dan pada 2012 bertambah menjadi 25.000 orang per tahun.

Pada 2014, Dewi Peri dinilai mampu memberdayakan sebagian besar (sekitar 70%) anggota masyarakat. "Kami juga mampu memanfaatkan lahan kas desa yang telantar menjadi area camping dan out bond seluas satu hektare serta daerah aliran sungai [DAS] Kali Kuning menjadi area petualangan/tracking yang menarik bagi tamu," katanya.

Kunjungan Wisatawan

Jumlah kunjungan dan pendapatan yang meningkat juga menyebabkan adanya potensi konflik di antara masyarakat. Misalnya adanya rasa cemburu di antara mereka dalam hal partisipasi dan penyebaran pendapatan. Doto pun mulai berkenalan dengan program CSR bekerja sama dengan Bakti BCA serta pendampingan dari berbagai perguruan tinggi.

Setelah mendapatkan pendampingan, bantuan pengembangan SDM dan fasilitas pariwisata dari berbagai pihak, lanjut Doto, tingkat kunjungan wisatawan sudah stabil pada jumlah sekitar 25.000 orang per tahun dan pendapatan rata-rata mencapai Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulan.  "Sebelum pandemi Covid-19 pendapatan kami bisa mencapai Rp2,5 miliar pertahun. Saat ini kami kembali berbenah dan bangkit. Tamu mulai banyak," jelas Doto.

Dewi Peri, ujar Doto merupakan desa wisata yang lahir dengan kesederhanaan khas masyarakat desa. Dewi Peri bukan destinasi wisata yang lahir di desa. Dewi Peri memberikan pengalaman bagi wisatawan untuk benar-benar hidup di desa, berinteraksi dengan masyarakat, kekayaan alam dan berinteraksi dengan seni dan budaya masyarakat.

"Makanya program kami live in, tinggal di desa. Kami menjual desa tanpa kehilangan desanya," katanya.

Kepala Dinas Periwisata (Dispa) Sleman Suparmono mengatakan lembaganya terus mendampingi desa wisata. Bentuk pendampingan yang dilakukan di antaranya melalui kegiatan seperti pelatihan/bimtek untuk SDM pengelola. Baik kegiatan tersebut bersumber dari anggaran APBD maupun DAK (Dana Alokasi Khusus).

Selain itu, lanjutnya, Dispar juga terus melakukan promosi. "Sarana prasarana fisik kami fasilitasi baik dari Pemkab, Pemda DIY, kementrian maupun pihak lainnya," katanya.

Berdasarkan data Dispar, lanjut Suparmono, Desa wisata di Sleman yang masuk klasifikasi Mandiri terdapat 12 desa wisata. Klasifikasi Berkembang 10 desa wisata dan Tumbuh sebanyak 20 desa wisata. "Kegiatan klasifikasi ini kami laksanakan dua tahun sekali untuk melihat dan mengevaluasi kondisi desa wisata," katanya.