DBD di Gunungkidul Turun saat Kemarau, Warga Tetap Diminta Siaga
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Sebuah mobil melintas di jalan yang belum beraspal di wilayah Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus belum lama ini./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Ratusan kilometer jalan di Gunungkidul rusak. Total kerusakan sepanjang 929,1 kilometer.
Total ruas jalan di Gunungkidul sepanjang 1.136,66 kilometer. Menurut data Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul jalan yang benar-benar dalam kondisi baik sepanjang 207,56 kilometer. Sedangkan sisanya sepanjang 929,1 kilometer kondisinya sedang, rusak ringan hingga rusak berat.
Kepala Bidang Bina Marga, DPUPRKP Gunungkidul, Wadiyana mengatakan infrastruktur jalan di Gunungkidul belum sepenuhnya bagus. Pasalnya, masih ada jalan yang kondisinya rusak dengan panjang mencapai ratusan kilometer.
Dia menjelaskan, berdasarkan pendataan di pertengahan tahun ini, kondisi jalan yang baik di Gunungkidul mencapai 207,56 kilometer. Jumlah itu baru mencapai 18,26% dari total ruas jalan kabupaten yang panjangnya mencapai 1.136,66 kilometer.
Adapun jalan rusak di Gunungkidul tercatat dalam dua kategori. Kondisi rusak ringan dengan panjang mencapai 147,969 kilometer. Sedangkan jalan dengan kondisi rusak berat panjangnya 299,5 kilometer.
“Selain itu ada jalan dalam kondisi sedang yang panjangnya mencapai 481,63 kilometer,” kata Yana, sapaan akrabnya kepada wartawan, Kamis (16/12/2021).
Menurut dia, upaya perbaikan jalan terus dilakukan. Meski demikian, prosesnya tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. “Memang harus bertahap dan untuk perbaikan juga meminta bantuan dari Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus,” katanya.
Disinggung mengenai dampak dari pandemi Covid-19, Yana mengakui program perbaikan ikut terkena imbasnya karena alokasi banyak dipindahkan untuk penanggulangan virus ini. “Memang ada tetapi programnya tidak banyak. Untuk perbaikan tahun ini ada di ruas Tambakromo-Semin; Nglebak-Jatiayu. Selain itu, ada juga normalisasi tanjakan Bundelan di Kapanewon Ngawen yang menjadi satu paket dengan perbaikan jalan Watugajah-Sampang,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul, Anwarudin ikut menyoroti kondisi jalan di Gunungkidul. Pasalnya, kerusakan tidak hanya terjadi di jalan kabupaten karena jalan desa juga masih banyak yang rusak sehingga saat diakumulasikan ruasnya bisa lebih panjang lagi.
Menurut dia, kerusakan ini harus menjadi perhatian karena jalan sebagai akses penting guna menunjang pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya upaya perbaikan harus dilakukan meski dilaksanakan secara bertahap.
“Untuk jalan desa memang bukan kewenangan Pemkab, tapi perbaikan bisa dilaksanakan dengan program pokok-pokok pikiran Dewan. Selain itu, ada juga akses belanja langsung untuk perbaikan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Pria asal Sleman tewas tertemper KRL di Klaten. Polisi selidiki penyebab, KAI imbau warga jauhi jalur kereta.
Inflasi Juni 2026 capai 3,34%. Menkeu sebut dipicu BBM dan pangan, diprediksi segera mereda karena faktor musiman.
Pemerintah resmi terapkan B50 mulai 1 Juli 2026. Pakar ITB sebut aman untuk mesin diesel, emisi lebih rendah.
Daftar agenda Jogja Juli 2026: IFBC, festival layangan, geopark night, INACRAFT hingga scooter parade. Gratis dan seru!